My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Nathan


__ADS_3

Pukul satu dini hari, Nathan baru saja bergerak merenggangkan otot-otot tumbuhnya yang terasa pegal.


Pria itu sudah duduk berjam-jam dengan pekerjaanya.


Beranjak dari sofa setelah membereskan pekerjaannya di atas meja, Nathan berniat untuk tidur.


Dirinya melihat Istrinya yang sudah meringkuk memunggunginya, Nathan naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya.


Karena merasa lelah dan ngantuk, pria itu cepat terlelap dengan memeluk Ami dari belakang.


Ami yang memang sudah terlelap tidak merasakan jika suaminya memeluk dirinya.


Drt...Drt..Drt..


Ponsel Nathan berdering membuatnya membuka mata.


"Hm."


"Sudah jam lima bos," Ucap seseorang diseberang sana.


"Ck, gue baru tidur." Kesal Nathan dengan mata uang masih terpejam.


"Ck, lu suruh bangunin jam lima pagi, dan gue gak bisa tidur gara-gara perintah lu tau ngak." Kesal Ando .


"Bawel, iya gue bangun." Nathan pun mematikan sambungan telponnya, dan beranjak dari atas ranjang.


Pagi ini dirinya akan meninjau lokasi yang memang memakan waktu diperjalanan, dan Nathan menyuruh Ando untuk menjadi alarm paginya.


Ami membuka matanya ketika mendengar suara Nathan yang menerima telepon, dan dia tagu jika itu pasti asistennya.


"Apa dia benar-benar tidak ada waktu." Gumamnya yang masih merasa sedih, karena Nathan harus pergi pagi-pagi sekali.


Ami memejamkan matanya kembali setelah mendengar pintu kamar mandi terbuka, dan Nathan keluar dari sana.

__ADS_1


Merapikan penampilannya Nathan menatap istrinya yang masih memejamkan mata. "Maaf aku harus pergi pagi-pagi." Nathan mengecup kening Ami dengan lembut.


Setelah beres, Nathan langsung keluar dari kamar hotel, tidak lupa dirinya meninggalkan pesan untuk istrinya.


Ceklek


Ami membuka mata mendengar suara pintu hotel tertutup,.dirinya langsung duduk dan melihat secarik kertas kecil diatas meja.


Sayang maaf aku harus pergi pagi-pagi untuk bekerja, jangan lupa makan dan jaga diri baik-baik.


^^^Love you^^^


Ami mengehela napas, keputusan yang dia ambil untuk ikut bersama suaminya ternayata malah membuatnya kesal dan terabaikan.


.


.


Di Jakarta, tepatnya di kediaman rumah pak Teguh.


"Mbak, pakaiannya saya bawa pulang saja ya, biar saya strika dirumah." Ucap Raya dengan Hesti yang kebetulan melewatinya.


Posisi Raya memang sedang berada di ruangan setrika dan dari pintu bisa Raya lihat jika sejak tadi Mustafa selalu duduk di sana.


"Memangnya kenapa Ray?" Tanya Hesti yang heran, karena tidak baisanya.


"Tidak apa mbak." Jawab Raya pelan.


"Yasudah tidak apa-apa." Hesti tersenyum, membuat Raya merasa lega.


Membereskan pakaian yang belum selesai, Raya menaruhnya di keranjang dan akan membawanya pulang.


"Loh Ray, mau kemana?" Tanya Mustafa yang langsung berdiri menghampiri Raya yang baru saja keluar.

__ADS_1


"Mau pulang mas, mau nyetrika." Jawab Raya, dengan sedikit menunduk dan pergi.


Musthafa ingin mencegah, tapi mendengar suara kakanya membuatnya mengurungkan niat.


"Mus, coba lihat ini. Sepertinya dekat sini ada tanah yang dijual." Ucap pak Teguh yang menunjukan dimana ada iklan dimedsos menjual tanah.


"Abang, tau tempatnya dimana?" Tanya Mustafa yang memang sedang mencari tanah dijual.


"Coba nanti kita kesana, saya mau mandi dulu." Ucap pak Teguh yang memang baru saja pulang bekerja.


Mustafa hanya mengiyakannya, dirinya terseyum ketika mengingat untuk apa dia mencari tanah luas.


Dirinya ingin mendirikan rumah disana agar tidak menumpang menginap di rumah kakaknya.


Jarak rumah yang dia tinggali dengan rumah pak Teguh butuh waktu satu jam lebih, dan berniat untuk membangun rumah sendiri, siapa tahu jodohnya dekat disana. Sambil menyelam minum air😂


.


.


Nathan dan Ando meninjau lokasi yang lumayan cukup jauh dari permukiman warga. Disana rencananya akan didirikan rumah sakit, dan Nathan yang memang sudah berencana akan mendirikan rumah sakit di sana, dan membangun jalan menuju pemukiman di permudah, agar akses para penduduk disana lancar.


Jika ke rumah sakit kota butuh waktu lama bagi mereka menuju kesana, di permukiman itu hanya ada klinik kecil yang belum cukup memadai, sehingga membuat Nathan tergerak hatinya untuk membangun sebuah rumah sakit umum di daerah itu.


Bukan tanpa alasan Nathan mau mwnderikan rumah sakit disana.


Sewaktu dirinya ke kota M, dan tidak sengaja bertemu dengan penduduk yang mengalami luka parah akibat kecelakaan, dan beliau dilarikan kerumah sakit kota yang jarak tempuh nya hampir dua jam, membuat orang itu tidak lagi bisa diselamatkan, dan pada saat itu Nathan yang berkebutuhan berada di rumah sakit untuk menengok rekan kerjanya menjadi iba dan berniat mensurvei lokasi pemukiman yang kurang maju, dan ternyata disana sudah banyak penduduk hanya saja fasilitas disana kurang memadai.


Beruntung Nathan mendapatkan lahan yang cukup luas untuk membangun rumah sakit disana, dan sekarang hanya tinggal beberapa bulan lagi rumah sakit itu akan selesai dan dibuka.


"Nat, lu kenapa?" Ando melihat wajah Nathan yang pucat.


"Em, tidak apa-apa." Nathan memijit pelipisnya, kepalanya terasa berat dan berputar-putar.

__ADS_1


"Nat.. Nathan..!!"


__ADS_2