My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Surprise


__ADS_3

Ami berdiri termenung di balkon kamar milik Nathan, ingatnya kembali di saat mereka bersama saat di meja makan entah mengapa ada sesuatu yang dia rasakan di hatinya, rasa yang tidak bisa dia gambarkan.


Nathan memang tampan dan berkharisma, tidak sulit untuk menyukai pria seperti Nathan. Tapi semua kembali saat dimana dirinya diberikan surat perjanjian yang sudah mereka sepakati, dan mulai saat itu Ami membuang jauh-jauh pikiranya untuk mencoba belajar apa itu namanya cinta, karena memang Ami masih buta soal urusan cinta.


Jam menunjukan hampir dua belas malam kurang lima menit Ami masih belum bisa memejamkan matanya, apalagi berada di dalam kamar suaminya yang dia sendiri tidak tahu dimana orangnya.


Setelah makan malam dan bercengkrama, Ami lebih dulu diantar Aileen masuk ke dalam kamar, karena dirinya tidak boleh pulang dan harus menginap, termasuk bundanya yang juga menginap, dan Ami hanya pasrah ketika melirik Nathan dan pria itu mengangguk kecil untuk memberikan kode.


Mereka tidak banyak bicara saat berkumpul, hanya saja sepertinya Nathan sengaja menggunakan kesempatan untuk mendekati dirinya, mulai dari menyentuh tangan dan merangkul bahunya. Ami bergeridik membayangkan hal tadi, meskipun sudah di sepakati itu hanya sebuah akting semata.


Brak


Ami tersentak kaget ketika mendengar suara keras didepan pintu kamar suaminya. Berjalan untuk melihat apa yang terjadi Ami membuka pintu.


"Tidak ada apa-apa," Ucapnya yang tidak melihat siapa-siapa, tapi ketika ingin berbalik Ami menginjak sesuatu. "Kertas apa ini." Ami mengambil kertas yang terlipat di lantai dan membukanya.


"Keluar, dan pergilah ke taman belakang." Gumam Ami membaca isi tulisan di kertas itu. Dengan perlahan Ami berjalan menuruni tangga untuk melihat ada apa di sana, kenapa juga harus ada surat.


"Kok gelap." Ami membuka pintu pembatas yang terbuat dari kaca untuk mendekati taman, gadis itu perlahan melangkahkan kakinya menuju kesana dan detik berikutnya lampu menyala terang membuatnya menutup mata.


"Happy birthday you.."


"Happy birthday to you.."

__ADS_1


Suara nyanyian selamat ulang tahun membuat Ami membuka kedua matanya, dia melihat keluarga suaminya berkumpul dengan tersenyum, apalagi melihat bundanya yang juga tersenyum lebar, bibir Ami sedikit melengkung melihat mereka tersenyum dengan menyanyikan lagu untuknya. Kue beserta lilin dengan angka tujuh belas di pegang oleh bundanya.


Ami mendapat surprise.


Bunda Raya lebih dulu mwndekat, dan menyodorkan kuenya untuk meniup lilin. "Tiup lilinnya sayang, berdoalah." Ucap bunda raya dengan wajah terharu, melihat putrinya yang sudah semakin beranjak dewasa.


Ami tersenyum, lalu memejamkan matanya, "Tuhan semoga kau memberikan kebahagiaan dan kasih sayang kepada orang-orang yang menyayangi hamba, terima kasih engkau sudah hadirkan mereka di kehidupan hamba.."


Fyuhhh..


"Selamat ulang tahun sayang, semoga selalu bahagia." Bunda Raya mencium kening Ami dan memeluk putrinya erat, dengan mata berkaca-kaca.


Allan, Indira dan Aileen tersenyum haru melihat dua orang ibu dan anak yang sedang tertawa tapi mengeluarkan air mata.


"Terima kasih mah," Hanya itu yang bisa Indira ucapkan.


Disusul dengan Allan dan Aileen, Ami tersenyum lebar ketika semua melihatnya dengan bahagia, sejak tadi Ami mengedarkan pandangannya, dirinya mencari seseorang yang tidak ada di sana.


'Apa yang kamu harapkan dari dia Ami,' Ucapnya dalam hati merasa ada sesuatu yang membuat dada sesak, entah apa.


"Sayang, kamu mencari apa?" Tanya Indira karena melihat Ami seperti mencari sesuatu.


"Em, tidak mah, tidak apa-apa." Ami tersenyum kikuk, bibirnya sejak tadi sudah gatal ingin menanyakan dimana Nathan. Tapi Ami sebisa mungkin menahannya. Padahal wajar kan jika bertanya?

__ADS_1


"Apa kamu mengharapkan seseorang hadir dan memberimu selamat dengan membawa hadiah?" Tanya Indira menatap wajah Ami intens.


"Maksud mama apa, aku tidak_" Wajah Ami sedikit panik mendapati pertanyaan seperti itu.


"Lihatlah mungkin dia orang yang kamu cari." Indira memotong ucapan Ami, dan berbalik kebelakang.


Ami menatap tak percaya, melihat Nathan berdiri dengan senyum, dan membawa buket bunga. Pria itu maju untuk mendekatinya.


"Selamat ulang tahun istriku." Nathan menyodorkan buket bunga yang di pegang, tak lupa bibirnya melengkungkan senyum yang mampu membuat Ami sesak napas, batu kali ini Ami melihat senyum Nathan yang mampu membuatnya tak bisa berpaling.


"Ye,, tadi nyariin, sekarang di kasih bunga malah bengong." Aileen menyenggol lengan Ami agar gadis itu tersadar.


"Eh,.em." Ami merasa kaku, dirinya salting.


"Em, terimalah." Nathan kembali menyodorkan bunganya.


Tangan Ami ragu, wajahnya tak mampu kembali menatap wajah Nathan, dirinya merasa malu.


"Kemarilah.." Nathan merentangkan satu tangannya, dan Ami yang bingung hanya menurut, dirinya berpikir mungkin ini sebagian dari sandiwara mereka.


Nathan memeluk tubuh Ami, ketika gadis itu sudah mendekatinya, sedang-kan Ami hanya diam mematung, ini kali pertama dirinya dipeluk oleh seorang pria dan pria itu adalah suaminya.


"Semoga bahagia selalu." Bisik Nathan ditelinga Ami, dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2