My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Hanya memberi waktu


__ADS_3

Mario keluar dari ruangan kerja miliknya sambil menghubungi ponsel Hawa.


Mario melihat jam diponselnya, dan ternyata pukul 6 pagi itu berarti di Jakarta sudah pukul 12 siang, lalu kemana gadisnya tidak bisa dihubungi.


Mario terus mencoba tapi hasilnya nihil, 2 hari dirinya tidak istirahat, bahkan makan dan minumpun Mario kerjakan didepan layar komputer milikinya, dirinya hanya beranjak saat mandi dan kebutuhan lainnya yang harus meninggalkan kursi kerjanya. Karena dengan begitu pekerjanya akan segera selesai dan dia akan kembali ke Jakarta dengan cepat.


Tapi siapa sangka jika di sana seorang gadis menunggu kabar pria itu siang dan malam.


"Hawa, kamu membuatku gila." Mario mengusap wajahnya kasar, pria itu tidak menemukan titik di mana Hawa sekarang, hanya saja Mario bisa tahu titik Hawa di rumah besarnya, dan itu tidak mungkin kalau jam segini seharusnya Hawa masih di sekolah.


Pasti gadis itu melepaskan gelang yang dia berikan, entah apa tujuan Hawa tapi Mario khawatir karena Hawa tidak pernah melepaskan gelang pemberiannya sampai saat ini.


"Kenapa?" tiba-tiba Fabio berada dibelakang tubuh Mario.


Mario menyadarkan punggungnya ditembok belakanganya, kepala pria itu mendongak ke atas.

__ADS_1


"Hawa tidak bisa dihubungi, aku lupa memberinya kabar." Ucap Mario dengan menghela napas panjang.


Fabio hanya geleng kepala, "Kau butuh istirahat, sudah dua hari kau tidak tidur. Jadi_"


"Aku rasa kau sudah bisa mengatasi semua." Potong Mario lebih dulu.


"Hey kau jangan gila dude. Kau bisa masuk rumah sakit karena kelelahan." Ucap Fabio mengingatkan Mario yang suka berbuat nekat semaunya tidak perduli dengan kesehatan dirinya sendiri apalagi semenjak dengan gadis itu Mario seperti magnet yang selalu tertarik untuk mendekati gadis itu.


"Ok, Fik. kau bisa melakukanya." Mario menepuk bahu Fabio tanpa perduli dengan ucapan Fabio yang memperingatinya.


"Mario..!!" Panggil Fabio tapi tidak diharaukan oleh Mario, pria itu berlari menuju lift dan melambaikan tangannya saat pintu lift akan tertutup. "You're crazy Mario."


Fabio tidak habis pikir dengan sahabatnya itu, sebegitu cintanya kah dengan gadis yang sudah mengambil seluruh hidup Mario. Kini Fabio mengerti jika cinta memang buta, tidak mengenal waktu seperti Mario.


Sedangkan di Jakarta Hawa baru saja menyelesaikan ujian dihari ketiga. Gadis itu cukup lega karena bisa melewati hari ketiga dengan baik, meskipun pikirnya sedang bercabang, tapi Hawa tetap fokus demi nilai bagus.

__ADS_1


"Ayo kita pulang." Sasa tiba-tiba bersorak sebelum Hawa bangkit berdiri. "Besok hari terakhir ujian, Sepertinya kita harus healing untuk merilekskan otak kita." Ucap Sasa dengan senang saat membayangkan liburan sejenak.


"Hm, mau kemana? sepertinya kamu benar, kita butuh refreshing." Jawa Hawa, selain melepas penat, Hawa juga ingin melepaskan kegundahan hatinya yang masih memikirkan Mario.


"Kita ke pantai, tempat yang paling indah."


Hawa mengaguk setuju, besok mereka akan liburan sejenak untuk merefresh otak. Hawa pikir tidak ada salahnya karena besok adalah hari terakhir dirinya ujian sekolah.


Hawa menatap pos ponselnya yang dia matikan sejak dua hari lalu. Sebenarnya dia membawa ponselnya itu kemana saja, tapi Hawa sengaja mematikan agar tidak dihubungi Mario. Entah kenapa kali ini dirinya egois dan kesal, tapi meskipun begitu Hawa juga menghawatirkan pria itu yang jauh disana.


"Hah, maaf Om aku tidak bermaksud marah. Tapi agar kamu cepat menyelesaikan urusanmu, kalau begini aku tidak akan menunggu kabar darimu sing dan malam karena ponsel sengaja aku matikan." Ucap Hawa dalam hati, menatap sendu layar ponselnya.


.


.

__ADS_1


Oiiiyy lama ngak Up yak🤫


__ADS_2