
Lima belas menit Nathan sampai di rumah sakit yang tadi di beri tahu, dirinya menanyakan pasien yang di bawa kerumah sakit sore tadi, karena mengunakan nama lengkap Ami tidak bisa digunakan, dan hanya ada nama bunda Raya di dalam daftar pasien.
Nathan berjalan cepat dengan sedikit berlari kecil untuk mencari ruangan UGD seperti yang di katakan penjaga resepsionis tadi.
Nathan melihat gadis yang dia kenal sedang dalam pelukan seorang wanita dan di kenal gadis itu, secepatnya Nathan langsung mendekati Ami.
"Ayana.." Suara Nathan menggema di lorong yang hanya ada dua orang saja, pak Teguh sedang menyelesaikan administrasi, dan kedua orang lainya sudah pulang.
Ami yang merasa di panggil mengangkat wajahnya, mata sembab dan air mata yang belum kering menghiasi wajah gadis itu.
"Om.." Ami yang langsung mendapat pelukan erat dari Nathan terkejut, pria itu mengeratkan pelukannya. "Kamu tidak apa-apa?" Nathan masih memeluk gadis kecilnya. Hatinya merasa lega melihat orang yang dia khawatirkan ternayata baik-baik saja.
"Em," Ami hanya mengangguk.
Nathan menangkup wajah gadis yang terlihat begitu kacau. "Lalu siapa yang sakit." Jemari Nathan mengusap wajah basah Ami. Tatapannya begitu intens membuat Ami sedikit mematung mendapat perlakuan lembut dari Nathan.
"Bunda, bunda mengalami kecelakaan dan sendang dioperasi." Ami kembali menangis terisak, lalu Nathan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Sttt, bunda pasti baik-baik saja." Nathan mencium kepala Ami untuk pertama kali. Dirinya merasakan gelayar kembali terasa di dadanya, dan Nathan bukan pria bodoh yang tidak tahu apa yang sedang dia rasakan.
Ami masih menangis memeluk tubuh pria yang untuk pertama kali memberikan dada nya untuk dia bersandar. "Aku takut bunda kenapa-napa." Ami tidak bisa menyembunyikan ketakutannya, dirinya tidak mau kehilangan kedua orang tuanya.
"Tidak akan, bunda pasti akan baik-baik saja." Istri pak teguh hanya diam memperhatikan dirinya tidak mengenal siapa pria yang di panggil Ami Om, karena menurutnya pria tampan itu sangat asing.
"Bu, bagaimana." Tiba-tiba pak Teguh datang, dia hanya melihat punggung Nathan yang sedang memeluk Ami, pak Teguh pikir saudara Ami.
__ADS_1
Istri pak Teguh berdiri, dan mendekati suaminya,"Belum tahu pak, dokter belum keluar." Hesti mengehela napas, dirinya juga kahawatir dan cemas.
"Dia siapa?" Tanya pak Teguh hanya mendapat gelengan kepala dari istrinya.
Mendegar ada orang yang berbicara Nathan melonggarkan pelukannya, ketika Isak tangis Ami mereda.
"Pak Nathan..!!" Teguh yang melihat wajah Nathan ketika menoleh terkejut. Ternyata pria itu adalah CEO tempatnya bekerja.
Nathan yang tidak mengenal pak Teguh hanya mengerutkan keningnya. "Maaf bapak mengenal saya." Jawab Nathan dengan tangan yang masih merangkul tubuh Ami.
"Dia pak teguh, orang baik yang sudah membayar biaya operasi bunda."
Deg
Dia sadar jika selama menikah tidak memberikan uang pada Ami, dia tidak memberikan fasilitas pada Ami, dan semua itu Nathan lakukan untuk menjaga jarak, apalagi perjanjian yang sudah dia buat adalah hasil dari pertimbangan nya selamat satu tahun kedepan untuk kebaikan Ami.
"Maaf." Ucap Nathan tanpa sadar.
"Maaf? untuk apa?" Ami menatap wajah Nathan yang terlihat seperti menyesal.
"Tidak, aku akan mengganti biaya bunda Raya, kamu tidak usah khawatir." Nathan tersenyum, senyum kecut untuk menertawakan dirinya sendiri.
"Pak Nathan mengenal nak Ami?" Tanya pak Teguh yang masih penasaran, kenapa pemilik Adhitama Grub bisa sampai mengenal Ami yang hanya gadis biasa.
"Ya, saya mengenalnya." Jawab Nathan seadaanya, karena dia tidak ingin membuat orang memanfaatkan keadaan Ami.
__ADS_1
"Saya kepala HRD di perusahaan bapak?" Pak Teguh memperkenalkan dirinya.
"Dia yang masukin aku jadi cleaning servis, meskipun pada akhirnya aku dipecat karena pegawai yang tidak tercatat atau terselubung." Ucap Ami menatap Nathan kesal, mengingat dirinya yang ketahuan oleh Nathan dan dipecat.
Nathan ingin tersenyum, tapi dia tahan.
Ehem
Nathan berdehem untuk santai, tapi berbeda dengan wajah pak Teguh yang sudah ketakutan, karena Ami membocorkan rahasia yang seharusnya tidak di bocorkan apalagi dengan bos besar perusahaan.
"Nak Ami." Pak Teguh menatap Ami dengan gelengan kepala, dia yakin setelah ini pekerjaannya menjadi taruhan.
"Memang benarkan pak? kalau bapak yang sudah memasuk-kan_ Opss" Ami menutup mulutnya ketika ingat jika dia tidak boleh membocorkan rahasia tentang pekerjaan terselubung di kantor milik Nathan.
"Heee.. jangan percaya tadi aku cuma ngarang." Ami menunjukan wajah memelas dengan menunjukan deretan gigi putihnya membetuk cengiran.
Nathan yang melihatnya menahan tawa, Ami terlihat menggemaskan.
Tak lama pintu UGD terbuka, membuat Ami bernapas lega karena bisa mengelak dari pertanyaan Nathan, dirinya segera menghampiri dokter.
"Operasinya berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritisnya, dan akan mendapatkan perawatan intensif agar pemulihannya maksimal dan cepat." Jelas dokter itu ketika Ami bertanya.
Dan mereka semua mengucap syukur, tanpa sadar Ami memeluk Nathan. "Terima kasih Tuhan," Ucapnya dengan memeluk Nathan.
"Berita membawa berkah." Gumam Nathan tersenyum, dan membalas pelukan Ami.
__ADS_1