
Sejak kejadian siang itu, Ami berubah sikap dengan Nathan, meskipun masih menyiapkan keperluan dan melayani kemauan suaminya. Hanya saja Ami yang mulai irit bicara, dia masih kesal dengan ucapan Nathan tempo hari.
Apa dia tidak tahu jika dirinya merasa tidak suka jika ada wanita yang mendekatinya, tapi pria itu malah mengatainya anak kecil, memang apa salahnya diakan memang masih tujuh belas tahun.
Apalagi sejak kemarin ponselnya tidak berhenti berdering sejak bekerja sama dengan wanita yang bernama Hilda, membuat Ami geram sendiri.
"Pak, bapak pergi saja saya akan lama dirumah Olive, jika selesai saya akan hubungi bapak." Ucap Ami yang baru saja keluar dari mobil didepan rumah Olive yang nampak sepi.
"Tapi Non, tuan menyuruh saya untuk menunggu Non apapun itu." Jawab pak Husein dengan cemas. Pasalnya rumah Olive begitu sepi seperti tidak ada orang.
"Ck, bapak nanti kelamaan nungguin saya, saya sampai sore di sini, nanti saya hubungi jika sudah pulang." Bujuk Ami lagi untuk menyakinkan pak supir. Ami memang tahu jika Olive tidak ada dirumah, dan dia akan pergi ke suatu tempat seharian ini agar tidak diganggu oleh Nathan.
"Tapi Non_"
"Bapak tidak udah khawatir, saya sudah ijin suami saya." Ucap Ami lagi untuk menyakinkan.
Pak Husein pun menurut, karena mendegar Ami sudah meminta ijin pada bos-nya.
"Baik Non, kalau ada apa-apa hubungi bapak." Ucap pak Husein yang kembali menjalankan mobilnya, meninggalkan Ami yang masih berdiri di luar.
Ami membuka ponsel dan memesan taksi lebih dulu, sebelum mematikan ponselnya. Karena jika ponselnya dalam keadaan aktif Nathan bisa mencarinya dengan mudah.
"Huhh, pengen healing kemana ini, ck Olive juga pake pergi sih." Ami yang memang hanya memiliki teman Olive saja nampak bingung dan kesepian, hari ini memang dirinya tidak datang ke pinggir kota. Karena Olive tidak ada.
__ADS_1
Tak lama taksi yang dia pesan tiba, Ami segera masuk.
"Ke Ancol saja pak." Ucapnya yang memang ingin seharian ini mengabiskan waktu untuk bersenang-senang.
"Baik mbak."
Jam menunjukan pukul sebelas siang dan Ami baru saja tiba di tempat yang dia inginkan.
"Huh, akhirnya gue bisa ngerasain bebas hari ini." Ami begitu senang, "Ponsel udah mati, uang udah cukup, untung kemaren udah ambil, kalau belum Om menyebalkan itu pasti bisa melacak keberadaan ku." Ucapnya dengan mengehela napas.
Beruntung dirinya ingat jika pengambilan uang di mesin ATM bisa dilacak, dan Ami tidak mau diganggu Nathan hari ini.
Melangkah masuk untuk mencari apa yang dia inginkan, Ami tidak tahu jika sejak tadi ada yang mengikutinya.
.
.
.
Nathan melihat mobil yang sengaja untuk istrinya terparkir di halaman kantor.
Nathan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi supir yang membawa mobil itu.
__ADS_1
"Ke lobby sekarang." Ucap Nathan tanpa kata lain dan langsung mematikan sambungan ponselnya.
"Siang pak." Pak Husein datang dan memberi salam.
"Kenapa bapak disini bukankah saya menyuruh bapak untuk mengikuti kemanapun istri saya pergi." Nathan menatap tajam pria berusia empat puluhan itu.
"Non Ayana berada di rumah temannya sampai sore pak, dan saya suruh pulang karena_"
"Tidak ada yang bisa menyuruh Anda pergi kecuali saya." Nathan bicara dengan tegas, dia tahu akal bulus Istrinya agar bisa bebas. Apalagi sejak kemarin Istrinya seperti memendam sesuatu karena gadis cerewet itu lebih banyak diam.
"T-tapi kata Nona, tuan sudah memberi ijin." Ucap pak Husein takut-takut.
"Sial..!!" Nathan segera menghubungi nomor Ami, tapi tidak tersambung dan diluar jangkauan.
Mengecek keberadaan Ami pun tidak bisa. "Ayana..!!" Nathan yang kesal meremas ponselnya kuat.
"Cari Istri saya sampai ketemu." Setelah mengatakan itu Nathan segera pergi, untuk menemui Hilda agar urusanya cepat selesai dan mencari gadis kecilnya yang nakal.
Nathan adalah pria yang profesional dalam bisnis, mengesampingkan urusan pribadi jika itu tidak mendesak.
"Baik tuan." Pak Husein yang ketakutan langsung pergi untuk kembali membawa istrinya tuanya kembali.
Didalam mobil Nathan masih terus menghubungi nomor Istrinya tapi tetap saja hasilnya nihil, terakhir kali Ami berada di rumah Olive setelah itu tidak ada lagi yang Nathan dapatkan.
__ADS_1
Mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, Nathan tidak perduli dengan pengguna jalan lain, yang hanya dia ingin cepat sampai di tempat tujuan yang lumayan jauh. Karena dia dan Hilda akan meninjau lokasi yang akan di bangun untuk sarana umum, dan itu nanti akan Nathan hadiahkan untuk seseorang.
"Ck, otak gue." Nathan kesal sendiri, otaknya tidak bisa berhenti memikirkan Ami. "Gadis nakal, gue perawani baru tau rasa." Ucapnya dengan otak yang sudah melalang buana.