My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Pengumuman


__ADS_3

Pagi suasana sekolah ramai dengan semua murid yang sedang berkumpul di lapangan, tidak terkecuali wali murid yang sengaja diundang untuk bisa hadir di sekolah.


Mereka tidak tahu dalam rangka apa di kumpukan pagi ini. Hingga semua menjadi penasaran.


"Ada apa sih, tidak biasanya kumpul seperti ini."


Mungkin ada sangkut pautnya dengan kejadian beberapa hari lalu, kalian tahukan pak Nathan begitu panik dengan keadaan Ayana."


Mereka hanya mengaguk dengan pikiran menerka-nerka.


"Apa mungkin Ayana hamil dengan pak Nathan, jika Ia maka tamatlah riwayat mereka yang sudah membuat Ayana masuk rumah sakit."


Salah satu siswi memikirkan kejadian beberapa hari lalu, yang mengakibatkan sekolah demo karena berita kehamilan Ayana.


Para wali murid ikut berbisik-bisik, mereka yang tidak ikut campur juga merasa penasaran, lain dengan beberapa wali murid yang senagaja membuat gaduh seisi sekolah hanya duduk santai tanpa tahu jika ada sesuatu yang akan menimpa mereka, bisa jadi masa depan mereka.


Tak lama kepala sekolah hadir diikuti beberapa guru, dan juga ada Natha dengan asistennya yaitu Ando.


"Mi, kamu tidak penasaran dengan apa yang ingin dilakukan suamimu." Tanya Olive yang duduk disamping Ami. kedua gadis itu malah asik menikamati semangkuk bakso tanpa perduli dengan acara di lapangan yang pasti akan membuat mereka tidak percaya.


Ami sudah pulih dan bisa beraktifitas seperti biasa, gadis itu sudah masuk sekolah mulai pagi ini, dan dia tidak tahu jika sekolah mengumpulkan wali murid.


"Nanti kita kesana, aku mau makan ini dulu, sudah rindu satu Minggu tidak memakannya." Ucap Ami dengan melahap pentol bakso yang begitu nikmat dilidahnya.


Olive hanya geleng kepala. Sahabatnya ini sudah kembali seperti biasa, dan Olive merasa senang karena Ami tidak terus bersedih dan merasa terpuruk.


"Selamat bagi murid-murid semua, dan para wali murid yang sudah hadir memenuhi undangan sekolah pagi ini. Disini saya hanya menyampaikan berita penting yang kalian semua belum diketahui. Dan disini kalian semua tahu, teman dan rekan kalian Ayana telah mengalami kecelakaan di sekolah sehingga dilarikan kerumah sakit. Maka dari itu sini ada bapak Nathan Adhitama, beliau ingin menyampaikan hal penting." Pak kepala sekolah mempersilahkan Nathan untuk mengambil tempat didepanya.


Nathan pun maju, semua begitu penasaran berita apa yang akan mereka dengar.


Ehem


Nathan berdehem sebelum dirinya berbicara.


"Selamat pagi semua." Nathan mengedarkan pandangannya kepada para murid yang berdiri dan para wali yang duduk ditempat yang disediakan. "Baiklah, saya disini tidak akan lama, karena saya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang begitu penting bagi saya, dan sepetinya kalian juga." Nathan kembali memandang lurus kedepan.

__ADS_1


"Saya Aldrick Nathan Adhitama dan Ayana Malika Ifana sudah menikah tiga bulan yang lalu."


Semua murid yang berdiri disana begitu syok, bahkan ada yang lemas tidak percaya.


"OMG, Mii. laki kamu keren parah." Ucap Olive yang melihat dan mendengar ucapan Nathan, Ami hanya diam memperhatikan dan menunggu apa yang akan Nathan sampaikan.


Keduan gadis itu berdiri paling belakang diantara kerumunan.


"Dan untuk nama-nama yang asisten saya sebutkan, semoga kalian bisa merenungi dengan apa yang sudah kalian lakukan dengan istri saya." Ucap Nathan membuat beberapa orang yang terlibat dengan ucapan Nathan begitu panik.


Mereka yang tidak tahu jika gadis yang mereka hina dan caci maki adalah istri seorang Nathan Adhitama, pebisnis tersohor di kota.


Ando membacakan nama-nama orang yang sudah terlibat aksi demo dan secara kebetulan suami mereka adalah rekan bisnis Nathan yang menerima saham bantuan dari Adhitama Grub.


"Semoga kalian tidak terkena serangan jantung setelah ini." Ucap Ando dengan senyum tanpanya.


Tak lama beberapa ponsel berdering secara bersamaan dimana para wanita itu mendapat kabar jika usaha dan kerja sama suami mereka mengalami kendala bahkan bangkrut.


"Mi, Mas Nathan memang suami idaman." Ucap Loli yang senyum sendiri.


Olive sampai tak berkedip melihat senyum Ando yang menurutnya begitu memikat.


Setelah ini dirinya bukan Ami yang terkenal gadis miskin dan mereka pasti tidak akan memperlihatkan ketidaksukaan mereka didepanya lagi, karena pasti banyak topeng yang mereka pakai.


"Gue hak suka keadaan seperti ini." Ucap Ami pada kedua sahabatnya.


Kini mereka duduk di bangku kantin paling pojok. Tidak perduli jika di luar sana mereka heboh membicarakan dirinya.


"Maksud kamu apa?" tanya Olive yang tidak paham.


Ami hanya mengehela napas. "Mereka pasti bermuka dua semua." Seketika ucapan Ami membuat kedua temanya tertawa.


"Ya, dan kita tinggal menghidupkan musik maka mereka semua sudah berjoget." Sahut Loli semakin membuat Olive tertawa.


"Ck, aku serius." Kesal Ami karena mereka malah bercanda.

__ADS_1


"Itu sih, topeng monyet, hahaha.." Loli dan Olive kompak tertawa,.hingga suara deheman seseorang membuat mereka diam seketika.


"Kalian sedang apa?" Bukan Nathan yang bertanya melainkan Ando. Karena Nathan sudah duduk disamping sang Istri yang memanyunkan bibirnya.


Olive menelan ludahnya kasar, melihat Ando yang tiba-tiba duduk disebelahnya terlalu dekat.


"Em,_"


"Ndut pesankan kami kopi." Ucap Ando terseyum menatap Olive. "Biar kamu gerak dan kurus."


Seketika wajah Olive langsung berubah masam mendengar ucapan Ando.


"Ogah,.pesen aja sendiri." Olive pun membuang wajah.


"Ndut, gak boleh nolak perintah calon suami."


Uhuk-uhuk


Olive pun tersedak ludahnya sendiri, "Buruan gih, calon istri." bisik Ando dengan pelan.


Oliver yang jantungnya berdebar tidak bisa diam, gadis itu langsung berdiri dan berlari ke toilet sekolah.


"Dia sepetinya mengalami sakit perut." Ucap Ando dengan senyum geli.


"By, apa yang kamu katakan tadi." Tanya Ami menatap wajah suaminya yang juga menatapnya.


"Hanya pengumuman pernikahan kita." Tangan Nathan mengelus wajah Istrinya.


perhatian Nathan yang dilakukan pada Ami memancing perhatian para murid yang baru saja masuk kedalam kantin.


"Tapi By, aku tudak_"


"Ssttt, semua demi kebaikan kamu, jadi maaf aku harus melakukan ini, karena meraka tidak akan diam jika tidak di bungkam." Ucap Nathan tegas tanpa ingin di bantah.


Ami hanya diam tanpa menjawab. "Tidak usah dipikirkan sekarang kamu bisa sekolah dengan tenang." Nathan terseyum membuat Ami ikut tersenyum.

__ADS_1


"Lu keren Nat, mereka semua pasti menangis melihat perusahaan dan usaha mereka yang hancur dalam waktu sekejap." Ando terseyum licik.


"Thanks atas bantuan lu." Nathan terseyum. Semua memang berkat bantuan Ando yang membatunya mengumpulkan data-data wali murid yang sudah membuat kekacauan disekolah Istrinya. Dan tidak hanya orang tua mereka, anak mereka pun ikut terciduk keluar dari sekolah.


__ADS_2