
Waktu begitu cepat berlalu, kini Ami sudah selesai mengganti bajunya lagi, memakai seragam sekolahnya lagi.
Tadi dirinya mendapat pesan dari bunda Raya, jika Ami harus pulang lebih cepat dari biasanya, karena ada hal penting.
Dan beruntung karena Ami datang lebih awal ke cafe jadi dirinya hanya bekerja sampai jam lima sore itupun sudah di hitung lembur. Jika biasanya dia masuk jam tiga dan pulang jam delapan, lima jam bekerja dan di potong istirahat. Itulah jam kerja untuk Ami yang masih pelajar, begitupun karyawan lainnya yang juga banyak yang masih pelajar seperti Ami.
"Kak, besok aku berangkat pagi ya." Ucap Ami ketika bertemu Zian, cowok good looking disekolahnya itu baru saja tiba entah dari mana.
"Oke," Zian tersenyum. "Lagian kamu sok jadi jagoan ngelawan Nesya, kena skors kan jarinya." Ledek Zian menatap Ami yang malah hanya menyengir.
"Itu sih emangnya Nesya-nya yang suka cari gara-gara, lagian kenapa kalian gak pacaran aja, biar si Nesya tobat gak bikin ulah." Ami menatap Zian ingin tahu, karena Nesya lumayan cantik menurut-nya.
"Ck, seleraku bukan modelan Nesya yang suka membully." Zian tersenyum. "Tapi wanita cantik yang selalu ceria seperti_"
"Zian.." Zian yang di panggil pun menoleh bersamaan dengan Ami yang ikut menoleh.
"Kakak.." Zian yang melihat kakaknya mengunjungi cafe nya tersenyum.
Ami pun pamit pergi. "Tumben kakak kemari." Ucap Zian berdiri didepan kakaknya.
"Memangnya tidak boleh, kakak juga ingin melihat adik kakak yang super sibuk dengan bisnisnya." Wanita berparas cantik itu tersenyum.
__ADS_1
"Well, aku pikir seorang dokter yang sibuk tidak ada waktu untuk mengunjungi adiknya." Zian menyuruh kakaknya untuk masuk ke dalam ruang kerjanya. Mereka saling mengobrol karena memang jarang bertemu karena sama-sama sibuk, apalagi Zian jarang pulang dan tinggal di apartemen.
.
.
"Bunda Ami gak mau ah, pakai baju ini." Ami dengan wajah memelas merayu bunda Raya, untuk melepas dress yang dia kenakan menurut Ami terlalu ribet.
"Kamu wanita sayang, harus pakai yang feminim apalagi menghadiri acara makan malam. Lihat kamu terlihat sangat cantik." Puji bunda Raya pada putrinya yang wajahnya cemberut.
Ami hanya pasrah ketika bunda Raya merias wajahnya, meskipun terlihat natural dan cantik tapi Ami tetap merasa risih karen tidak pernah bersentuhan dengan make-up.
Berharap dirinya nanti tidak bertemu dengan Nathan, Om menyebalkan yang sayangnya adalah suaminya.
"Ayo Sayang.." Bunda Raya mengajak Ami untuk turun dari taksi yang mereka pesan, kali ini Bunda raya menggunakan taksi untuk mengantar mereka ke rumah besar yang sangat mewah dan megah. Ami sampai takjub melihat bangunan menjulang tinggi tinggi, tidak yakin jika dia memiliki mertua yang ternyata kaya raya, tapi memiliki anak yang pelit.
"Loh mbak Raya sudah datang." Indira menyambut kedatangan besannya, dan dia melihat menantunya berdiri disamping bundanya. "Loh, menantu Mama juga sudah sampai, Nathan mana sayang." Indira menyapa bunda raya lebih dulu, dengan saling cium pipi dan kemudian memeluk menantunya dan menanyakan kabar. Dan melihat kebelakang tidak ada putranya.
"Em, Om Nathan masih kerja m-mah." Ami menjawab dengan sedikit kikuk, ragu dengan ucapanya sendiri.
"Ck, anak itu memang kebiasaan." Indira mengajak Raya dan Ami masuk ke dalam, dimeja makan yang sudah tertata rapi, namun menu nya belum lengkap karena masih satu jam lagi dan Indira belum menyelesaikan menu yang akan mereka buat malam ini.
__ADS_1
"Diyh, maaf ya mbak, menunya belum lengkap, maklum aku memang masak sendiri khusus malam ini." Ucap Indira yang merasa tidak enak tamunya datang tapi dirinya belum selesai masak.
"Ngak apa-apa mbak, lagian kami yang datangnya lebih dulu." Raya tersenyum.
"Aku justru seneng mbak, jadi kita lebih lama mengobrol, iyakan sayang." Indira menyentuh lengan Ami. Dan Ami hanya tersenyum.
"Kita bantu mbak masak saja, kebetulan ada Ayana juga bisa membantu mbak." Ucap Raya sambil menatap Ami dengan senyum penuh arti.
"Oya.. kebetulan sekali, ayo sayang bantuin mama lagi mau buatin makan kesukaan papa kamu dan suami kamu, selera mereka sama." Indira tersenyum lebar, kali ini dirinya memiliki teman sefrekuensi.
Ami menatap bunda Raya nanar, kenapa dirinya jadi disuruh masak apalagi memasak kesukaan Nathan.
"Duh mbak, aku senang banget punya mantu bisa masak seperti itu." Kedua wanita yang sudah berumur kepala tiga menatap punggung Ami yang berdiri didepan kompor, bergulat dengan bumbu dapur dan bahan masakan.
"Aku sengaja mengajarkan hal yang wanita wajib bisa mbak, seperti memasak." Raya tersenyum menyahuti pujian besanya pada putrinya.
"Itu harus Mbak, tidak seperti Aileen yang tidak bisa masak sama sekali, jangankan masak menghidupkan kompor saja sepertinya tidak bisa." Indira tertawa.
"Mama lagi ngomongin aku." Tiba-tiba Aileen datang dari belakang keduanya, membuat mereka menoleh." Nah lihat, orangnya panjang umur di katain."
Raya ikut tertawa, dirinya menyukai sifat Indira yang penyayang dan lembut, dan dia yakin jika Indira menyayangi putrinya seperti putrinya sendiri.
__ADS_1