
Ami membuka matanya dengan perlahan.
"Emmph..emph."
Kedua tangannya di ikat kebelakang kursi, dan mulutnya disumpal dengan kain.
"Ya tuhan, aku dimana." Ucap Ami dalam hati.
Dirinya menatap ke sekeliling, dan sepertinya gudang kosong, melihat bangku dan kursi Ami yakin jika dirinya berada di gudang sekolah.
Ketika ingin ketoilet tiba-tiba tubuhnya ditarik dan mulutnya disekap, dan berakhir dirinya yang sadar dalam keadaan terikat.
"Sial, siapa yang udah ngerjain gue." Ami terus berbicara dalam hati.
Kakinya juga terikat membuat dirinya tidak bisa leluasa bergerak.
Olive yang sejak tadi menunggu Ami tidak kunjung datang, bahkan gadis itu sudah melewati dua mata pelajaran.
"Eh, Liv kata Ayana dia nitip tas sama loe, dia udah pergi ada urusan." Ucap siswi yang tiba-tiba mendatangi Olive yang sedang ketoilet untuk mencari Ami.
"Aa, urusan apa?" Ucap Olive ngebug.
Olive menggaruk kepalanya. "Apa Om Nathan sudah pulang, dan pergi sama Ami." Gumamnya pada diri sendiri.
"Ah, faster sayang shh."
Ami membulatkan kedua matanya ketika dia kembali mendengar suara yang pernah dia dengar, dan ketika ingin mengintip dirinya jatuh.
'Suara itu.'
Ami mengingat dirinya pertama kali mendesahh ketika dengan Nathan, dan suara itu persis ketika mereka sedang_
"Ough lebih cepat."
"Engh ahh."
'Astaga..'
Ami semakin dibuat terkejut dengan suara yang dia dengar.
Dirinya berusaha menggoyangkan tangannya agar bisa melepaskan tali yang mengikat, bukannya lepas tanganya malah semakin sakit.
'Hubby plis tolongin gue.'
__ADS_1
Ami terus berusaha sambil berbicara dalam hati, dia yakin jika orang yang mengurungnya disini adalah salah satu murid sekolah ini, tapi Ami tidak tahu pasti siapa pelakunya.
"Duh Mi, ponselnya pake ketinggalan lagi." Ucap Olive yang mendengar deringan ponsel Ami berada di dalam tas.
Olive sudah berada di luar gerbang sekolah karena jam sekolah sudah usai, sejak tadi dirinya merasa tidak yakin jika Ami pergi begitu saja, apalagi tidak membawa ponsel.
Ingin meminta tolong, Olive tidak tahu kepada siapa.
"Ah, Om Nathan." Olive buru-buru mencari kontak Nathan di ponsel Ami.
'Suami kejam.'
Batin Olive, yang melihat nama aneh, dan Olive yakin jika itu nama untuk Nathan.
"Dasar Miami aneh."Gumam Olive tersenyum, lalu menekan ikon panggil, untuk menghubungi Nathan.
Nathan yang sedang bertemu klien diluar, mengabaikan panggilan ponselnya yang bergetar.
"Baiklah, semoga kerja sama kita akan menjadi ******** untuk proyek baru anda tuan." Ucap seorang pria yang umurnya dibawah Nathan.
"Sama-sama." Keduanya berjabat tangan untuk tanda sepakat.
Nathan mengambil ponselnya yang sejak tadi terus bergetar.
"Tumben." Gumam Nathan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, sejak kemarin Ami memang tidak menghubunginya. Hanya saja gadis itu selalu mendatanginya dikantor, dan dari mana Nathan tahu? karena pria mesum itu mengintip dari balik pintu kamar pribadinya.😂
Nathan mengerutkan keningnya ketika mendengar suara orang yang berbeda.
"Ha-halo Om saya Olive." Jawab Olive dari seberang sana. "Saya. cuma mau tanya apa Ami bersama anda." Lanjut Olive dengan suara gugup.
Kerutan dikening Nathan semakin dalam.
"Maksud kamu apa?, kamu menguhungi dengan ponselnya, tapi tanya Ayana pada saya." Tegas Nathan, membuat Olive menciut diseberang sana. "Ayana tidak ada sama saya, apa yang terjadi?" Nathan malah balik bertanya.
"Em,, Ami tidak ada di sekolah, tadi katanya dia pergi karena ada urusan tas dan ponselnya tertinggal." Cicit Olive dengan takut.
Nathan memejamkan matanya, meremas ponsel yang sedang dia genggam.
"Tunggu saya disana."
Nathan mematikan sambungan telponnya, dan bergegas keluar menuju mobilnya.
"Kenapa suka sekali bikin orang panik, Sial..!" Nathan menambahkan kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Tidak dipungkiri rasa kesal dan amarahnya melebihi rasa khawatir dan takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu, membuat Nathan tidak habis pikir.
Olive yang melihat mobil Nathan langsung menyingkir, pasalnya mobil Nathan bergerak dengan kecepatan tinggi.
Sssssttt
Nathan segera keluar dan menghampiri Olive yang sedang berdiri dipinggir pagar.
"Dimana Ayana." Tanya Nathan tothepoint.
"A-aku tidak tahu Om, katanya tadi ingin ke toilet tapi tidak kembali, dan salah satu siswi mengatakan jika Ami pergi ada urusan." Jawab Olive cepat karena melihat tatapan tajam Nathan.
Nathan langsung berlari masuk kedalam gedung sekolah, Olive pun ikut berlari mengejar Nathan yang sudah sangat jauh.
"Duh, kalau begini bisa langsung kurus aku." Ucapanya dengan berlari semampunya.
Nathan menyusuri toilet yang ada disekolah, membuka satu-persatu tapi hasilnya nihil.
"Ay, Ayana..!!" Teriak Nathan ketika membuka pintu toilet terakhir.
Keadaan sekolah sudah sepi, karena jam pulang sekolah sudah lima belas menit yang lalu, dan hanya ada beberapa siswa yang sedang ekskul dilapangan basket.
"Hah..hah..hahh." Olive dengan napas ngos-ngosan mengikuti Nathan.
"Kami tahu di mana tempat yang tidak pernah di datangi siswa." Tanya Nathan pada Olive.
Nathan yakin jika Ami masih berada disekolah, jika gadis itu pergi tidak mungkin meninggalkan barang-barang miliknya. Apalagi sekolah ini begitu ketat akan kedisiplinan.
"Em," Tangan Olive menujuk. "Gudang belakang." Ucapnya yang masih tersengal.
Nathan segera berlari kearah yang di tunjuk Olive.
"Ya salam, lelah." Olive mengusap wajahnya, dengan lemas dia kembali mengikuti Nathan.
Bug
bug
bug
Ami mengehentakkan kakinya ke lantai, bulu kuduknya semakin meremang ketika mendengar suara lacnut semakin menjadi-jadi.
'Sial, lebih baik jadi pemain dari pada pendengar seperti ini.' Ami kesal sendiri, otaknya sudah tercemar mendengar suara irama bercinta seseorang.
__ADS_1
Brak
Nathan mendobrak pintu gudang yang Olive tunjukkan. Kedua mata Nathan membulat sempurna melihat orang yang berada didalam.