
"Taraa.. aku belikan kamu sara_"
Brug
Ami langsung memeluk Nathan yang masih berdiri dengan menenteng bungkusan bubur yang dia pamerkan.
"Hiks..hiks..jangan pergi lagi."
Nathan diam mematung mendengar Isak tangis sang Istri.
"Sayang, kenapa menangis." Nathan membalas pelukan Ami dan mengusap punggungnya menggunakan tangan yang menganggur.
"Jangan pergi lagi." Ucapnya dengan lirih, membuat Nathan mengehela napas.
"Tidak akan kemana-mana, aku memebelikanmu bubur." Nathan melonggarkan pelukannya untuk melihat wajah Ami.
Wajah sembab, dengan air mata yang mengalir. "Jelek tau, aku tidak pernah melihatmu menangis seperti ini, selain dirumah sakit." Nathan terseyum.
Ami memang hampir tidak pernah menangis didepanya kecuali waktu dirumah sakit saat bunda Raya mengalami kecelakaan.
Wajah Ami langsung ditekuk. "Kamu jahat." Setelah mengatakan itu Ami berbalik meninggalkan Nathan masuk kedalam.
"Eh, kok ngambek." Nathan langsung mengejar Istrinya masuk.
"Sayang, makan dulu." Ucap Nathan yang membuka bungkusan bubur.
Ami pun mendekati Nathan yang duduk di sofa menghadap jendela kaca besar hotel itu.
Melihat bubur yang Nathan sipakan membuat Ami mengernyit.
"Kenapa tidak ada bawang gorengnya?" Ami menatap suaminya yang baru saja duduk, setelah mengambil botol air mineral.
"Bau bawangnya tidak enak, bikin perutku mual." Ucap Nathan yang meraih bungkusan bubur.
Ami semakin bingung, "Bukannya Hubby menyukai bawang goreng?" Tanya Ami lagi.
"Entahlah, sekarang aku tidak menyukainya, baunya bikin mual dan ingin muntah." Nathan menyodorkan sendok didepan bibir Ami, menyuapinya bubur.
__ADS_1
Karena merasa lapar, Ami tidak mempermasalahkan bawang goreng lagi, hanya saja terlihat aneh jika suaminya tiba-tiba mual karena mencium bawang goreng.
"Setelah ini bersiaplah, kita akan jalan-jalan. Besok kita akan pulang ke Jakarta." Ucap Nathan yang masih menyuapkan bubur, keduanya makan satu wadah yang sama dengan bergantian.
"Em," Ami mengaguk dan tersenyum lebar.
"Jangan memikirkan hal yang aneh, aku tidak mau melihatmu seperti tadi." Ucap Nathan yang menatap Ami dalam.
Ami hanya diam, pikirnya kembali pada mimpi dan ketakutannya. "Tapi di mimpi itu seperti nyata, aku takut jika terjadi kenyataan." Wajah Ami berubah sendu.
"Sttt, itu hanya bunga tidur. "Tangan Nathan mengelus pipi chubby Istrinya. "Aku tidak akan meninggalkan mu kecuali maut yang memisahkan kita." Nathan mendaratkan kecupan dibibir Istrinya.
"Mandilah, atau mau aku mandikan." Nathan mengangkat satu alisnya dengan senyum meneyringai menggoda Ami.
"Mandi sendiri, aku tidak mau mandi dengan singa mesum sepertimu." Ami langsung berdiri dan beranjak dari sofa.
"Singa mesum tapi kamu yang meraung." Ledek Nathan membuat Ami mendelik.
Nathan tertawa, dia kembali melanjutkan makan sisa bubur miliknya.
"Semoga engkau selalu melindungi keluarga hamba, dah pernikahan hamba Tuhan."
.
.
Seperti yang dikatakan Nathan, dia membawa Istrinya berkeliling di kota M, dari menjelajahi kuliner hingga membelikan barang-barang untuk oleh-oleh ke Jakarta. Jika Nathan yang datang sendiri pasti tidak ada acara jalan-jalan dan berbelanja, pria itu pasti langsung pulang setelah pekerjaan selesai, tapi sekarang dia membawa sang istri wanita yang sebisa mungkin Ia buat bahagia.
"By, apa ini cantik jika aku pakai?" Ami menunjukan gaun dengan panjang selutut tanpa lengan, dia menyukai gaun itu bentuknya yang elegan.
"Cantik sayang, karena orangnya." Ucap Nathan terseyum.
Ami mencebik. "Tapi sepertinya kamu lebih suka, aku yang tidak pakai baju." Ledeknya lalu menaruh gaun itu tadi di gantungan.
Keduanya berada di pusat perbelanjaan, tangan Nathan sudah penuh dengan paperbag oleh-oleh untuk keluarga di Jakarta, tapi sejak tadi Istrinya itu tidak mendapatkan apa-apa.
Nathan sampai geleng kepala, setiap yang Ami tanya dan meminta pendapat tapi tidak jadi dibeli.
__ADS_1
Nathan mengikuti langkah sang Istri ke sebuah toko sepatu.
Ami melihat sepatu berwarna putih dan ada sedikit corak gambar di bagian pinggir.
"Mbak butuh sesuatu?" Tanya pelayan toko itu, Nathan hanya menatap keduanya dari kejauhan.
"Kebetulan sepatu yang pegang keluaran terbaru di toko kami, dan itu hanya sekali datang." Jelas pelayan itu ramah.
"Pasti harganya mahal." Gumam Ami pelan, tapi masih didenger oleh pelayan itu.
"Ya, karena itu limited edition mbak, jadi harganya mencapai belasan juta."
Ami yang mendengar langsung membulatkan kedua matanya.
"Duh, mending aku beli motor mbak, kalau segitu mah." Keluhnya, lalu meringis. "Maaf deh Mbak saya hanya lihat saja." Ucapnya lalu pergi.
"Kenapa?" Tanya Nathan ketika Ami langsung menarik lengannya pergi.
"Tidak apa-apa, masa sepatu hanya diijek harganya belasan juta, mending aku beli motor." Tuturnya dengan terus berjalan.
Nathan ingin tertawa tapi dia tahan. "Yasudah beli motor saja." Jawab Nathan asal.
Ami hanya mencebik.
Dia belum tahu harga sepatu milik suaminya harganya bisa ratusan juta.
"Mau kemana lagi?" tanya Nathan dengan heran, karena sejak tadi mereka jalan tanpa tujuan.
Nathan sudah seperti pelayan untuk Ami, menenteng belanjaan dan diseret kesana-kemari.
"Aku ingin makan by, lapar." Ami langsung menarik Nathan untuk lebih cepat, dan tanpa sengaja dirinya tersandung kalinya sendiri.
Bugh
"Auwss.."
"Sayang..!!"
__ADS_1