
"Bu saya ijin ketoilet." Seru Ami dengan mengangkat tangannya.
"Baiklah jangan lama-lama."
Ami pun keluar dengan Olive yang hanya geleng kepala. "Alasan."
Ami berjalan menuju lorong, bukan lorong ke arah toilet melainkan ketempat yang membuatnya penasaran.
Sejak tadi kakinya sudah gatal ingin tinggal kelas, dan baru mendapat kesempatan untuk mengurangi rasa penasarannya.
Ami menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada guru yang melintas.
"Aman.." Gumamnya tersenyum.
"Ck, mereka bicara apa sih, tapi kok." Ami yang melihat Nesya tiba-tiba pingsan memebelalakan matanya. "Tuh nenek lampir kenapa."
Tak lama pintu ruangan kepala sekolah di buka, dan Nesya di gendong oleh Gilang ketua osis.
"Eh.." Ami hanya berdiri diam dengan tersenyum kikuk.
Tak lama para orang tua juga ikut keluar di ikuti dua siswa yang Ami tidak kenal dan dibelakangnya juga ada guru.
"Eh, Bu sisil hee." Ami memamerkan gigi putihnya menyengir.
"Kamu ini." Bu Sisil menarik hidung Ami gemas, beliau malah tersenyum.
"Eh, tumben tu guru senyum. Biasanya melotot." Ami mengikuti gaya Bu Sisil sambil melotot.
Ehem
"Yasalam." Ami mengusap dadanya karena kaget.
"Ayana, ngapain kamu disini bukanya belajar." Tanya pak kepala sekolah yang berdiri didepan Ami dan dibelakang ada Nathan.
"Em, saya. eh i-itu pak." Tunjuk Ami pada seseorang.
Kepsek pun hanya menggeleng dan berlalu pergi.
"Hufh..Aman gue." Ami ingin berlalu pergi, tapi kerah bajunya ditarik dari belakang.
"Ehh..Lepas Om." Ucap Ami yang memang tahu ulah siapa.
"Lagi.." Ucap Nathan tegas dengan bibir menyeringai.
__ADS_1
"Ihh, inikan disekolah, plis By lepas." Ami menatap Nathan dengan memutar kepala menampilkan wajah memelas.
"Udah bikin aku kambing hitam, terus mau kabur gitu aja iya..hm." Nathan menjewer telinga Ami.
"Awss, By sakit." Lirih Ami ketika ada siswa yang lewat, melihatnya tak biasa. "Apa, jangan liatin gue kayak gitu." Ketus Ami pada siswa itu.
Nathan geleng kepala. "Preman kamu disekolah." Nathan merangkul leher Ami untuk mengikuti dirinya.
"By, mau kemana. Aku mau belajar."
"Ck, nakal."
.
.
.
"Raya, boleh saya tanya sesuatu?" Ucap Bu Hesti istri pak teguh.
Kedua wanita itu sedang meracik sayur untuk dimasak. Rencananya malam ini ada acara di rumah pak teguh, acara kumpul keluarga besar.
"Iya Bu, ada apa?"
Raya hanya tersenyum. "Mbak Hesti mau tanya apa?"
Hesti nampak bingung, dirinya merasa tidak enak tapi ini juga harus di tanyakan agar tidak penasaran.
"Begini apa Raya punya em_kekasih." Tanya Hesti dengan hati-hati.
Raya malah terkekeh. "Mbak ada-ada aja tanyanya," Raya masih geleng kepala.
"Apa ya, gini loh itu si Mustafa, minta mbak tanyain ke kamu, katanya dia suka kamu dan ingin kenal sama kamu." Mustafa adalah adik dari pak teguh duda anak satu.
Raya tersenyum, dia juga bisa melihat jika adik pak teguh tertarik padanya, ketika setiap kali mereka bertemu di rumah pak teguh. Dan semenjak melihat Raya, Mustafa sering berkunjung kerumah pak Teguh.
"Saya tidak membatasi orang yang ingin kenal dengan saya mbak, asalkan orang itu berniat baik maka saya akan menerimanya dengan baik."
Mendengar jawaban Raya membuat Hesti tersenyum lebar. Dirinya senang jika seandainya adik iparnya dan Raya bisa bersatu dalam ikatan pernikahan.
.
.
__ADS_1
"By lihat ini, Nathan decoconute." Ucap Ami menunjukan botol minumnya yang bertuliskan nata decoco.
"Ck, kamu bisa sekolah, tapi tidak bisa membaca." Kesal Nathan yang mendegar Ami memplesetkan tulisan di botol minum itu.
Ami tertawa cekikikan. "Kan reader suka panggil nama kamu Coconut."
Nathan mendelik, dan menghabiskan kopi yang dia pesan.
Keduanya berada dikantin sekolah yang sepi, karena memang belum jam istirahat.
"Nanti malam aku pulang telat, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan." Ucap Nathan menatap wajah sang Istri.
"Boleh aku kerumah bunda, setelah dari pinggir kota." Tanya Ami bermaksud meminta ijin.
"Hm, nanti pak Husein akan menjemputmu." Tangan Nathan menepuk kepala Ami pelan.
Mereka berdua tidak tahu jika sejak tadi penjaga kantin sudah bergerombolan memandang dua insan yang begitu sweet.
"Duh, mas kalau saja aku masih cantik dan seksi pasti kamu mau sama aku, tapi sayang tubuhku tak seindah ucapanku."
"Huuu, Mak Nor mulai edan." Mereka bersorak, membuat Nathan dan Ami menoleh.
"Lah, ternayata kita jadi tontonan Om."
Cup
"Aaaaaa..duh Gusti, bojoku dimana ini, mataku terzolimi." Teriak mereka yang melihat adegan singkat yang mampu membuat dada berdebar.
"Om mesum.." Ami menutup mulutnya, membuat Nathan tertawa.
"Maaf ya, ibu-ibu. Istri saya memang harus diberi hukuman." Ucap Nathan semakin membuat ibu-ibu kantin menganga tak percaya.
"Walah jan, mereka ternayata pasangan halal bin halal."
Nathan tertawa, dan mengajak Ami untuk pergi dari kantin, karena dirinya ada metting penting tiga puluh menit lagi. Sejak tadi ponselnya terus berdering panggilan dari Ando.
"Hati-hati By." Ucap Ami yang melihat Nathan sudah masuk ke mobil.
"Ya, kamu juga jaga diri." Nathan terseyum, dirinya melambaikan tangan dan meninggal parkiran sekolah beserta sang Istri.
"Oh, jadi kalian memiliki hubungan."
Deg
__ADS_1