My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Penawaran bisnis


__ADS_3

"Anda pasti sudah memikirkan apa yang seharusnya anda tawarkan." Ucap pria yang memiliki warna mata biru keabuan itu.


Nathan mengerutkan keningnya, sedangkan Ando menyodorkan berkas yang sudah dia siapakan.


"Anda bisa membacanya lebih, dulu saya rasa tawaran kami di situ sudah cukup untuk kerja sama kita." Ucap Ando dengan santai.


Nathan hanya menatap wajah pria paruh baya didepanya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sejak tadi dirinya selalu diperhatikan dan pria itu seperti menunjukan jika dirinya tidak punya pilihan lain.


"Saya tidak perlu membacanya, dan saya tidak perlu tawaran yang anda berikan, karena saya memiliki tawaran lain." Pria itu tersenyum menyeringai.


Nathan yang melihatnya, tidak bisa menebak apa yang direncanakan calon kliennya ini.


"Katakan saja apa yang anda inginkan." Putus Nathan yang tidak bisa lama-lama untuk berbasa basi.


Pria paruh baya itu malah tertawa. "Ya, saya suka caramu tuan Nathan, yang tidak suka bertele-tele." Tuan Fork menjulurkan tangannya pada aisistenya, dan diberikannya sebuah map.


"Saya rasa sepadan dengan apa yang akan kita sepakati tuan Nathan."


Nathan segera meraih map di disodorkan, pria itu membacanya dengan seksama dan Nathan terseyum sinis.


"Anda ingin mendapatkan tempat yang saya dapatkan dengan susah payah." Nathan melempar map itu didepan tuan Fork. "Jangan mimpi anda bisa mendapatkan tempat itu, jika saya masih hidup." Nathan menatap tajam pria paruh baya didepanya yang masih menunjukan senyum menyebalkan.


Ando yang penasaran, segera meraih map itu kembali, Ando membacanya dengan teliti.


"Yayasan Rumah Baca." Gumamnya melirik Nathan, Ando yang tidak menyangka jika rumah baca milik Ami ada yang mencoba untuk mendapatkannya, bahkan sebagai barter dalam bisnis.


"Apa anda masih tidak ingin memberikannya." Tuan Fork menyadarkan punggungnya di kursi yang dia duduki. "Saya rasa anda harus memberikannya, kalau tidak_"


"Jangan coba-coba mengancam saya tuan Fork yang terhormat." Nathan bicara dengan penuh penekanan disetiap kata-katanya.


Sedangkan pria menyebalkan didepanya hanya terkekeh.


"Ndo kita pergi." Nathan beranjak dari kursinya. Sampai kapanpun dia tidak akan melepaskan rumah baca yang sudah dia dapatkan dengan susah payah, Nathan tidak mudah untuk mendapatkan lahan disana. Karena lahan yang dia pakai sangatlah banyak peminat hingga Nathan tidak perduli jika dia mengeluarkan uang banyak hanya demi mendapatkan lahan itu dengan resmi.


"Apa anda tidak kasihan melihat dia." Tuan Fork terseyum penuh arti, ketika Nathan kembali menatap kearahnya.


"Lihatlah.."

__ADS_1


Melempar sebuah benda yang menampilkan cuplikan video dimana seorang wanita yang tak sadarkan diri terikat di atas ranjang dengan pakaian yang sedikit berantakan.


"Sialan..!!"


Nathan langsung menerjang pria yang sudah berani menggunakan Istrinya untuk sebagai alat, tapi asisten pria paruh baya itu mampu mengahalangi Nathan yang ingin menghajar atasnya.


"Nathan.." Ando segera meraih tubuh Nathan yang masih ingin menyerang.


"Tua bangka sialan, lepaskan istri saya bag*sat." Emosi Nathan sudah tak terkendali ketika melihat istrinya dijadikannya sebagai sandera. Nathan murka dan ingin menghabisi pria yang masih tertawa itu.


"Pikirkanlah, sebelum istri kesayangan anda_" Pria itu tidak melanjutkan ucapanya, melainkan pergi dengan wajah liciknya. Nathan ingin kembali mengejar tapi di halangai oleh Ando.


"Lepas..!!"


"Sabar Nat, kita cari jalan lain supaya istri lu bebas." Ando mencoba untuk menenangkan Nathan.


Arrggh


Prang


Nathan memang memikirkan hal ini jauh hari, lahan yang dia bangun banyak yang mengincar, dan dia tidak berfikir jika Ami akan keluar sendiri dan mereka menggunakan kesempatan itu untuk menculik dan menyekap istrinya.


"Gue mau cari Ayana Ndo." Nathan segera keluar dari restoran itu, diikuti oleh Ando.


Nathan mengambil ponselnya yang sejak tadi mati, pria itu segera mengaktifkannya dan ternayata Ami mengirim pesan untuknya.


"By apa kamu mengirim supir baru keaparteman."


Membaca pesan Ami membuat Nathan kian merasa bersalah, pria itu meremas rambutnya kasar.


Dia memang mengirim supir tapi baru saja supir itu pergi, dan Ami mengirim pesan di jam sembilan pagi.


"Halo.."


"..."


"Kalian tunggu disana." Nathan segera mematikan sambungan ponselnya.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Ando pada bos sekaligus sahabatnya itu.


"Mereka menyekap Ayana di markas yang lumayan jauh dari kota, kita susul kesana." Nathan yang akan segera masuk kedalam mobil dicegah oleh Ando.


Nathan baru saja mendapat laporan dari orang yang dia suruh mengikuti Istrinya.


"Lebih baik kita minta bantuan polisi, mereka pasti banyak anak buah dan kita tidak mungkin hanya tangan kosong kesana." Ando mengingatkan sahabatnya, jika mereka nekat yang ada hanya mengantarkan nyawa.


Nathan berpikir sejenak, dan dia mengiyakan ucapan asisten sekaligus sahabatnya itu.


Nathan menghubungi papanya, tapi dirinya tidak ingin Mamanya tahu tentang penculikan Ayana, begitupun bunda Raya, Nathan tidak memberi tahu hanya saja dia memberi kabar pada Mustafa.


Ando mengemudikan mobilnya ke rumah temannya yang seorang anggota kepolisian hanya saja beliau tidak bertugas dikantor. Meskipun begitu temannya juga memiliki pangkat dan anak buah yang mumpuni karena dia adalah seorang ketua kelompok yang bertugas beroperasi menangani kejahatan di lapangan.


"Kita kerumah Ditya." Ucap Ando menyebutkan nama temanya itu.


Nathan hanya bisa mengangguk pria itu mencoba menghubungi nomor Istrinya tapi tidak aktif.


"Ay.." Nathan meremas ponselnya, dia terlalu sibuk sehingga lupa akan keselamatan istrinya, Nathan melupakan jika wajah istrinya sudah banyak orang yang melihat, semejak konferensi pers yang dia lakukan beberapa bulan yang lalu, dan Nathan belum menyadari jika nyawa sang istri banyak yang mengintai, dan sekarang dirinya baru menyadari.


"Semoga kamu baik-baik saja sayang."


Ando hanya melihat wajah sahabatnya yang frustasi dan menunjukan penyesalan serta ketakutan, Nathan tidak pernah menunjukan ekspresi seperti ini selama yang Ando kenal.


Pria datar dan kaku seperti Nathan kini memiliki sisi ketakutan, bukan takut dengan musah, melainkan takut dengan keselamatan sang istri yang dalam bahaya.


"Berdoa Nat, semoga Ayana baik-baik saja." Ucap Ando, hanya kata itu yang bisa dia berikan sebagai penenang meskipun tidak berarti apa-apa tapi setidaknya sebagai sahabat Ando tahu apa yang Nathan rasakan sekarang.


Ditempat lain, diruangan bernuansa serba putih, Ami membuka matanya yang masih terasa lengket, sisa-sisa obat tidur yang dia hirup masih terasa.


"Dimana gue." Gumamnya, yang melihat tempat asing, ketika membuka mata.


Ami ingin bangun, tapi tangan dan kakinya tidak bisa digerakkan, gadis itu mendesis merasakan perih ditanganya, akibat ikatan yang terlalu kuat.


"Gue kenapa diiket sih." Gumamnya lemas. "Apa kejadian di belakang sekolah terjadi lagi." Pikirnya yang mengingat kembali kejadian satu tahun silam.


"Bukan, bukan dibelakang sekolah. sepetinya gue sekarang beneran di culik."

__ADS_1


__ADS_2