
"Om..ini kenapa?" Tangan kecil Hawa terulur untuk menyentuh sudut bibir Mario yang luka.
Mario menarik bibirnya tipis, merasakan jemari Hawa menyentuh kulitnya. "Tidak apa-apa." Jawab Mario tersenyum.
"Tapi kalau luka begini, tandanya Om habis berantem." Ucap Hawa lagi dengan cerewet. "Pasti sakit." Lanjutnya dengan sendu.
Mario menyentuh tangan hawa yang masih bertengger di pipinya.
"Disini tidak sakit, tapi disini yang sakit." Mario membawa tangan Hawa kedepan dadanya, tepatnya di bagian hatinya yang sakit.
Hawa menatap tanganya yang berada di dada Mario. "Disini juga terluka?" Tanya Hawa yang mulai panik.
"Hm." Mario hanya berdehem, tatapan matanya tak lepas menatap wajah cantik Hawa yang begitu dekat.
"Kenapa malah ketemuan disini, bukannya dirumah sakit." Pekik Hawa panik dan juga khawatir.
Mario bisa melihat kekhawatiran itu diwajah Hawa, "Apa jika Mike yang terluka, kamu akan sepanik ini."
Hawa menatap wajah Mario, tidak mengerti. "Maksud Om apa? Mike?" Tanya Hawa yang sepertinya melupakan nama pria yang sudah menjadi tunggangannya. "Mike siapa?"
Mario terkekeh merasa lucu Hawa yang melupakan Mike itu siapa, apa memang Mike tidak penting untuk Hawa, dan itu Mario yang inginkan.
"Mike, dia adikku pria yang dijodohkan denganmu."
Jedeerrr
__ADS_1
Hawa tentu saja terkejut, dan syok. Kedua matanya membulat sempurna mendengar ucapan Mario.
"A-adik? kak Mike adik_"
"Ya, dia adikku." Mario menghela napas. Tubuhnya bersandar di body mobilnya, sedangkan Hawa berdiri didepannya.
Setelah keluar dari kamar Mario pergi, tanpa mendatangi papanya yang menunggunya, karena Mario tidak ingin papanya melihat luka diwajahnya. Sehingga Mario memilih pergi untuk menemui Hawa, di perjalanan Mario menguhungi Hawa untuk menemuinya di supermarket tempat mereka bertemu tiga tahun lalu.
"Bagaimana bisa." Ucap Hawa yang masih tidak percaya.
"Kenyataannya dia memang adikku, yang sudah bertunangan denganmu." Ucap Mario dengan suara tercekat.
Hawa menatap wajah Mario lekat, gadis itu yang memang memiliki kelebihan kepekaan terhadap perasaan seseorang, membuat Hawa bisa melihat kesedihan di mata Mario.
"Lalu kenapa Om sedih?" Tanya Hawa dengan penasaran.
"Apa kamu percaya jika aku mencintaimu dari sepuluh tahun lalu.'
"Apa!!"
Hawa kembali terkejut, tapi kali ini disertai degub jantung yang kencang.
"Ya, sepuluh tahun lalu saat kamu datang kerumah untuk menghadiri ulangtahun Mike." Terang Mario mengingatkan kejadian sepuluh tahun lalu.
Hawa masih diam, pikirannya masih mengingat-ingat kejadian sepuluh tahun lalu, tapi nihil dirinya tidak mengingatnya.
__ADS_1
"Kamu pasti tidak ingat, karena kamu masih kecil." Mario terseyum tipis.
"Hawa maukah kamu menikah denganku."
Deg
.
.
"Mike wajahmu kenapa?" Tanya Vania saat melihat Mike keluar dari kamar Mario.
"Tidak apa Mah." Jawab Mike berlalu pergi.
"Tidak apa-apa tapi seperti luka pukulan." Gumam Vania, yang berpikir jika Mike dan Mario sedang tidak baik-baik saja.
"Mario." Panggil Vania diambang pintu kamar Mario, tapi Vania tidak melihat putranya ada di dalam kamar.
"Kemana dia, apa sama mas Julio." Vania berjalan menuju ruang kerja suaminya, siapa tahu ada Mario yang bisa menjelaskan keadaan Mike.
Hawa membuka matanya, saat Mario melepaskan bibirnya.
Keduanya berada didalam mobil Mario, setelah bicara Mario mengantarkan Hawa pulang, dan pria itu menahan Hawa sebelum keluar untuk mendaratkan ciuman di bibir Hawa.
"Manis, seperti orangnya." Ucap Mario mengusap lembut bibir Hawa.
__ADS_1
Jangan ditanya seperti apa wajah Hawa sekarang, gadis itu diam membisu seperti patung yang tidak bisa bergerak.
"First kiss pertama ku." Ucapanya dalam hati.