My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Sapi perah


__ADS_3

Ami mengerjap dengan tangan menyentuh sisi bagian samping tempat tidur.


Kosong, dan dingin.


Matanya langsung terbuka, dan melihat kesamping ternyata Nathan sudah tidak ada.


"By..!!" Ami memanggil dengan suara keras namun dirinya sadar jika suaminya sudah tidak ada lagi di apartemen, melihat jendela kamar yang sudah terbuka, dan segelas susu lengkap dengan sandwich di samping tempat tidur.


Ami mengambil kertas kecil yang terselip di bawah gelas susu


"Good morning my wife...


Have a nice morning..


Sorry, when you open your eyes, I'm no longer by your side..


don't forget to drink the milk


I love you.."


Ami mengehela napas, Nathan selalu pergi sebelum dirinya membuka mata.


Setelah tadi malam bergulat panas diatas ranjang sampai hampir lagi, kini Nathan sudah pergi dengan alasan pekerjaan. Padahal suaminya itu hanya tertidur tiga jam dan Ami merasa jika Nathan semakin sibuk dengan dunianya sendiri.


Dan dia yang sudah tidak ada kegiatan karena sudah lulus sekolah menjadi bosan dan memiliki mencari hiburan sendiri.


Ami bergegas masuk ke kamar mandi gadis itu memiliki bayak acara diotak kecilnya itu, dia sudah merencanakan kegiatan hari ini, meskipun tanpa supir dia bisa pergi kemanapun.


"Huhf.. Begini amat ngak punya temen." Ami membuka room chat milik Olive, gadis itu mengirim pesan.


"Gue rindu ngemall bareng."


Ami mengirim chat pada Olive, dengan foto kedua kakinya yang menapak pada jalan.


Ting


Pesan masuk Olive membalas.


^^^"Istri sultan sepertinya sedang kesepian.."^^^


Pesan dari Olive semakin membuat bibir Ami cemberut apalagi di tambah emot tertawa.


"Lu, ngak kasihan sama gue kaya orang ilang, gue kangen lu Ndut." balas Ami di tambah dengan emot berkaca-kaca.


^^^"Aku udah ngak gendut, Miami.. dan jangan panggil aku Ndut." Olive menyematkan emot marah.^^^

__ADS_1


Ami cekikikan, dia tahu kenapa sahabatnya itu tidak suka di panggil 'ndut'.


Tak lama pesanan taksi Ami datang, gadis itu tadi menunggu dihalte yang tidak jauh dari apartemennya.


"Dengan mbak Ayana?" Tanya supir yang mengemudi.


"Iya pak.." Jawab Ami yang langsung berdiri.


"Saya supir kantor yang disuruh pak Nathan untuk menjemput Anda." Ucap pria itu lagi yang sudah berdiri disamping mobil.


Ami mengerutkan keningnya, kenapa Nathan tidak bilang jika menyiapkan supir dirinya untuk hari ini.


"Sebentar pak." Ami mencoba untuk menguhungi suaminya, untuk bertanya tapi nomor Nathan tidak aktif.


"Mari mbak saya antar."


Mendengar ucapan supir itu Ami langsung kembali mematikan sambungan teleponnya.


Ami masuk kedalam mobil, "Kerumah baca pak, di jalan xxx."


Dirinya akan kerumah baca lebih dulu, setelah itu dia berencana akan datang kerumah bundanya.


"Baik mbak."


Sepanjang jalan Ami sibuk dengan ponselnya hanya untuk satalking di dunia Maya.


Tak lama supir itu memakai masker khusus dan dia menyemprotkan sejenis aroma terapi kearah belakang tempat Ami duduk.


Karena fokus Ami tidak sadar, hingga semakin lama dirinya semakin mengantuk.


"Perasaan baru bangun deh, kok gue ngantuk banget."


Mulutnya terus menguap, hingga matanya semakin berat dan tidak bisa Ia tahan, Ami pun tertidur dengan ponsel yang masih menyala.


"Beres bos, target sudah aman."


.


.


.


Nathan berkutat pada berkasnya sejak tadi ponselnya memang dia matikan, seperti biasa pria itu tidak ingin diganggu, dan jika rekan bisnis mereka akan menghubungi sekertarisnya.


Jam menunjukan pukul sebelas siang, dia hari ini ada pertemuan penting direstoran xxx.

__ADS_1


"Nat, lu udah siap?" Tanya Ando yang baru saja masuk, pria itu sama seperti Nathan, bahkan Ando yang lebih dulu gila kerja dibandingkan dengan Nathan, sejak keadaanya sedang bermasalah Ando lebih lama menghabiskan waktunya di kantor, tidak seperti dulu yang suka menghabiskan waktu di klab malam dan pulang pagi, kini pria itu menyibukkan diri pada pekerjaan kantor milik Nathan.


"Oke, kita pergi." Nathan mengambil jas yang tersampir di kursi kerjanya, kedua pria pentolan Adhitama itu keluar bersama menuju lift untuk sampai di lantai bawah.


Ando masih bisa tersenyum ketika para karyawan menyapanya, tapi tidak dengan Nathan yang berwajah datar dan kaku, pria itu berjalan lurus tanpa menoleh.


Langkah kaki keduanya sampai di lobby untuk menuju mobil yang sudah terparkir didepan lobby, sebelum masuk Nathan berbicara pada supir.


"Pak tolong datang keaparteman saya, antarkan kemanapun istri saya pergi." Ucap Nathan pada supir yang dia suruh tadi.


Supir itu hanya mengaguk setuju.


"Nat, lu ngak kasihan sama bini lu." Ando melirik Nathan sekilas, pria itu mendapat jatah menjadi supir, kerena jika pergi berdua Ando lah yang lebih suka untuk mengemudi. Meskipun Nathan terkadang memintanya untuk sebagai penumpang, tapi jika masih dalam jam kerja Ando tidak mengiyakan.


Nathan melirik asistennya itu sekilas.


"Kenapa?" Tanya Ando yang hanya dilirik, tanpa ada jawaban dari pertanyaannya.


"Lu kan, tau gue seperti ini buat apa, jangan pura-pura bodoh." Kesal Nathan.


Ando hanya terkekeh, "Iya deh, gue tau. Tapi gue kasihan lihat lu yang seperti sapi perah."


Nathan menatap Ando nyalang. "Lu kasihan sama gue, apa bini gue. Jadi orang kok ngak konsisten." Ledek Nathan yang membuat Ando mendelik.


"Lebih baik lu urusin tongkat ku yang suka nyodok sana-sini, sekarang ku baru rasakan kena tulahnya." Nathan mendapat bahan untuk memojokkan dan membungkam bibir lemes asistennya itu.


"Sialan lu Nat." Kesal Ando yang mendengar ucapan Nathan.


Nathan hanya diam, tanpa mau membalas ucapan Ando, pria itu memilih berkutat pada Ipad-nya memilah pekerjaan yang penting untuk beberapa hari didepan.


Tak lama mobil Nathan sampai diparkiran xxx, kedua pria itu turun dengan memakai kacamata hitam yang entah mereka dapatkan dari mana.


Mereka masuk dengan langkah pasti, tinggal menyebutkan nama seorang pelayan sudah mengantarkan mereka ketempat private yang sudah dipesan oleh klien.


Klien Nathan kali ini bukan klien sembarangan, hanya saja mereka ingin bekerja sama.


"Selamat siang Tuan Nathan." Pria yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Nathan menyapa. Pria itu menyambut kedatangan Nathan dengan ramah.


"Selamat siang Tuan Fork." Nathan juga menyebutnya dengan baik.


Keempat pria itu duduk di tempat masing-masing, tuan Fork yang di temani asistennya, begitupun juga dengan Nathan.


"Sepertinya saya sudah mempelajari proposal yang anda kirim, tapi ada satu poin yang tidak bisa kami persetujui di pengajuan proposal anda." Ucap Nathan yang mencoba, bernego.


Siapa yang tidak mau menjalin kerja sama dengan Fork company, perusahaan terbesar di Eropa yang menggeluti bidang properti, perhotelan dan masih banyak lainnya, sedangkan Adhitama masih dibawah mereka jika di bawa ke Eropa.

__ADS_1


Tapi pasti ada timbal balik yang harus Nathan pikirkan dengan pasti, karena mereka tidak akan menerima kerja sana jika tidak ada sesuatu hal yang menjanjikan.


__ADS_2