My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Gawat


__ADS_3

"Lama banget tau." Olive memanyunkan bibirnya ketika melihat sahabatnya menghampirinya.


"Hihi..sorry lakik gue butuh rayuan." Jawab Ami membuat Olive mendelik.


Ami sekarang berubah, berubah sifat polos menjadi sedikit tercemar bila di pancing.


"Ayo, mumpung di kasih ijin ini, lagian cuma sebentar buat ngehargai kak Zian doang." Ucap Ami yang menarik Olive masuk ke mobilnya.


Ya, Ami datang hanya untuk menghargai Zian tidak lebih, karena pria itu pernah baik dengan-nya.


Di kafe memang ramai, selain kafe tidak tutup Zian juga menyiapkan tempat outdoor dibagian belakang kafe untuk acara pestanya.


Teman sekolah Zian undangan semua termasuk adik kelas yang ingin datang Zian persilahkan.


"Wah, gila sobat gue ini emang udah ganteng plus tajir pintar bisnis." Ucap Vano dengan berdecak kagum.


"Yoi bro gue juga seneng liat doi sukses, dan kita pasti juga kena imbasnya, contohnya makan gratis." Sahut Beno dengan senang.


"Otak lu adanya makanan doang Ben." Ketus Vano melirik Zian yang sepertinya menunggu seseorang. "Lu nungguin sapa bro." Tanya Vano menepuk punggung Zian.


"Bukan siapa-siapa." Zian hanya tersenyum.


"Kak Zian, happy birthday ya." Nesya dan Loli datang lalu memberikan hadiah untuk Zian.


"Thanks, nikmati pestanya ya." Jawab Zian dengan tersenyum.


Nesya tersenyum manis, "Btw kalau gue temenin kakak boleh ngak." tanya Nesya dengan penuh harap.


"Em," Zian nampak kembali melihat ke arah pintu lebar dan tak lama orang yang dia tunggu datang juga.


Bibir Zian tersenyum lebar, membuat Nesya juga mengembangkan senyum.


"Kak boleh_"


"Ayana..!!" Zian memanggil Ami dan menghampirinya. "Sorry." Zian meninggalkan Nesya yang penuh dengan kekesalannya..Apalagi usahanya gagal gara-gara kedatangan Ami.


"Pere*k sialan." Umpat Nesya yang mendapat tatapan tajam dadi Vano.

__ADS_1


"Dih, sok suci." Ucap Vano langsung meninggalkan Nesya yang semakin kesal.


Kenapa semua pria menghampiri Ami semua? apa lebihnya gadis miskin itu?


Nesya berlalu dengan menatap mereka benci.


"Kak, selamat ulang tahun." Ucap Ami dengan senyum dan mengulurkan tangannya.


Zian menyambut tangan Ami, dan diluar dugaan pria itu memeluknya.


"Terimakasih sudah mau datang." Zian tersenyum dan melepas pelukannya.


Ami diam mematung, dirinya seperti artis yang di tonton banyak orang, karena semua tamu undangan melihat kearahnya ketika Zian memeluknya.


"Ini kado dari kami kak, selamat ulang tahun ya." Olive yang mengerti keadaan sahabatnya langsung memberikan hadiah yang mereka beli tadi.


"Terimakasih, seharusnya kalian tidak perlu repot-repot." Ucap Zian menatap Ami, padahal yang memberi kado Olive.


Vano hanya mencebik melihat wajah Zian yang sejak tadi senyum. "Oh, ternyata si Miami yang di tungguin, dari tadi dia gelisah Mi, nungguin lu." Ucapan Vano membuat Zian tersenyum malu.


"Ayo, kita kesana. Kalian nikmati saja pestanya."


Zian menarik tangan Ami untuk membawanya ke stand meja makanan, Zian tahu jika gadis yang sendang dia gandeng suka dengan makanan khas pinggir jalan.


"Kamu mau yang mana?" Zian terus tersenyum dan menatap Ami bergantian dengan banyaknya makanan diatas meja.


"Em, kenapa semua makanannya ada disini." Gumam Ami yang melihat banyaknya makanan pinggiran jalan yang pernah dia beli.


"Karena aku sengaja menyediakan ini untuk kamu." Jawab Zian yang mendengar gumaman Ami.


Ami menoleh dengan kening berkerut. "Maksud kak Zian apa?" Tanya Ami yang sepetinya situasi sedang tidak baik-baik saja.


Zian menaruh piring yang dia pegang di atas meja, dan kini dirinya berdiri didepan Ami menatapnya intens.


"Aku gak tau sejak kapal aku menyukai kamu, dan perasaan ini semakin tumbuh ketika kita sering bertemu di kafe ini." Ucap Zian menatap Ami lekat.


Semua yang melihat aksi Zian menatap kearah mereka berdua, ingin melihat seorang Zian Mahendra mengungkapkan isi hatinya.

__ADS_1


Ulah Zian tidak sedikit yang mengabadikan lewat Vidio live hingga dibagikan ke laman publik agar semua orang bisa melihatnya.


"Kak, ini_"


"Mungkin kamu merasa ini terlalu cepat, tapi percayalah jika aku benar-benar menyukaimu." Zian meraih kedua tangan Ami.


Ami ingin menariknya, tapi Zian tidak melepaskan ya.


"Kak, bukan Seperti ini." Ami berucap lirih dengan tatapan memohon agar Zian tidak melanjutkan ucapnya.


"Ayana Malika Ifana mulai sekarang kamu menjadi kekasihku."


Jederr


Ami menatap Zian tidak percaya, perkataan Zian tidak bisa dia terima.


"Lepas.." Ami menarik tangannya, tapi Zian tidak melepasnya. "Kak, jangan sampai aku."


Grep


Zian langsung memeluk tubuh Ami, membuat mereka semua bertepuk tangan dan bersorak. Karena mereka pikir Zian dan Ami menjadi sepasang kekasih.


Seorang pria bersama dengan wanita yang tersenyum sinis menatap dua orang yang sedang berpelukan.


Nathan menatap tajam istrinya dengan kedua tangan mengepal kuat. Dirinya tidak menyangka jika Ami akan melakukan hal yang membuatnya sungguh kecewa.


"Kamu lihat, wanita yang kamu puja-puja ternyata lebih suka dengan adikku." Maudy tersenyum penuh dengan kemenangan.


Idenya berhasil meskipun susah payah membawa Nathan sempai ketempat ini.


"Sialan..!!"


Brak


Nathan menendang kursi dan menghasilkan suara yang begitu keras, Olive yang tidak jauh merasa terkejut ketika melihat suami sahabatnya pergi dengan kemarahan.


"Gawat..celakan dunai akhirat.

__ADS_1


__ADS_2