My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kakek Sugiono2


__ADS_3

Seperti yang Nathan katakan, setelah selesai membeli perlengkapan untuk di bawa ke rumah kumuh pinggiran kota. Ami mendatangi kantor Nathan dua kali yang sudah berstatus menjadi istrinya.


Jika dulu dia datang untuk bekerja, sekarang dia datang untuk memenuhi panggilan suaminya.


Membawa barang belanjaannya ke kantor, Ami menitipkannya pada pak satpam yang berjaga, karena jika dibawa akan terasa pegal tangannya, Karena berat.


Ting


Satu pesan masuk, membuat Ami membukanya.


"Langsung naik ke lantai sembilan.."


Pesan dari Nathan membuat Ami menghela napas.


Sepertinya setelah bertemu dirinya akan memaki pria tua mesum itu.


Rambut yang tadinya dia ikat, kini harus tergerai disiang bolong, apalagi Ami tidak tahan dengan panas. Karena ulah Nathan yang memberi jejak pada lehernya tadi malam, membuat Ami di bully Olive terus menerus, dan membuatnya kesal.


"Eh, dek mau kemana?" Resepsionis wanita yang pernah mencegat Ami kembali berulah.


Ami menatap wanita itu dengan kening berkerut.


"Mau ketemu Om gue, kenapa?" Tanya Ami dengan ketus. Dirinya yang sudah di buat kesal sama Olive kini melampiaskannya pada sekertaris itu.


"Apa sudah membuat janji?" Tanya wanita itu lagi, ketika melihat wajah gadis berseragam sekolah kemarin, karena kantor Adhitama Grub tidak sembarang orang masuk kecuali sudah ada janji.


"Janji terus, kencan aja gak pake bikin janji. Perasaan dari kemaren mbak tuh susah banget ya ngijin saya lewat." Ami menatap wanita itu kesal.


"Loh, saya bekerja sesuai prosedur dong, kalau adek belum ada janji, ya jangan datang ke sini, cari om-om kok disini." Sinis wanita itu menatap Ami remeh.

__ADS_1


"Dih, belum tau dia siapa om yang gue cari." Ami menatap remeh wanita itu, dan tersenyum menyeringai.


Mengambil ponselnya Ami menekan nomor yang bisa menutup mulut wanita itu.


"Om, masa aku gak boleh masuk karena belum ada janji, lagian kenapa ribet banget sih cuma mau masuk aja, mendingan aku pulang deh." Keluh Ami pada orang di seberang sana, dengan menatap wanita didepanya remeh.


"Oke aku tunggu." Setelah itu Ami masukkan ponselnya kembali.


Melirik resepsionis itu sinis, Ami berdiri mondar-mandir didepan meja resepsionis.


"Kalau mau jadi strikaan jagan disini, ganggu tau." Resepsionis itu kembali bicara ketus. Membuat Ami melotot.


Tak lama pintu lift khusus presedir terbuka, dan Ando keluar dari sana.


"Gadis nakal." Ando berdecak melihat Ami yang mondar-mandir didepan meja resepsionis.


"Bocil." Ando memanggil Ami, membuatnya menoleh.


"Yeee, salahin aku tu si paling bener. Paket segala gak boleh masuk. Lain kali nih mbak, inget muka gue tidak boleh ditolak untuk menemui Bon anda." Setelah mengatakan itu, Ami pun melenggang pergi tanpa menunggu Ando yang menjemputnya.


Membuatnya pria itu geleng kepala. "Bisa ya si Nathan nikahin gadis biang rusuh gitu." Ando melirik wanita resepsionis tadi. "Winda lain kali jika dia yang datang, biarkan saja, jika tidak kamu yang akan dapat masalah dari si bos." Ucap Ando yang hanya mendapat anggukan dari wanita yang bernama Winda tadi.


Ami lebih dulu sampai di lantai sembilan dari pada Ando, lantai sembilan adalah dimana dia harus rela membantu pria yang jatuh kepeleset sewaktu dulu. Dan kini Ami datang lagi untuk menemui suaminya.


Brak


Mendorong pintu kasar, Ami langsung mendapat tatapan tajam dari Nathan.


"Bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk, disini bukan hutan." Ketus Nathan membuat Ami menatap Nathan tidak suka. Entah mengapa hari ini semua membuatnya kesal. Dari pagi sampai siang dia selalu dibuat kesal.

__ADS_1


"Oh, maaf kalau begitu saya permisi." Karena kesal Ami berbalik dan berniat untuk pergi.


"Mau kemana." Nathan menarik tangan Ami ketika gadis itu sudah mencapai pintu, dan merengkuh tubuh Ami dalam pelukannya.


Bukannya menjawab Ami malah diam menatap wajah Nathan yang kembali begitu dekat dengannya. Bahkan napas Nathan bisa Ami rasakan disekitar wajahnya.


"Apa tidak bisa bicara, hm." Nathan mengelus pipi Ami, membuat gadis itu tersadar.


"Ish, apaan sih minggir." Ami mendorong dada Nathan membuat Nathan mundur satu langkah.


"Kemarilah." Nathan tahu jika gadis sedang kesal, dirinya bisa melihat dari wajah gadis itu.


Nathan mendudukkan Ami di kursi kerjanya, dan dia duduk didepan Ami, tangannya bertumpu pada kedua sisi kursi. Nathan sedikit mencondongkan tubuhnya melihat wajah gadisnya.


Ami yang di tatap memalingkan wajahnya. "Jangan liatin aku seperti itu." Ucapnya tanpa melihat wajah Nathan, semburat merah sedikit terlihat di wajah gadis itu.


Nathan mengulum senyum. "Kenapa kamu kesal begitu." Nathan meraih dagu Ami, agar mau menatapnya.


Mencebikkan bibir, Ami meraih rambutnya untuk memperlihatkan lehernya.


"Lihat," Jarinya menunjukkan bercak merah. "Om udah kaya turunan kakek Sugiono tau gak." Ketus Ami tapi malah membuat Nathan tertawa.


"Apanya yang lucu, gara-gara ini Olive tidak berhenti mengejekku, gara-gara ini aku harus menggerai rambutku di siang ***_"


Cup


Sentuhan lembut benda kenyal, menyumpal mulutnya yang nyerocos, Nathan melumatt bibir tipis yang bicara tidak ada henti.


Ami pun membalas apa yang Nathan lakukan keduanya larut dalam cumbuan bibir yang begitu memabukkan.

__ADS_1


Brak


"Opss sorry."


__ADS_2