My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kolam ikan


__ADS_3

"Bunda...!!"


"Sayang, kecilkan suaramu." Nathan memperingatkan istirnya agar tidak berteriak.


"Bunda...ayah..!!"


Bukannya berhenti Ami semakin seperti disuruh gadis itu seperti tidak mempan dengan ucapan suaminya.


"Yaa Tuhan, kuatkan kewarasan hamba dengan kelakuannya." Ucap Nathan pelan agar istrinya tidak mendengarnya.


"Sayang, kamu datang."


Bunda Raya muncul dari arah belakang, dari pintu kaca yang menghubungkan hamparan luas dengan pagar tembok yang membatasi antara rumah dan kolam ikan yang luas.


"Bunda, Ami rindu." Ami memeluk bunda Raya dari samping, gadis itu menciumi wajah bundanya yang dia rindukan.


"Emuah, emuah, emuah.."


"Haaa, geli sayang." Bunda Raya tertawa, karena Ami mencium dengan menggodanya.


"Hay, adik kakak. Opa kabar." Ami mengelus perut bundanya yang masih telihat kecil.


"Baik kakak." Jawab bunda Raya dengan menirukan suara anak kecil.


Ya, bunda Raya hamil setelah menikah dengan Mustafa tujuh bulan, dan kini bunda Raya sedang hamil tiga bulan, jadi perutnya belum seberapa terlihat.


"Adek pengen kakak buatin pepes ya.." Tanya Ami lagi yang masih mengusap perut bundanya. Dia begitu senang dengan kegiatan yang sedang dia lakukan, dan hal itu juga dilihat oleh Nathan, membuat bibirnya tersenyum.


"Iya kak, adek pengen pepes ikan Mas, di kolam ayah." Bunda Raya tersenyum ketika mengatakannya.


Ami mendongak. "Ayah punya kolam ikan Mas?" Tanya Ami pada bundanya, seingatnya ayah Mustafa hanya memelihara ikan patin, lele dan gurame di tambak ikannya, jadi dari mana ayahnya bisa memiliki kolam ikan Mas.


Bunda Raya menggaguk. "Ada sayang, itu dikolam taman belakang." Tunjuk bunda Raya ke arah belakang. "Ayo kita ambil dulu ikannya."


Bunda Raya pun menarik tangan putrinya, membawanya ke taman belakang yang memang ada kolam ikan.


"Nah itu ikanya." Bunda Raya menujuk ikan dikolam yang berwarna sedikit kuning, bentuknya saja bukan seperti ikan mas.


"Bunda, itu bukan ikan Mas." Ucap Ami yang melihat ikan itu bukan seperti ikan Mas.


"Ck, tapi bunda ingin ikan itu dipepes sayang sekarang." Bunda Raya mengusap perutnya. "Ini keinginan adik kamu."


Ami melihat ikannya saja ngeri, apalagi suruh memasaknya.

__ADS_1


"Byy," Ami menoleh pada Nathan yang berdiri dibelakangnya.


"Itu bukan sembarang ikan sayang." Ucap Nathan yang memang tahu jenis ikan yang ada dikolam mertuanya.


"Ayo sayang, ambil pakai ini." Bunda Raya sudah membawa jaring untuk menangkap ikan, dan memberikan pada putrinya.


"Bunda Ami belikan ikan Mas, dipasar ya." Rayu Ami agar bundanya mau, karena jika dia memasak ikan itu, entah apa yang akan terjadi jika ayahnya tahu.


"Tidak mau Nak, bunda tetap mau ikan itu..!" Bentak bunda Raya membuat Ami langsung diam.


Nathan hanya geleng kepala. "Sekarang kamu meraskan apa yang pernah aku rasakan, kalau menghadapi orang ngidam." Bisik Nathan ditelinga Istrinya.


Bugh


"Auwss sayang sakit." Nathan mengusap lenganya yang terkenal pukul.


Ami memukul Nathan dengan tangkai jaring yang terbuat dari kayu. "Salah siapa." Ami mendelik menatap suaminya, membuat Nathan langsung diam.


"Bunn." Ami menunjukan wajah memelas, tapi tidak dengan bundanya yang berwajah garang.


Dengan terpaksa Ami menyerok ikan-ikan itu dari kolam, dan mendapatkan empat ikan untuk dibuat pepes.


"Yeeyy, ayah pasti senang kalau kamu mau masakin bunda pepes." Ucap bunda Raya kegirangan, Ami hanya tersenyum kaku, dia juga senang melihat bundanya bahagia, tapi juga merasa miris melihat ikan kesayangan ayahnya akan menjadi menu dalam bungkusan daun pisang.


Pelayan yang mengabdi lama pada Mustafa merasa ikut bahagia melihat majikannya bisa tertawa dan kembali ceria seperti dulu, kerena sekarang ada sosok permaisuri yang mendampinginya yaitu bunda Raya.


Mereka tahu jika ikan yang mereka bersihkan adalah ikan kesayangan majikanya, tapi mereka tidak berani berkomentar karena pernah mendengar perintah Mustafa untuk memberikan apapun yang istrinya mau dirumah itu, dan kini mereka sedang mempraktekkan.


"Mbak, setelah ini apa yang kira-kira akan terjadi?" Bisik Ami pada pelayanan yang sedang bertugas membersihkan ikan.


Ami berdiri dibelakangnya dengan jarak yang tidak jauh. Sedang menyiapkan bumbu.


"Aduh non, Nyonya itu permaisuri dirumah ini. jadi kemungkinan bapak hanya akan stress dan tidak mau makan sehari semalam." Jawab pelayanan itu dengan pelan juga. Karena pelayan itu pernah mengingat kejadian lama yang menimpa ikan kesayangan majikanya mati tidak diketahui, dan Mustafa terlihat stress sampai tidak mau makan.


Ami yang membayangkan meringis sendiri, apakah nanti papanya juga akan seperti itu, atau akan marah.


Nathan duduk santai di halaman belakang dengan ponsel ditanganya, pria itu mengecek pekerjaan lewat email di temani kopi dan kue yang tadi Ami beli.


Sedangkan bunda Raya sedang berada dikamar, wanita hamil itu tadi mengeluh lelah dan ngantuk padahal tidak melakukan apa-apa.


Ami berkutat di dapur hampir satu jam, dia tidak hanya membuat menu pepes, tapi juga membuat menu lainya seperti sayur asam, dan juga sambal untuk pelengkap, ada juga bakwan jagung sebagai pendamping lauk dirinya yang tidak mungkin bisa menelan ikan yang dia ambil dari kolam tadi.


Setelah selesai memasak dan menatanya dimeja Ami mencari keberadaan suaminya yang berada dihalaman belakang, didapur hanya tinggal menyiapkan sayurnya saja, dan jika disiapkan sekarang akan dingin ketika nanti dimakan.

__ADS_1


"Byy.." Ami melihat suaminya yang masih fokus pada ponselnya.


Nathan yang merasa dipanggil mendongak. "Sudah selesai." Menaruh ponselnya di atas meja Nathan menyuruh Ami untuk duduk di atas pangkuannya.


"Sudah." Ami menurut. "Byy aku bau." Ucap Ami yang menghalau bibir Nathan ketika ingin menjamah lehernya.


Rambut Ami ia gulung keatas dan diikat asal, sehingga memperlihatkan lehernya yang jenjang.


"Tapi aku suka baunya." Nathan kembali ingin mendekatkan wajahnya, tapi kembali di tahan oleh Ami.


"Malu by, nanti ada pelayan yang lihat." Tolak Ami lagi yang merasa risih karena memang baunya tidak enak setelah masak.


Nathan mengehela napas. "Baiklah."


"Ehh, byy." Ami langsung mengalungkan tangannya di leher Nathan, ketika tubuhnya melayang dalam gendongan Nathan.


"Mau kemana?" Tanya Ami dengan bingung


"Ketempat yang orang tidak bisa lihat."


Ami membulatkan kedua matanya, dia tahu maksud ucapan suaminya.


Meskipun mereka dirumah itu memiliki kamar pribadi, tapi Ami merasa tidak nyaman karena berada dirumah ayahnya.


Bugh


Nathan mendudukkan dirinya di atas sofa kamar, setelah mengunci pintu. Pria itu langsung menyerang bibir sang istri dan melumattnya.


"Emph.." Ami yang tadinya menolak saat diluar kini malah menyambut sentuhan Nathan, gadis itu sudah candu dengan sentuhan bibir dan tangan Nathan, bahkan yang ada di tubuh Nathan.


"Byy, ahhh."


.


.


.


Dukung karya author dong, masih sepi loh di sana😘


"DINIKAHKAN DENGAN PRIA LUMPUH"


__ADS_1


__ADS_2