
Mike tetap membawa Hawa untuk berlibur diakhir pekan, mereka akan berkunjung ke villa keluarga Julio yang berada dipuncak.
Ada enam orang yang ikut dengan Mike termasuk Hawa, mereka semua berpasangan, kecuali teman kuliah mereka yang bernama Livia.
Masih ingat Livia? kalau lupa bisa balik baca di part, "Seorang putri Adhitama" 🤣🤣
Hawa menatap teman-teman Mike yang tidak dia kenal, sejak tadi dirinya seperti orang bodoh yang hanya diam tanpa tahu harus bagaimana bicara apa, karena memang teman Mike tidak ada yang dia kenal.
"Sayang, tolong ambilkan aku minum." Ucap Mike yang menyuruh Hawa.
Mereka sedang duduk di samping vila dengan tema outdoor, disaat malam pemandangan di samping vila begitu indah.
Karena dibangun di atas bukit, jadi mereka bisa melihat pemandangan di bawah yang terlihat lampu-lampu yang gemerlap.
Hawa sudah ingin beranjak, tapi Livia lebih dulu menyodorkan minuman kesukaan Mike.
Hawa tertegun, tatapannya naik menatap wanita yang berdiri di depannya sambil menyodorkan minuman kepada Mike.
"Thanks," Mike mengambil minuman yang disodorkan Livia, meskipun tidak menatap Livia tapi bagi Hawa ada sesuatu yang Mike sembunyikan.
Livia tersenyum tipis dan melirik Hawa dengan wajah cuek.
"Eh, Lika lu kok diem aja sih." Ucap salah satu teman Mike yang bernama Dio.
Hawa hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Dio.
"Sariawan kali tunanganya Mike." Ucap temannya lagi yang bernama Sisil.
"Tidak apa-apa kak." Jawab Hawa sekedar ingin ramah, agar tidak terkesan sombong.
__ADS_1
Mike menoleh pada Hawa yang duduk disebelahnya, pria itu tiba-tiba memeluk pinggang Hawa dan menempelkan keningnya di bahu Hawa.
Mendapat perlakuan seperti itu, jelas membuat Hawa terkejut, apalagi didepan teman-teman Mike membuat Hawa merasa risih.
"Dih, mulai ngebucin dia." Ucap Sisil sambil tersenyum mengejek.
Dio dan Gilang hanya terkekeh, sedangkan Livia melirik tajam Hawa tidak suka.
Kedekatan Mike dan Livia terjalin sejak mereka dibangku SMA, entah dibilang apa hubungan mereka karena Mike tidak mengganggap Livia, justru sebaliknya Livia yang selalu mengejar-ngejar Mike.
"Kak, malu." Cicit Hawa yang merasa malu dan kikuk, apalagi melihat tatapan Livia yang tajam membuat Hawa merinding sendiri.
"Diem Lika, gue butuh istirahat." Gumam Mike yang masih didengar mereka disana.
Angin malam yang sepoi-sepoi membuat Hawa mengusap lenganya yang terasa dingin, meksipun sudah memakai pakaian panjang tapi Hawa masih merasakan dingin.
"Gila udaranya benar-bener bikin beku." Dio meraih mantel tebalnya untuk dia pakai, tidak hanya Dio, Gilang Sisil dan Vika melakukan hal yang sama.
"Ssshh, kenapa dingin sekali." Gumam Hawa yang sedikit menggigil.
Tiba-tiba sebuah mantel tebal langsung menangkup tubuh Hawa dari belakang.
Hawa menoleh dan ternyata Mike yang melakukannya. "Terima kasih kak." Hawa terseyum tipis, gadis itu membenarkan mantel yang dia pakai.
"Sama-sama sayang." Mike tersenyum, dan mencium pipi Hawa sekilas.
Jangan ditanya bagaimana tatapan Livia melihat pria yang dicintai, lebih memperhatikan wanita lain, sedangkan dirinya juga butuh perhatian Mike. Bukan Hawa saja.
"Mike gue duluan masuk dah, ngak tahan dinginnya." Ucap Sisil dan Vika yang benar-benar tidak tahan dengan Hawa dingin divila itu.
__ADS_1
"Ck, lemah kalian." Ucap Mike dengan melirik keduanya.
Sisil tidak menggubris. "Liv lu pake punya gue nih, kasian ntar lu jadi es batu." Sisil melempar mantel yang dia pakai pada Livia, dan Sisil berlari untuk segera masuk ke dalam vila.
Dio dan Gilang masih menikmati minuman yang sedikit mengandung alkohol untuk menghangatkan tubuh mereka dari udara dingin yang melanda.
"Dio, gue mau coba." Ucap Livia pada Dio yang sedang menuangkan minuman itu kedalam gelasnya.
Dio menatap Livia, begitupun mereka yang masih disana. Mike hanya menatap Livia sebentar saat pandangan keduanya bertemu, Mike memilih untuk kembali pada Hawa yang ada didekapnya.
"Ini minuman bukan untuk wanita." Ucap Dio yang tidak ingin memberikan pada Livia.
"Gue tau, itu minuman beralkohol." Jawab Livia. "Hanya segelas tidak akan membuat gue mabuk." Livia menegaskan agar Dio mau memberinya.
Melihat Mike yang hanya mau berdekatan dengan Hawa membuat dada Livia panas. Bahkan rasanya ingin sekali Livia menyingkirkan Hawa dari sisi Mike.
"Terserah lu, kalau mabuk gue ogah ngurusin lu." Dio pun memberikan satu gelas pada Livia.
Hawa yang melihat cara minum Livia yang hanya sekali tenggak, membuat Hawa meringis.
"Gila lu Liv." Ucap Gilang dengan geleng kepala melihat aksi Livia yang nekat.
"Kak aku mau masuk." Cicit Hawa dengan pelan.
Mike mendongak, dan menganggukkan kepalanya pelan. "Tidurlah lebih dulu, masih ingat kamar nya?" Tanya Mike sambil mengusap kepala Hawa.
Hawa mengaguk, dirinya merasa aneh. Sejak kejadian dirumah Vania Mike tidak ada marah kepada dirinya, pria itu malah menunjukan sifat perhatiannya.
"Aku masuk dulu." Hawa beranjak dari duduknya, dan pergi meninggalkan ke-empat orang yang masih duduk, Livia wanita sendiri.
__ADS_1
Sampainya dikamar Hawa, merebahkan tubuhnya di kasur dengan selimut tebal yang membungkusnya, tak lama matanya terpejam karena memang tubuh dan pikirannya lelah.
Tubuh Hawa seperti melayang, dialam mimpinya Hawa seperti sedang terlelap dan digendong oleh seseorang, karena sangat mengantuk Hawa tidak mau membuka matanya, dia memilih mengeratkan pelukannya dengan mencium aroma yang membuat dirinya semakin terlelap.