
"Apa Adam tidak pulang By." Tanya Ami yang tidak melihat Adam putranya dirumah, padahal ini hari weekend.
"Dia sedang mengerjakan proyek bersama tim-nya." Jawab Nathan sambil menerima piring berisi makanan dari sang istri.
"Kenapa kamu begitu banyak memberinya pekerjaan, dia masih remaja dan sekolah, waktunya sudah habis untuk bekerja." Keluh Ami yang melihat putranya kasihan.
"Dia yang meminta sayang, sepertinya jiwa ku saat muda tertukar ditubuhnya sekarang." Ucap Nathan terkekeh.
"Om, dari mana tadi?" Tanya Hawa sambil berbisik, keduanya duduk berdampingan di meja makan yang sama.
Mario yang ingin mengambil lauk ikan pun tidak sampai, Hawa yang mengerti pun berdiri mengambilkannya.
"Kekamar kecil, memangnya kenapa?" Tanya Mario sambil tersenyum. "Terima kasih." Setelah Hawa menaruh ikan goreng di atas piringnya.
"Aku pikir Om pergi karena dimarahi papa." Hawa melirik papanya yang juga sedang menatapnya. Buru-buru Hawa menuduk menghindari tatapan Nathan yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Kenapa harus pergi, jika dirumah ini orang yang aku pertahankan tinggal."
Hawa tidak bisa menyembunyikan semburan merah dipipinya, dirinya benar-benar di buat klepek-klepek dengan pria panggilan Om-om itu.
Ehem
Nathan berdehem keras, melihat Hawa dan Mario saling mengobrol berbisik, dirinya merasa kesal.
"Dih, kayak ABG lagi cemburu." Ucap Ami melirik suaminya sinis.
__ADS_1
"Hati-hati Om." Hawa berdiri disamping mobil taksi yang Mario pesan untuknya mengantar pulang, karena memang Mario tidak membawa mobil.
"Baiklah, aku pulang. jangan lupa istirahat." Ucap Mario.
Hawa hanya tersenyum dan mengaguk, "Om juga."
Mario tersenyum, semenjak dekat dengan Hawa dirinya sering tersenyum.
"Bye Dedek Emes." Ucapan Mario sontak membuat mulut Hawa menggangga.
.
.
"Dimana Mama dan papa bik?" Tanya Mario.
"Tuan diruang kerja den, nyonya ada kamar. Dan den Mike baru saja pergi."
Mario mengerutkan keningnya, "Sudah sampai pulang?" Tanya Mario yang sedikit heran.
"Iya den, belum lama. Setelah itu pergi lagi."
Mario hanya mengangguk, karena merasa gerah Mario memutuskan untuk menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Mike menghentikan mobilnya didepan rumah keluarga Adhitama. Dirinya berjalan menuju pintu besar dan menekan bel rumah yang ada disamping pintu.
__ADS_1
"Den Mike." Ucap mbok Nah yang membukakan pintu.
"Lika nya ada bik?"
"Ada den, silahkan masuk."
Mike mengaguk dan mengikuti mbok Nah. "Duduk dulu den, biar bibik panggil non Lika dulu."
"Makasih bik."
Mike duduk disofa ruang tamu menunggu Lika, entah mengapa jantung nya berdebar tak karuan Mike merasa takut bagaimana jika Hawa tahu apa yang sudah dia perbuat dibelakangnya.
"Kak." Hawa muncul dari belakang Mike, membuat Mike langsung berdiri, dan tersenyum menatap melihat Hawa.
"Lika." Mike langsung menghampiri Hawa dan memeluknya. "Maafin aku Lika, maaf." Ucap Mike dengan suara parau, dirinya sungguh menyesal dengan apa yang terjadi, apalagi melihat video yang sudah sampai di tangan kedua orang tuanya, Mike merasa takut jika Hawa juga mengetahui hal itu.
"Untuk apa kak." Jawab Hawa tanpa membalas pelukan Mike.
Mike melonggarkan pelukannya, ditatapnya wajah Hawa yang memang sangat cantik hingga membuatnya sering kali cemburu ketika Hawa digoda pria ataupun sedang bicara dengan pria lain.
"Untuk_
"Untuk apa kau datang kemari!"
Suara bariton dari arah tangga membuat keduanya menoleh, Mike menelan ludah kasar melihat aura wajah Nathan yang menyeramkan.
__ADS_1