
Mobil sedan hitam mewah berhenti diparkiran halaman rumah yang tak kalah besar dari rumah Adhitama.
"Sayang ayo." Ami menoleh kebelakang dimana kedua anaknya sudah tampan dan cantik dengan penampilan mereka. Adam yang menggunakan tuxedo Hitam dan dasi kupu-kupu membuat anak itu terlihat sangat tampan, apalagi wajahnya begitu mirip dengan sang ayah.
"Awa mau sama papa." Gadis kecil yang manis dan cantik itu lebih dulu keluar dari mobil.
Ami hanya geleng kepala, putrinya memang begitu dekat dengan sang papa.
Dan Adam yang melihat adik kembarnya hanya memutar kedua matanya malas, menurutnya terlalu lebai.
"Adam ayo turun nak." Nathan membukakan pintu untuk putranya, setelah membukakan pintu untuk sang Istri.
Adam yang sebenarnya malas, dengan terpaksa menurunkan kakinya keluar dari dalam mobil.
Ami mengandeng tangan Adam, wanita yang berusia dua puluh enam tahun itu begitu anggun dan cantik, mengenakan dress hitam dengan aksesoris mutiara dibagian leher.
Sedangkan Nathan mengenakan tuxedo yang sama dengan Adam, kedua pria tampan itu terlihat gagah dan tampan.
Hawa yang ingin dekat dengan papanya terlihat begitu cantik, rambut panjangnya digerai dengan jepit pita besar berwarna hitam atas kepalanya.
.

Hawa yang cantik menarik perhatian beberapa tamu yang sudah datang, tidak hanya Hawa, melainkan satu keluarga itu menjadi pusat perhatian beberapa tamu.
"Nathan."
Seorang pria yang melihat mereka menghampiri dengan senyum mengembang.
"Julio." Nathan terseyum dan menyambut rekannya itu yang menyambutnya.
"Akhirnya kau datang."
Keduanya saling berpelukan, tangan Nathan terlepas dari genggaman tangan putrinya untuk membalas pelukan temannya itu.
"Tentu kami akan datang." Nathan terseyum, dan menoleh kepada istrinya. "Mereka keluarga ku." Nathan merangkul bahu Ami, dengan bangga dirinya memperkenalkan keluarganya.
Julio tersenyum lebar, "Aku senang kau membawa keluargamu, ayo aku kenalkan dengan keluargaku. Pasti Vania senang." Julio membawa Nathan dan keluarganya untuk bertemu istrinya.
__ADS_1
"Sayang lihat siapa yang datang." Julio memanggil Istrinya yang sendang mengobrol dengan tamu yang lain.
"Hay, apa kabar?" Vania langsung terseyum lebar dan merangkul Ami.
"Baik Van." Ami membalasnya dengan senyum.
Julio dan Vania adalah sepasang suami Istri yang dermawan, Semenjak berdirinya rumah baca Vania sering datang dengan memberikan barang-barang untuk keperluan rumah baca. Meskipun fasilitas nya sudah lengkap tapi Vania yang suka memberi tidak peduli, bahkan Vania juga menjadi donatur dirumah baca padahal Nathan saja tidak kekurangan untuk menentukan rumah baca fasilitas dari finansial.
Tapi begitulah Vania, dia terkenal wanita yang dermawan.
"Ya ampun, Adam, Hawa kalian sangat tampan dan cantik." Vania begitu gemas membuatnya menciumi pipi Hawa dan Adam.
Jika Hawa terseyum senang lain dengan Adam yang kesal.
"Papa Awa mau esklim." Melihat stand eskrim yang melimpah membuat gadis kecil itu tidak bisa menahan untuk tidak segera menahannya.
"Hawa mau eskrim, ayo sana ambil yang banyak."
"Telima kasih Tante cantik." Hawa memamerkan giginya yang rapi dan putih pada Vania, membuat wanita itu tertawa.
"Hawa jangan banyak-banyak sayang!" Intrupsi Ami pada putrinya, karena jika sudah memakan es krim Hawa akan lupa seberapa banyak dia makan.
"Ck, dia tidak ingin dekat-dekat dengan orang dewasa," Kesal Julio jika membicarakan putra sulungnya yang yang akan menginjak remaja itu.
"Papa, Mama." Suara anak di belakang Julio membuat mereka menoleh. "Mike, sini sayang. Kenalkan uncle Nathan dan keluarganya."
Julio memperkenalkan putra keduanya yang sendang berulang tahun.
"Hay, son. Happy birthday." Nathan tersenyum, Ami pun melakukan hal yang sama.
"Terima kasih uncle."
"Nah, ini Adam anak uncle Nathan. Kalian bermainlah." Ucap Julio pada putranya.
Mike yang usianya lebih tua dari Adam mengiyakan, dan membawa Adam untuk bermain dengannya, menunjukan sesuatu yang Mike punya pada sahabat barunya itu.
"Nat, bagaimana Mike? apa masuk kriteria untuk princess." Tanya Julio dengan senyum mengembang.
Nathan membulatkan kedua matanya, "Ck, princess ku masih kecil Jul, jangan mengada-ada."
__ADS_1
"Masih kecil saja sudah membuat aku tertarik untuk menjadikannya menantu."
Hawa berjinjit-jinjit untuk untuk mengambil eskrim yang dia inginkan. Sayangnya eskrim yang sangat dia sukai berada ditengah-tengah. Karena tubuhnya yang kecil otomatis tangannya tidak sampai untuk menggapainya.
"Ish, kenapa susah sekali." Karena tidak bisa Hawa menjadi kesal.
"Siapapun tolong yang mau ambilkan Awa esklim, nanti Awa kasih hadiah." Gumam gadis kecil itu sambil tangannya berusaha menggapainya.
Tapi karena memang tidak sampai, Hawa tidak akan bisa meraihnya.
"Kalau tidak sampai jangan dipaksakan, kalau jatuh kamu akan membuatnya berantakan." Ucap seseorang dari balik punggung gadis kecil itu.
Hawa yang mendengar menoleh ke belakang. Wajahnya sampai mendongak agar bisa melihat seseorang yang menjulang tinggi didepanya.
Wajah Hawa ditekuk, secara tidak langsung laki-laki didepanya ini memarahinya.
"Dari pada kakak malah-malah sama Awa, lebih baik akak bantu Awa ambilkan esklim."
Pria itu memincingkan matanya, "Tidak ada esklim adanya eskrim."
"Ish, Awa tidak bisa bilang L tau." Jawab hawa yang lagi-lagi tidak bisa huruf R, dan malah jadi L.
"Ck, belajar ngucap huruf yang benar." Ucap pria remaja itu dengan senyum yang dikulum, merasa gemas dengan ucapan anak kecil didepanya.
"Nih." Satu cup eskrim yang Hawa inginkan, berada didepan matanya.
Mata Hawa berbinar melihat eskrim yang dia inginkan.
"Lain kali bilang eskrim yang benar." Pria itu memasukkan kedua tangannya disaku celana.
"Kakak sini deh Awa bisikin?" gadis kecil itu melambaikan tangannya menyuruh pria tinggi didepanya untuk menuduk.
Karena penasaran, pria itu menuruti permintaan Hawa.
"Apa?" tubuhnya sudah menuduk, sejajar dengan tinggi Hawa dari setengah tumbuhnya.
Cup
"Tadi Awa janji, kalau ada yang tolongin Awa, akan Awa kasih hadiah."Senyum manis Hawa membuat pria itu tertegun, apalagi mendapat kecupan dipipinya.
__ADS_1
"Dia." Pria itu mengusap pipinya dengan senyum menatap tubuh kecil Hawa yang sudah menjauh darinya.