My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Gunting patah


__ADS_3

"Shh, ahh."


Ditya menjauhkan tubuhnya dari Aileen yang dadanya sudah kembang kempis, wanita itu lemas tak berdaya setelah Ditya membuatnya terbang melayang.


Ditya mengatur napasnya yang masih naik turun, pria itu memejamkan matanya dengan duduk disisi tubuh Aileen yang masih terbaring lemas.


"Maaf sayang." Ucap Ditya lirih, dengan mata yang masih terpejam, kilasan kejadian beberapa saat lalu masih menari-nari di kepalanya, hingga membuat si jago semakin sesak.


Aileen yang mendengar gumaman Ditya membuka kedua matanya, keringan membasahi wajahnya dan tumbuhnya ikut terasa lengket.


Menyibakkan dresnya ke bawah, Aileen bangun dan langsung berjongkok didepan Ditya yang sedang duduk dengan menutup kedua wajahnya menggunakan tangan.


"Kak.." Panggil Aileen lembut, membuat Ditya membuka kedua tangganya.


"Sial..!!" Ditya kembali mengumpat dengan kasar, saat membuka mata Aileen duduk berjongkok dengan mengigit bibir bawahnya, wajah Aileen benar-benar seperti wanita nakal dengan memperlihatkan dadanya yang sudah tak semulus diawal, kini dada itu penuh dengan tanda masuk angin belang-belang.


"Engh, sayang.." Ditya menggerang dengan wajah mendongak, tangan Aileen yang nakal melulai beraksi dengan memberi sentuhan pinjatan lembut di naga Ditya yang sudah sangat panas.


"Ugh, emm Ai, ahh" Ditya tak kuasa dengan tangan Aileen yang semakin aktif.


"Biarkan aku memuaskannya." Ucap Aileen dengan suara sensual.


Ditya membuka matanya, menatap lekat wajah Aileen yang sudah membuatnya frustrasi.


"Em.." Aileen kembali mengigit bibir bawahnya dengan seksih, membuat Ditya semakin mengumpat kasar dan menarik tubuh ramping Aileen duduk diatas pangkuannya.


Ditya mencium kasar dan bringas bibir manis Aileen dengan menyesapnya kuat, memebelit lidah satu sama lain dengan bertukar saliva.


Aileen yang semakin kuwalahan merangkul leher Ditya dengan kedua tangannya, wanita itu berusaha mengimbangi ciuman panas yang Ditya lakukan dengan napas yang saling memburu.


Tanpa Ditya sadari tangan Aileen turun membelai dada Ditya, membuatnya mengerang dalam cumbuan.

__ADS_1


Perlahan tangan kecil Aileen turun semakin kebawah dan menemukan gundukan yang sejak tadi mengganjal.


"Ughh, Beby." Ditya mengigit bibirnya keras-keras saat pucuk kepalanya bertemu dengan lipatan bibir lembut nan basah di bawah sana.


Sedangkan Aileen mengigit bibir bawahnya keras agar tidak menimbulkan desahann yang mungkin saja bisa menjadi jeritan kenikmatan.


Kedua insan sedang bermain aman, dimana naga Ditya yang sudah berdiri panas, kepalanya bergesekan dengan lipatan bibir yang basah dan hangat membuat keduanya saling adu suara merdu dengan sensasi yang luar biasa bagi keduanya. Meskipun hanya icip-icip tapi Ditya tidak akan membobol gawang Aileen lebih dulu, sebelum kata 'Sah' mereka dapatkan.


"Beby ini sungguh engh.." Ditya kembali mengerang frustrasi, bibirnya kembali meraup pucuk kelembutan Aileen bergantian.


"Kak, aku mau pipis." Ucap Aileen dengan suara parau, tumbuhnya tak berhenti bergerak maju mundur, memberikan rasa semakin geli dan juga enak.


Ditya yang mendengar ucapan Aileen tak perduli, pria itu semakin bersemangat ketika miliknya merasakan kedutaan kecil dibibir lembab itu.


Ditya yang merasakan hanya busa pasrah, ketika gerakan Aileen semakin cepat maju mundur, membuat naga miliknya kian pusing akibat terombang-ambing.


"Ahh Beby.."


"Kak ahh."


Setalah beberapa saat, Ditya melonggarkan pelukannya, kedua tangannya menangkup wajah Aileen dengan senyum.


"Terima kasih sayang." Ditya mengulas senyum lembut, membuat Aileen ikut terseyum, meskipun dengan wajah lelah.


"Jadi yang tadi itu apa namanya?" Tanya Aileen dengan tatapan wajah yang masih lelah, napasnya saja masih sedikit memburu.


Ditya yang ditanya nampak berpikir, "Em, hanya icip-icip tidak sampai dimakan." Jawab Ditya sekenanya, membuat Aileen tertawa.


Mereka berdua memang belum pernah melakukan adegan dewasa dengan lawan jenis. Aileen yang bekerja menjadi model, menjaga dirinya dengan sangat hati-hati, apalagi orang-orang papanya, juga berada disekitarnya untuk menjaga dirinya, jadi Aileen sampai sekarang masih bisa menjaga diri, meskipun baru saja sepertinya miliknya sudah tidak suci lagi, lantaran sudah mencicipi, kepala naga yang memuntahkan laharnya.


Ditya menyatukan kening keduanya, dengan tatapan mata yang begitu dalam. "Kamu nakal sayang, lihat si naga sampai muntah." Ucap Ditya membuat Aileen mendelik.

__ADS_1


"Maaf, hanya sebatas ini yang bisa aku lakukan." Ucap Ditya dengan senyum tipis.


Aileen tersenyum lembut, menyentuh pipi Ditya yang masih menyatukan kening mereka. "Hanya tinggal beberapa hari Kak," Ucap Aileen membuat Ditya mengaguk terseyum.


Satu kecupan Ditya daratkan dikening Aileen.


"I love you Beby."


"Love you to."


.


.


"Ah, By kenapa rasanya sakit." Ami meringis merasakan sakit yang menurutnya luar biasa.


"Sabar sayang, sebentar lagi." Nathan dengan wajah paniknya mencoba memebantu, hanya saja suara Istrinya yang menurutnya terlalu berlebihan membuat Nathan menjadi bingung.


"By, aku tidak tahan." Ami memejamkan mata erat.


"Aarrgh.." Teriakan Ami sering terlepasnya si jari jempol yang nyangkut di lubang gunting.


krak


Bisa masuk tidak bisa keluar itulah yang Ami rasakan saat tadi memegang gunting, untuk memotong sesuatu.


"Fyuhh akhirnya." Ami mengusap keningnya yang berkeringat, sendang kan Nathan menatap gunting yang dia pegang dengan kening mengkerut.


"Sayang, lihat." Ucap Nathan yang memperlihatkan gunting yang dia pegang, Ami melotot tak percaya, dan matanya langsung menatap tangannya dengan menganga lebar.


"Huwaaa, kenapa malah patah begini," Ami menangis meraung, melihat jarinya kini malah memakai cincin potongan gunting yang terlepas.

__ADS_1


Nathan menahan tawa, agar istrinya tidak semakin marah.


"Sabar sayang nanti kita kedokter." Ucap Nathan menenangkan sang Istri.


__ADS_2