My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kekantor 2


__ADS_3

Pukul lima sore Nathan baru saja menyelesaikan pekerjaanya diluar, dan karena sudah sore Nathan tidak kembali kekantor, pria itu memilih untuk langsung pulang, mengingat nanti malam ada undangan dari Hans rekan bisnisnya yang mengadakan syukuran kelahiran putranya.


Dan Nathan belum memberi tahu istrinya jika akan pergi karena dia pikir masih ada waktu untuk menyampaikannya dirumah Mamanya nanti.


"Ndo, gue ngak balik kantor." Ucap Nathan pada sambungan telepon dengan asistennya.


"...."


"Oke, besok kita ketemu dikantor."


Nathan masuk kedalam mobilnya, setelah menutup sambungan telepon dengan Ando, pria itu melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.


Dijalan Nathan sempat berhenti untuk membelikan Ami buket bunga, dan beberapa makanan yang Istrinya sukai, Nathan benar-benar tidak bisa jika harus lama-lama menghindari Ami, ini baru sehari dirinya sudah tidak kuat.


Sampainya dirumah Nathan sudah mengembangkan senyum, membayangkannya wajah senang Ami karena dia membawaku bunga, Ami pasti senang jika dia sudah tidak marah lagi.


"Loh Nat, kamu pulang sendiri?"


Nathan yang baru saja sampai rumah tidak mengerti apa yang dikatakan Mamanya.


"Memangnya harus sama siapa?" Tanya Nathan yang malah balik tanya.


"Ayana mana?" Indira menoleh kebelakang tubuh putranya, tapi tidak melihat adanya Indira.


"Mama cari Ayana, bukanya dia dirumah?" Tanya Nathan lagi yang malah bingung.


"Istrimu, keluar sebelum jam makan siang dia mengatakan makan siang untukmu ke kantor." Ucap indira memberi tahu, sepertinya putranya tidak bertemu istrinya dikantor.


"Makan siang? mah yang benar saja ini sudah sore."


"Ck, kamu tidak tahu bagaimana sedihnya istrimu saat kami abaikan, kamu tidak tahu bagaimana dia makanan kesukaan kamu dengan menahan rasa mual dan sampai muntah demi meneyelsaikan masakanya." Ucap indira dengan perasaan khawatir. "Dan sekarang kamu tidak tahu dia dimana, padahal di mendatangi kamu kekantor." Ucap indira panjang lebar semakin membuat Nathan merasa bersalah dengan perjuangan yang sudah Ami lakukan, demi meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Mah, seharian Nathan tidak dikantor, Nathan bertemu klien diluar sampai sore, Ah sial..!!" Nathan menaruh barang bawaannya yang dia beli disofa, karena khawatir Nathan langsung berlari keluar.


"Dasar, bucin sok-sokan ngambek


" Kesal indira yang melihat putranya kalang kabut, sifat Nathan tidak jauh beda dari suaminya.


Nathan kembali mengendari mobilnya menuju kantor, pria itu mencoba menghubungi Ami, tapi tidak diangkat, dan melihat titik Gps keberadaan ponsel Ami ada di kantor Adhitama.


"Ck, pasti dia kesal menungguku sampai sekarang, Ay maafkan Aku." Nathan menambah kecepatan laju mobilnya, dia khawatir Ami dikantor, karena hari sudah sore otormatis para karyawan pabrik sudah pulang, dan digedung sebesar itu Ami sendiri.


Hari semakin gelap, ditambah akan turun hujan membuat Nathan semakin khawatir.


Dikamar pribadi Nathan, Ami baru saja membuka matanya, gadis itu sudah terlelap sangat lama hingga dia tidak tahu waktu.


"Uhhhh, sepertinya aku terlalu lama tidur." Gumamnya dengan merenggangkan otot tubuhnya.


Mengambil ponsel ditas kecilnya Ami, membelalakkan matanya ketika melihat jam yang sudah hampir jam enam sore.


"Loh, kok masih utuh makananya." Ami membuka kotak makan yang dia bawa, dan ternyata masih utuh. "Apa dia tidak mau makan? tapi kenapa dia juga tidak ada." Ucap Ami dengan bingung.


Karena sudah sore Ami pun memilih untuk pulang, mungkin saja Nathan tidak tahu jika dirinya datang ke kantor.


Ting


Ami keluar dari lift cuaca diluar sudah turun hujan, dia mengehela napas dengan lemas.


"Kalau begini bagaimana caranya aku pulang." Mengambil ponselnya lagi berniat menghubungi Nathan, tapi ponselnya sudah mati kehabisan daya. "Ck, tadi lu masih nyala, kenapa sekarang mati sih." Kesalnya Ia lampiaskan pada benda pipih itu.


Dengan terpaksa Ami menunggu hujan reda, dan siapa tahu ada yang Ia mintai tolong.


Karena takut menunggu didalam sendiri, Ami memilih melipir di pinggiran kantor bagian pojok, disana disediakan kursi tunggu yang lumayan bisa untuk berteduh.

__ADS_1


Nathan langsung keluar dari mobil, pria itu berlari untuk menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai sembilan.


Ting


Nathan segera keluar setelah pintu lift terbuka.


Brak


membuka pintu kerjanya kasar Nathan tidak melihat adanya Ami.


"Ayana...!!"


Karena tidak ada Nathan membuka pintu kamar pribadinya. "Sayang...!!" Nihil, Nathan tidak melihat Ami, tapi melihat tempat tidur yang sedikit berantakan, Nathan yakin jika Istrinya tadi sempat tertidur diranjang.


"Sial.." Dadanya kembali bergemuruh ketika tidak ada Ami di kantor, Nathan mengusap rambutnya kasar dengan frustrasi.


"Kami di mana Ay.."


Langkah kakinya membawanya keruang khusus ccctv.


"Sore pak." Petugas yang berada diruangan itu memberi hormat.


Nathan hanya mengaguk. Cepat periksa cctv ruangan saya, sampai lobby kantor." Titahnya dengan cepat.


Petugas itu mengangguk, dan segera melakukan apa yang bosnya suruh.


Dicctv Nathan bisa melihat jika Ami benar datang, cukup lama Istrinya tertidur, hingga beberapa menit yang lalu Nathan melihat wajah Ami yang muram dan keluar dari kantor.


"Sial.." Umpatnya lagi yang langsung melesat pergi.


"Bos aneh." Gumam penjaga ruangan khusus cctv itu.

__ADS_1


__ADS_2