
Ando pergi setelah tahu jika teman istri sahabatnya sudah melewati masa kritis.
Pria itu akan menyelidiki seperti yang diperintahkan oleh Nathan, meskipun Nathan sudah menduga seseorang sebagai tersangka Ando tetap harus mencari bukti agar memperkuat dugaan Nathan.
"Kak, tunggu." Ando yang ingin masuk mobil menoleh kebelakang.
Seorang gadis berisi berlari menuju kearahnya.
"Hosh..hosh.." Olive ngos-ngosan sampai didepan Ando.
"Kamu mau apa mbul?" Tanya Ando yang heran melihat Olive sampai berlari untuk mengejarnya.
"Aku mau ikut." Ucap Olive yang sudah sedikit merasa tenang.
Ando menyipitkan mata. "Untuk apa, ini bukan urusan bocil." Ando ingin masuk mobil tapi jasnya ditarik Olive.
"Cuma mau ikut kak, dan aku bukan bocil." Olive menatap Ando tidak suka dengan panggilanya tadi.
"Ya..ya..bukan bocil, karena badan kamu tidak bisa dibilang bocil." Ando tertawa, membuat Olive memanyunkan bibirnya.
"Terserah."
Blam
__ADS_1
Olive lebih dulu masuk kedalam mobil Ando dan duduk di bagian kursi belakang.
"Eh, mbul gue bukan supir lu." Ando membuka kembali pintu belakang menyuruh Olive keluar.
Olive menurut dan pindah duduk di kursi penumpang depan.
Ando hanya memutar bola matanya malas.
"Lu jangan ngerecokin tugas gue mbul, awas aja sampai lu bikin ulah." Ancam Ando membuat Olive mencebik.
"Ish, galak banget jadi orang, pake ngancem segala." Gerutu Olive dengan jengkel.
Ando hanya diam, dirinya mendengar Olive menggerutu.
Tak lama mobil Ando sampai direstoran tempat Ami tadi memesan nasi boks yang lumayan banyak, tapi diantara ratusan warga, hanya satu yang memakan korban, dan itu jelas nasi yang dikasih petugas restoran khusus untuk Ami.
"Maaf, ada yang bisa kami bantu." Tanya pria yang berpakaian rapi dengan setelah jas.
Ando menatap pria itu. "Apa anda pemilik restoran ini?" Tanya Ando.
"Maaf, saya menager disini." Jawab pria itu, dan Ando hanya menggaguk.
"Baiklah, bisa kita bicara sebentar dan nanti tolong panggilkan karyawan anda yang itu." Tunjuk Ando pada pria tadi yang masih melayani pengunjung lainnya.
__ADS_1
Manager itu hanya mengangguk, dan beliau mengajak Ando dan Olive keruang kerjanya.
"Perkenalkan saya Ando Prayoga." Ando memperkenalkan diri.
Pria itu tersenyum, "Saya tahu anda tuan." Jawab pria itu yang memang tahu siapa Ando Prayoga.
Ando hanya mengaguk santai. "Langsung saja, saya ingin bertemu karyawan anda yang tadi dan ini menyangkut makanan yang restoran ini kirim ke alamat pinggiran kota, atas nama Ayana Adhitama."
Glek
Pria itu menelan ludah, mendengar nama belakang yang disebutkan Ando.
"A-adhitama."
"Ya, dan anda tahu makanan yang dia pesan terdapat racun gang bisa membahayakan nyawa orang, dan saya akan menuntut dalam kasus ini." Ucap Ando menatap pria itu penuh intimidasi.
"Baik, akan saya panggilkan karyawan yang mengantar pesanan tadi, dan saya pribadi minta maaf atas kejadian yang sama sekali saya tidak tahu." Pria itu memanggil seseorang lewat Sabungan telepon.
Dirinya tidak tahu jika tadi yang memesan banyak nasi boks adalah Istri dari konglomerat kota.
Apalagi mendengar jika makanan yang dipesan terdapat racun yang bisa menghilangkan nyawa orang.
Olive menatap pria didepanya sinis.
__ADS_1
Tak lama orang yang ditunggu datang, dan ketika melihat wajah Olive pria itu terkejut.
"Mampus kamu." Ucap Olive tanpa suara ketika pria itu menatap kearahnya. Olive membalas tatapan tajam pria itu dengan sinis.