
Ami sudah bersiap seperti yang Nathan perintahkan, gadis itu sudah rapi dan cantik dengan pakaiannya, Ami tidak pernah makeup, hanya tampilan wajah natural dengan tambahan pelembab bibir. Karena Nathan menyukai bibir alami sang Istri.
"Sudah siap?" Nathan memeluk pinggang Ami dari samping, pria itu sudah rapi dengan kemeja putih yang melekat sempurna di tubuhnya, Nathan terseyum terlihat begitu tampan dimata Ami.
"Em," Ami mengaguk. "Kita mau kemana?"
"Nanti juga kamu tahu." Nathan terseyum, mengecup pipi mulus Ami. Dia menyukai wajah istrinya yang natural tanpa makeup, karena Nathan tidak suka milikinya dilirik pria lain, apalagi jika Ami sangat cantik jika di balut makeup.
Nathan mengandeng tangan Ami lembut, keduanya keluar dari hotel bintang lima termewah disana, dengan fasilitas lengkap, dan pandangan yang bukan maen, dari balkon atau dibalik jendela kaca besar, mereka bisa melihat pemandangan kota dan Cappadocia dari sana. Karena Nathan memang sudah menyiapkan jauh-jauh hari untuk mendapat penginapan yang begitu berkesan.
Kali ini Nathan tidak menggunakan supir, dia ingin berduaan dengan sang Istri.
Keindahan kota membuat Ami selalu mengagumi, dirinya sejak tadi fokus melihat pemandangan diluar dengan menatapnya dari jendela mobil.
Nathan hanya menebarkan karena menjaga kewarasan seorang istri itu sangatlah penting.
Apalagi emak-emak yang berdaster?🤧
Tak lama mobil yang Nathan kemudi berhenti di sebuah tempat yang Ami tidak tahu.
Nathan lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo." Tangannya terulur untuk membantu Ami.
Dengan senang hati gadis itu menyambutnya, "Terima kasih By." Ami terseyum manis, membuat Nathan ikut tersenyum.
Berjalan masuk Nathan sudah disambut dengan pelayan tempatnya berkunjung.
Nathan membawa Ami kehotel yang juga sudah dia siapkan.
"Kenapa kita kehotel lagi." Ucap Ami yang merasa jika tempat yang dia singgahi juga hotel.
"Em, kamu nanti akan bisa membedakan dan pasti akan sulit untuk memilih." Jawab Nathan.
Nathan yang memang bingung memilih, pada akhirnya memilih dua tempat sebagai perbandingannya, dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja selama 2 Minggu, rencana Nathan setelah dari sini dia akan terbang ke Paris. Negara romantis yang selalu diinginkan banyak orang.
"Silahkan." Pelayan itu bicara menggunakan bahasa Prancis.
Otor malas translate 🙏
Nathan mengaguk, dan masuk mengajak Ami untuk masuk kedalam.
"By, itu apa?" Ami menujuk ruangan yang terbuka.
"Coba lihat." Nathan terseyum, dan Ami berlari kecil untuk menuju balkon yang membuatnya menggangga.
"Wwwaaa, indah banget." Ami menatap takjub pemandangannya yang menurutnya luar biasa, gadis itu mengembangkan senyum dengan lebar.
Cekrek
Nathan mengambil foto dari balik belakang, Ami yang berdiri dengan berpegangan batas besi dan menginjak bantal dibawah kakinya.
__ADS_1
.
Nathan menghampiri, pria itu duduk di samping kaki istrinya.
"Kamu suka?" Tanya Nathan sambil mengambil minuman yang tersedia.
"Hu'um, sangat suka." Ami menoleh dengan senyum bahagia, dan Nathan bisa melihat itu.
"Baiklah, sekarang duduk." Ucap Nathan yang menarik pelan tangan Ami.
Ami menurut, kebahagian diwajahnya masih terlihat, senyum itu selalu terpatri dibibir manisnya.
Nathan menatap lekat wajah sang istri, dia juga senang jika Ami merasakan bahagia.
"Aku bukan pria romantis sayang, aku melakukannya hanya dengan menuruti keinginan hatiku." Ucap Nathan jujur apa adanya.
Ami melebarkan senyumnya, "Kamu tahu sendiri aku orangnya seperti apa? jadi aku harap kamu menyukai apa yang aku berikan." Tangannya mengelus wajah Ami yang masih tersenyum.
"Ohh, so sweet," Ami terseyum, "Ngak romantis tapi bisa buat aku meleleh By, Hubby mamang terbaik." Ami memeluk Nathan, dengan Nathan yang senang hati menyambutnya.
"Kebahagiaan kamu, nomor satu sayang." Nathan mengecup pucuk kepala Istrinya.
"Baiklah, jika ingin membuatku bahagia maka_" Ami mengeluarkan ponselnya dari tas kecil yang dia bawa.
"Untuk hari ini tuan suami wajib untuk mengambil gambarku." Ami terseyum manis.
Ami mendelik, "Kenapa dengernya tidak enak ya." Gerutu Ami kesal.
Nathan tertawa, "Ingat, papa ingin cucu yang banyak." Nathan terseyum dan beranjak berdiri.
"Demi tuan putri, tercinta."
Ami terseyum lebar, dan mengambil posisi yang nyaman untuk berpose.
Cekrek
.
"Sudah." Nathan memberikan ponsel Ami.
"Kenapa cuma satu kali." Protes Ami yang belum puas.
Nathan menghempaskan tubuhnya kembali disamping sang istri.
"Jika satu kali gratis, tapi dua kali dan seterusnya maka satu ronde dan seterusnya."
Bugh
__ADS_1
Bugh
"Suami mesum, overdosis."
.
.
"Mas..!! Kamu dimana..?"
Raya mempercepat jalannya ketika tidak melihat Mustafa, wanita yang sedang mengandung itu, jalan tergesa untuk menemukan suaminya.
"Raya sayang ada apa? jangan terlalu cepat kamu sedang hamil." Mustafa yang muncul dari belakang sedikit khawatir melihat Istrinya, yang berjalan tergesa-gesa.
"Lihat ini mas..!" Raya memperlihatkan foto story putrinya.
"Ami sedang berada di balon udara." Ucap Raya membuat Mustafa menahan tawa, dan menunjukan ekspresi aneh.
"Mas aku mau ikut kesana." Ucap Raya seketika membuat wajah Mustafa berubah. "Aku ingin naik balon udara di Turki." Ucap Raya lagi.
Mustafa menelan salivanya. "Kami sedang hamil sayang, tidak baik berpergian jauh, apalagi naik pesawat."
Mendengar ucapan suaminya Raya, langsung cemberut dan menekuk wajahnya. Wanita itu selalu ngambek jika permintaannya tidak dituruti, mungkin efek kehamilannya. Dan Mustafa sering frustasi sendiri dengan sikap Raya yang suka meminta yang aneh-aneh, tapi mengingat bayi yang rasa kandungan membuat Mustafa sadar jika itu juga karena ulahnya yang selalu memberi sumber kesuburan untuk Raya.
"Mas jahat.." Raya yang sudah kesal dengan mata berkaca-kaca, meninggalkan Mustafa pasrah.
"Ray, sayang bukan begitu tapi memang tidak baik untuk ibu hamil." Ucap Mustafa yang mencoba memberikan pengertian.
"Tapi aku ingin kesana mas, kamu tidak sayang aku dan bayimu." Ketus Raya dengan duduk dipinggir ranjang, Wanita itu sudah menjatuhkan air matanya.
"Ssstt, jangan bicara seperti itu, aku tidak melarang hanya saja untuk sekarang tidak bisa sayang, kamu sedang mengandung." Tangan Mustafa mengelus perut buncit Istrinya.
"Apa kamu ingin terjadi sesuatu dengan anak kita?" Mustafa menatap wajah Raya lekat. " Jika terjadi sesuatu_"
"Tidak, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Tangan Raya ikut menyentuh perutnya.
Mustafa terseyum. "Jika dia sudah lahir dan besar, aku janji akan mengajakmu kesana dengan anak kita."
Raya menatap wajah suaminya. "Janji." Ucap Raya sambil menaikkan jari kelingkingnya.
Mustafa terkekeh, wanita lemah lembut dan penyabar kini berubah menjadi seperti anak kecil yang manja, dan membuat Mustafa senang sekaligus kerap kali frustasi.
"Janji sayang." Mustafa mengaitkan jari kelingkingnya juga. "Sabar ya sayang, tunggu kamu bisa diajak keliling dunia." Ucap Mustafa pada bayinya.
Raya tersenyum, kini wanita itu tidak cemberut lagi.
"Iya papa." Jawab Raya sambil menirukan ucapan anak kecil.
"Anak ayah mau dijenguk, papa kangen nih." Ucap Mustafa dengan tatapan mesum pada pada sang Istri.
Bugh
__ADS_1
"Kamu mesum mas."