My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Kelinci rusuh


__ADS_3

"Nak Mike terima kasih." Ucap Ami pada pemuda yang baru saja pamit dan Ia antar sampai disamping motor besarnya.


"Sama-sama Tante." Mike terseyum tulus.


Matanya melirik gadis yang sedang duduk dengan menatapi kakinya yang diperban.


Hawa masih meniup-niup lututnya.


Ami mengikuti lirikan mata Mike. "Apa Lika menyusahkan mu?" Tanya Ami yang memang paham dengan tabiat putrinya itu.


Manja dan suka seenaknya sendiri, cara bicaranya yang ceplas-ceplos, terkadang membuat orang kesal.


Mike yang ditanya menoleh, tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Em, t-tidak Tante." Jawab Mike sambil tersenyum kikuk. Karena nyatanya Hawa memang gadis kecil seperti kelinci yang tidak mau diam dan suka merepotkan tapi juga sangat menggemaskan.


Ami terseyum. "Sampaikan salam Tante untuk Mama mu." Ucap Ami pada Mike.


"Baik Tante." Mike yang sudah duduk diatas kuda besinya kembali menoleh pada Hawa yang masih sibuk sendiri.


"Permisi Tante."


"Ya hati-hati." Ami melambaikan tangan saat Mike menghidupkan klakson motornya.

__ADS_1


Berjalan masuk Ami hanya bisa geleng kepala.


"Hawa mau ganti baju apa makan dulu." Ucap Ami yang menghampirinya putrinya.


Hawa mendongak, menatap Mamanya yang berdiri didepannya.


"Mama kenapa Awa harus dijodohkan?" Ucap gadis kecil yanh duduk menatap wajah Mamanya yang masih cantik, mata bulatnya berkedip lucu dengan bulu mata yang lentik.


Ami mengehela napas, dan duduk disamping putrinya sambil mengelus kepala Hawa. "Mama dan papa hanya ingin yang terbaik untuk mu."


Sejujurnya Ami tidak setuju dengan perjodohan putrinya dengan anak rekan suaminya itu, tapi Julio dan Vania kekeh menjodohkan anak mereka.


Hawa mengembangkan mulutnya, membuat pipi gadis itu bulat, "Awa masih kecil mah, tapi Awa sudah punya jodoh?"


Meskipun umurnya akan menginjak empat belas tahun, tapi pemikiran Hawa sudah mampu mencerna apa yang orang dewasa katakan. Sering kali jika keluarga diundang makan malam di rumah Mike, kedua orang tua pemuda itu selalu membahas perjodohan, dan Hawa yang penasaran mencoba mencari tahu apa yang dimaksud perjodohan.


Ami merangkul bahu putrinya. "Jangan pikirkan itu sayang, tugas kamu adalah belajar." Hatinya sebenarnya tidak rela, tapi semua Ami kembalikan pada Tuhan yang akan membawa putrinya dalam kebahagiaan.


"Awa ingin menjadi wanita yang sukses mah, Awa ingin seperti Mama." Ucap Hawa membalas pelukan ibunya.


Ami mencium pucuk kepala putrinya. "Hm, Mama akan mendukungmu sayang apapun itu."

__ADS_1


"Loh Mike, Lika tidak kamu ajak kemari?" Tanya Vania saat melihat putra masuk kedalam rumah besar kelaurganya.


Cup


Mike mencium pipi Mamanya. "Ribet mah bawa kelinci yang bikin rusuh." Ucap Mike sambil terkekeh.


Bugh


"Sembarangan kamu ngatain calon mantu Mama kelinci." Vania memikul pundak putra keduanya.


Mike tetap santai tidak merasa sakit, pemuda itu mencomot gorengan yang tersedia di atas piring.


"Kenapa harus Mike sih mah yang dijodohin, kenapa tidak Bang Mario saja." Ucap Mike sambil mengunyah makanan.


Vania yang berdiri didepan tungku menoleh kebelakang.


"Mana mungkin Mama jodohkan abangmu dengan Lika, Lika lebih pantas jadi adiknya." Jawab Vania sambil geleng kepala.


"Ck, tapi kelinci rusuh bikin sakit kepala Mah,. kenapa tidak pilih gadis lain saja." Decak Mike kesal.


Sebenarnya Hawa gadis yang cantik, hanya saja Mike tidak menyukai sifat Hawa yang manja dan masih bocah, Mike yang sudah kelas 12 SMA memiliki kriteria sendiri untuk ukuran yang wanita yang dia sukai.

__ADS_1


__ADS_2