My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Insiden


__ADS_3

"Auwssa...sakit tau Mi." Olive yang tertimpa tubuh Ami kesakitan.


"Sorry, gara-gara lakik gue tadi telepon." Ucap Ami yang membantu Olive berdiri.


Kedua gadis itu sama-sama merasa kesakitan karena jatuh lantai berdua, tapi yang paling ngenes si Olive yang tertimpa tubuh Ami.


"Lagian kamu kurang kerjaan banget sih, pake negintipin orang segala." Kesal Olive yang mau saja diajak Ami mendekati suara aneh di bagian gudang belakang sekolah.


Suara aneh itu seperti suara rintihan dan desahann yang membuat telinga orang tercemar bila mendengarnya.


"Ck, namanya juga penasaran, belum sempat lihat udah jatuh duluan gara-gara si Om." Ami mengusap lenganya yang terasa panas.


"Luka masih basah juga, malah cari perkara." Olive menatap Ami tajam, sedangkan Ami hanya cuek.


Gadis itu tidak tahu jika karena perbuatanya tadi sampai membuat orang lain khawatir.


"Iya deh, Sorry. Gue tlaktir ke kantin deh apa aja terserah Lo." Ami merangkul bahu sahabatnya, keduanya berjalan menuju kantin yang sudah ramai karena bel Istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu.


"Kamu mau aku di gorok sama Mama aku." Olive mendelik dengan tatapan kesal.


Ami menyengir. "Kan Mama kamu gak lihat, lagian gak tiap hari juga kali."


"Ck, kamu gak tau rasanya setiap pulang sekolah harus berdiri di atas timbangan, melihat jarum bergeser ke kanan apa kiri." Keluh Olive, yang malah membuat Ami tertawa.


Pasalnya waktu tinggal di rumah Olive, Ami memang sering melihat hal aneh yang Mama Olive lakukan dan itu cukup membuat Ami tidak tega dengan sahabatnya yang mendapat diet ketat dari Mamanya.


"Tidak apa-apa demi masa depan, siapa tahu kamu nanti kan berjodoh sama aktor Thai yang kamu idolakan itu." Ami terkikik sendiri, melihat wajah Olive yang kian kesal.


Sampainya dikantin Olive mengambilkan minuman dan makanan untuk Ami, gadis itu berkata jika Ami tidak boleh banyak bergerak kalau lukanya mau cepat sembuh. padahal yang luka kening, apa hubungannya coba.

__ADS_1


Nathan mengendarai mobilnya dengan cepat, pria itu tidak bisa menghubungi ponsel Istrinya lagi setelah terputus tadi.


Karena tidak memperhatikan rambu-rambu Nathan menerobos lampu merah. Hingga dirinya harus membanting setir karena menghindari mobil dari arah lawan.


Brak


Mobil Nathan menabrak pembatas jalan, hingga membuat keningnya bersentuhan dengan setir kemudi. Membuat Nathan sedikit merasa pusing.


"Pak..!! Pak..!!"


Dari luar kaca jendela mobil diketuk, Nathan yang masih menegusai Kesadarannya membuka kaca jendela.


"Bapak tidak apa-apa?" Tanya warga yang mendekati mobil Nathan.


"Ahss.." Nathan meringis menyentuh keningnya yang berdenyut-denyut. "Tidak apa-apa pak, maaf saya teledor." Jawab Nathan dengan pelan.


"Tapi kening bapak berdarah," Ucap bapak itu lagi yang melihat kening Nathan berdarah.


Setelah pamit dan menyakinkan jika dirinya baik-baik saja, Nathan kembali mengendarai mobilnya, menuju kesekolah sang istri.


Bahkan karena gadis yang tidak tahu kenapa, Nathan sampai bisa melalaikan keselamatannya sendiri, padahal gadis yang dia khawatirkan baik-baik saja.


.


.


Bel masuk sekolah berbunyi, Ami dan Olive sudah berada di kelas, beruntung mereka tidak satu kelas dengan Nesya dan mereka merasa lega.


"Ayana, kamu dipanggil keruang kepsek." Ucap siswi yang sengaja menghampiri Ami di kelasnya.

__ADS_1


"Aku? kenapa?" Tanya Ami pada siswi itu, siswi itu hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu pergi.


"Udah sana, sapa tahu ada kejutan." Ucap Olive yang sedikit mendorong tubuh Ami.


"Ck, kejutan apa? awas aja kalau nenek lampir berulah." Ami beranjak berdiri dan berjalan keluar kelas. Gadis itu nampak biasa saja kalau-kalau benar Nesya sampai melapor dan membawa masalah mereka sampai ke kepsek, otomatis akan merugikan dia sendiri.


Tok..tok...tok..


"Masuk.." Suara dari dalam membuat Ami mengehela napas, perlahan mendorong pintu dengan pelan.


"Loh Mas." Ami yang melihat Nathan duduk di sofa dan asa petugas UKS yang sedang memasang perban di keningnya. "Kamu kenapa?" Ami langsung mendekati Nathan dan duduk di samping suaminya.


Karena luka Nathan sudah diobati, petugas itupun pamit pergi.


"Sebaiknya, Nak Ayana jangan membuat nak Nathan panik kalau tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Pak kepsek pun hanya tersenyum dan pergi meninggalkan sepasang suami istri itu di ruangan pribadinya.


"Ini kenapa?" Bukannya Ami yang bertanya, memainkan Nathan yang menyentuh kening istrinya yang sama-sama dipasang perban.


"Ini." Ami tidak tahu harus menjawab apa. "Ini, ini tadi jatuh waktu hubby telepon." Ucap Ami cepat.


"Dan ini kenapa? kenapa bisa luka seperti ini, dan..dan kenapa bisa sampai disekolah." Pertanyaan rondom Ami membuat Nathan mengehela napas. Tangannya menarik tubuh gadis itu masuk kedalam pelukannya.


"Karena suara teriakan kamu, aku bisa disini dan seperti ini." Ucap Nathan mencium kepala Ami. "Aku kira kamu kenapa-napa sampai berteriak dan ponselnya mati. Dan karena tidak memperhatikan jalan aku sampai menabrak pembatas jalan." Tutur Nathan dengan perasaan lega. Justru dirinya tidak kahawatir dengan keadaanya sendiri melainkan keadaan istri kecilnya yang suka membuatnya sering senam jantung.


"Jadi ini karena aku?" Ami menatap wajah Nathan dari bawah, dan Nathan pun menunduk.


"Em, dan kamu harus tanggung jawab."


Dua benda kenyal saling bersentuhan, Nathan mengecup dan melumatt bibir tipis istrinya.

__ADS_1


Tidak peduli sedang berada di sekolah, keduanya menikamati apa yang sedang mereka lakukan, sama-sama menginginkan.


__ADS_2