
"Mario!" Vania yang sedang duduk didepan tv, terkejut saat putranya berjalan menghampirinya.
"Mama." Mario terseyum, dan langsung memeluk Vania.
Vania membalas pelukan Mario dengan erat, merindukan putra sulungnya yang sudah lama tidak bertemu.
"Kenapa selalu tidak memberi tahu jika pulang." Vania menangis dalam senyum, wanita itu mengusap wajah Mario dengan sayang.
"Sengaja memberi kejutan untuk Mama." Mario tersenyum, dan mengusap air mata yang menetes di pipi sang ibu.
"Nakal." Vania mencubit pinggang putranya.
"Auwss, sakit ma." Pekik Mario yang kesakitan.
Vania malah tertawa. "Bagaimana kabarmu, apa kamu datang hanya sendiri?" Vania menoleh kebelakang seperti mencari seseorang yang Mario bawa.
"Memangnya Mario harus datang dengan siapa mah." Ucapanya dengan sebelah alis terangkat.
Vania hanya mengangkat kedua bahunya. "Pacar, atau calon istri mungkin." Jawab Vania membuat Mario terseyum.
Vania ikut terseyum, "Istrirahat lah dulu, mama akan siapkan masakan kesukaan kamu untuk makan malam." Ucap Vania.
"Terima kasih Mama." Mario mencium pipi Vania dan berlalu menuju kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Sampainya dikamar Mario merebahkan dirinya di atas ranjang bibirnya mengulas senyum dengan tangan mengotak atik ponselnya.
Terdengar nada sambung diseberang sana, sedangkan Mario menunggu pemilik nomor mengangkat panggilanya.
Hawa yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar ponselnya berdering, gadis itu menatap layar yang menampilkan panggilan dari nomor baru.
"Ck, siapa sih." Ucapnya yang mematikan panggilan.
Hawa tipe gadis yang tidak mau meladeni nomor baru yang memanggilnya. Menurutnya hanya orang yang kurang kerjaan.
Hawa kembali menaruh ponselnya diatas kasur, gadis itu memilih mengambil paper bag yang Mario beri.
"Ck, kenapa malah dimatiin sih." Rutuk Mario kesal, karena panggilanya malah dimatikan sepihak, bukannya diangkat. Mario kembali melakukan panggilan pria itu tidak akan mwnyerah.
Hawa yang sudah duduk diatas ranjang dengan barang-barang yang baru saja dia keluarkan, menatap barang-barang yang Mario berikan satu persatu.
Hawa menatap barang-barang yang katanya Mario beli selama tiga tahun pria itu menghilang, dan barang-barang yang Mario beli membuat Hawa heran dan ingin tertawa.
"Jepit, bando, ikat rambut, kenapa semua berwarna biru." Ucap Hawa sambil menatap lucu.
Drt...Drt..Drt...
Ponselnya kembali berdering, Hawa melihat panggilan Vidio masuk dan terpampang foto pria yang baru Hawa lihat tadi.
__ADS_1
"Om ganteng." Gumam Hawa sambil melihat nomor Mario yang menelponnya dengan panggilan Vidio call.
Hawa berdehem sebelum menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan.
"Fyuhh." Hawa membuang napas. "Rileks Awa, dia hanya menelpon saja."Ucapnya sambil membuang napas pelan.
"Kenapa lama sekali mengangkatnya?"
Pertama yang Hawa lihat wajah Mario yang tampan dengan mimik seperti kesal.
Mario yang melihat Hawa diam saja menghela napas, merubah posisinya menjadi bersandar kepala ranjang, Mario terseyum, menyadari jika gadis kecil yang dia lihat sedang menatapnya tak berkedip.
"Hawa Malika Adhitama." Ucap Mario dengan suara berat.
Hawa mengerjap beberapa kali dengan bibir yang terbuka sedikit, Mario yang melihatnya gemas, sangking gemasnya Mario sampai mengigit bibirnya sendiri.
"Kamu suka hadiah yang aku beli." Ucap Mario mencairkan suasana yang membuat jantungnya berdebar.
Hawa langsung menatap hadiah yang Mario maksud.
"Apakah aku seperti anak kecil, sehingga Om memberikan barang-barang seperti ini." Ucap Hawa sambil menunjuk beberapa jepit dan masih banyak bentuk dan motif yang lain dengan warna biru semua.
Mario terkekeh. "Saat pertama kali melihatmu, aku membelinya, aku pikir kita akan bertemu di saat kamu masih kecil, tapi ternayata_"
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil lagi Om." Ucap Hawa dengan wajah mencebik.
Mario malah tertawa, "Ya, kamu bukan anak kecil lagi, tapi bisa diajak untuk membuat anak kecil."