My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Musibah dan tanggung jawab


__ADS_3

"Sayang kamu sudah pulang."


Indira yang melihat menantunya datang terseyum.


Ami menghampiri Mama mertuanya yang sedang menyiapkan makan malam dan memeluknya dari samping.


Melihat wajah menantunya yang lesu membuat Indira tersenyum.


"Kamu kenapa hm." Indira bertanya dengan mengelus pipi Ami.


"Kapan Hubby pulang." Ami berkata masih merangkul Mama indira.


"Kamu merindukannya." Indira tersenyum, dan sedikit berbalik untuk menangkup wajah menantunya.


Ami mengangguk dengan wajah yang masih sama, lesu, dan tidak enak dilihat.


Pasalnya ini sudah lebih dari dua Minggu Nathan pergi, dan komunikasi mereka kurang, jika Ami menghubunginya Nathan pasti sedang sibuk bekerja dan ponselnya tidak bisa dihubungi, dan bahkan Nathan sering mengirim pesan saat tengah malam membuat Ami merasa kesal karena pasti sudah terlelap dan tidak tahu ketika pesan itu masuk, ketika bangun pagi Ami baru membukanya dan menghubungi lagi tapi hasilnya tetap sama.


"Sebentar lagi pasti dia pulang sayang." Indira mencium pipi Ami. "Berdoa saja semoga pekerjaannya cepat selesai." Ucap indira dengan terseyum, menghibur menantunya yang sedang sedih karena rindu.


Ami tidak menjawab gadis itu melepas rangkulan pada mertuanya.


"Mau kemana sayang."


"Mau kekamar Mah, kalau Ami tidak turun Mama dana papa tidak udah menunggu untuk makan malam." Ami menyeret kakinya menuju tangga untuk ke kamar Nathan.


Semenjak Nathan pergi Ami lebih sering menginap dirumah mertuanya, sesekali berada dirumah bunda Raya, apartemen kosong hanya saja ada pelayan yang biasa Nathan suruh untuk membersihkannya.


Indira menatap punggung Ami yang semakin menjauh dengan sendu. "Semoga kalian selalu bahagia nak."


Tidak dipungkiri sebagai ibu indira juga merasa kahawatir dengan putranya, apalagi melihat Ami yang juga sedih, bukan tanpa alasan indira memikirkan hal itu, karena dirinya tahu persis apa yang sedang terjadi dengan putranya, dan mereka tidak memberi tahu Ami, karena itu permintaan Nathan.


"Sayang." Allan memeluk tubuh Istrinya dari belakang.


Indira mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. "Em, Bang. Bagaimana?" Indira menatap suaminya dengan seksama. "Tidak mungkin kan jika Nathan_"


Indira tercekat, suaranya tiba-tiba hilang melihat Allan yang mengangguk.


"Ini kecelakaan Mah, dan Nathan harus tanggung jawab." Allan menatap wajah istrinya sendu, dirinya tahu jika wanita didepanya merasa sedih dan tidak percaya, tapi memang begitu kenyataanya.


"Tapi bang, kasihan Anaya, apa tidak bisa mereka meminta cara lain dan tidak menyuruh Nathan untuk_"


Lagi-lagi Indira tidak bisa membendung air matanya. Allan segera mendekap erat wanita yang dia cintai yang sudah menemaninya susah senang hingga sekarang.


"Papa tidak bisa membantu Nathan mah, karena itu bentuk rasa tanggung jawab dengan apa yang sudah wanita itu lakukan, kalau saja tidak ada dia mungkin kita sudah kehilangan putra kita." Allan memeluk tubuh Indira yang bergetar.


Allan memang baru saja pulang dari luar kota, pria paruh baya itu baru saja mengunjungi Nathan, kemarin siang ketika Nathan menghubungi, Allan langsung memesan tiket saat itu juga, dan beruntung ada penembangan satu jam setelahnya.


Dan Allan benar-benar tidak menyangka jika putranya mengalami musibah seperti ini.


Allan yang menjadi saksi kedua dimana putranya kembali mengucap janji.


Sungguh Allan tidak bisa berbuat apa-apa dengan musibah yang di alami putranya.


Mereka tidak tahu jika masih ada wanita yang akan terpukul mendengar apa yang terjadi, tapi mereka berharap semua akan baik-baik saja. Dan tidak merubah apa yang sudah ada sebelumnya.


Ya semoga saja.


.

__ADS_1


.


Seorang pria tengah duduk dengan wajah kusut dan lelah, sejak semalam Nathan tidak bisa memejamkan matanya, kepalanya terus diepanuhi wajah sang istri dan dadanya semakin sesak tak tertahan.


Duduk bersandar di sofa rumah sakit, rasanya Nathan ingin selalu memejamkan mata saja, disaat senyum dan wajah sang Istri selalu menari-nari di otaknya, Nathan benar-benar merindukan istri kecilnya yang sudah lebih dari dua Minggu dia tinggal dan sama sekali Nathan tidak sanggup hanya untuk menghubunginya.


"Mas.."


Suara wanita memanggilnya, samar-samar terdengar ditelinga Nathan. Tapi pria itu enggan untuk membuka mata, dia masih asik membayangkan sang pujaan hati.


"Mas Nathan."


Untuk kedua kali dan merasa terganggu Nathan akhirnya membuka mata, dia melihat wanita yang terlentang di atas ranjang menatapnya dengan senyum.


"Tolong aku ingin kekamar kecil." Ucap wanita itu lirih.


Nathan tidak menjawab, tapi tubuhnya langsung beringsut berdiri.


Mendekati ranjang pasien Nathan tanpa bicara Nathan langsung mengendong wanita itu untuk membawanya ke kamar mandi.


"Panggil saja jika sudah." Ucap Nathan dingin, tanpa mau melihat wanita itu.


Nathan mendudukkan wanita itu di atas closed, lalu dia pergi dan menutup pintu kamar mandi.


Dadanya semakin sesak, sampai-sampai napasnya tersengal.


"Sayang maafkan aku." Nathan memejamkan mata, air matanya seketika jatuh, pria itu menagis dalam diam, merasakan betapa sesak dadanya, hatinya menangis batinya menjerit.


Flashback


Nathan dan Ando sudah membereskan barang bawaan mereka, pesawat yang mereka tumpangi satu jam lagi terbang, dan keduanya sudah mengemasi barang bawaan mereka.


Drt...Drt..Drt..


Ponsel Nathan berdering saat dirinya baru selesai mandi, dan sudah berpakaian rapi.


Nathan mengerutkan keningnya ketika, salah satu orang terpenting dipabrik menelponnya.


"Halo pak Bayu."


"...."


"Apa bagiamana bisa terjadi." Nathan meninggikan suaranya.


"Saya segera kesana."


Nathan buru-buru menyambar jaketnya dan keluar dari hotel, ketika keluar Nathan berpapasan dengan Ando.


"Apa yang terjadi." Ando yang mendapat kabar juga khawatir dan panik."


"Entahlah, kita kesana sekarang." Nathan bergegas lari menuju lift, Ando mengikuti dari belakang.


Butuh waktu tiga puluh menit mobil yang dikendarai Nathan sampai di pabrik.


Mereka bergegas keluar, security dan semua karyawan sudah berada di luar, di arena isolasi terbuka.


Nathan berlari mendekati para pekerja yang ketakutan dan banyak juga yang menangis.


"Bagiamana?"

__ADS_1


Sebentar lagi pemadam kebakaran datang pak, tapi didalam masih ada beberapa orang yang tertinggal." Ucap pak Bayu yang menelponnya tadi.


"Nat lu mau kemana..!" Ando menarik lengan Nathan yang akan menerobos masuk ke pabrik yang sedang terbakar.


"Meraka masih ada yang di dalam Ndo..!!" Teriak Nathan, lalu mengibaskan tangannya, dan cekalan tangan Ando terlepas.


"Nat, jangan nekat Nat..!! bahaya..!!" Ucapan Ando tidak didengar oleh Nathan, pria itu tetap berlari masuk meskipun banyak orang yang mencoba mencegahnya. Nathan hanya ingin memastikan jika musibah ini tidak akan memakan korban jiwa.


"Tolong..!!"


Samar-samar Nathan mendengar orang meminta tolong dan ternayata seorang wanita yang tidak bisa keluar terkunci didalam ruangan.


"Ada orang didalam...."


Brak


Brak


Brak


Nathan mendobrak pintu yang terkunci itu, dan dobrakan ke lima baru bisa terbuka.


"Kamu baik-baik saja?" Nathan melihat wanita itu yang ketakutan dan menangis.


"Kita keluar." Nathan melepas jaketnya untuk menutupi tubuh wanita itu dari api yang menyambar.


"Aaa.." Wanita itu menjerit ketika sebuah balok terbakar jatuh didepan meraka.


Nathan berhenti, dan kembali berjalan mencari pintu keluar terdekat. Asap mengepul membuat keduanya susah napas dan batuk-batuk.


"Bertahanlah, pintu keluar di sebelah sana." Nathan menujuk pintu darurat yang bisa dilalui, pria itu membawa wanita itu menuju kesana.


Karena tidak melihat sebelahnya yang terdapat tabung yang bisa saja meledak ketika api menyambar, Nathan masih melanjutkan langkahnya hingga ketikan mereka sampai mencapai pintu tiba-tiba bunyi nyaring bertanda bahaya melengking di telinga keduanya.


"Bapak awasss..!!" Wanita itu mendorong tubuh Nathan kuat, kearah pintu yang sudah terbuka.


Nathan yang belum menyadari tidak sempat menghindar dan tangannya ikut menarik wanita itu.


BOOOMMM


Ruangan itu meledak membuat keduanya terlempar karena ledakan.


"Aarrggkkk..!!" Sayangnya wanita itu terkena semburan ledakan di bagian kakinya, sehingga terdapat luka bakar yang serius.


Wanita yang bernama Sekar itu tak berdaya di ruang rawat, terus menangisi nasibnya yang cacat.


Saat itulah pertanggung jawaban dari Nathan dipertaruhkan, bagiamana wanita itu harus kehilangan masa depannya karena menyelamatkannya, apalagi keluarga wanita itu yang meminta Nathan untuk menikahi putrinya yang cacat, karena menyelamatkannya.


Flashback Off


"Ay, maaf Aku." Nathan tergugu dibelakang pintu dengan tangan menutupi wajahnya, sedangkan sekar yang didalam kamar mandi, mendengar pria yang baru tadi siang menjadi suaminya menangis terisak.


Ya, Nathan sudah menikahi Sekar siang tadi, pria itu mengucap ijab kabul didepan penghulu untuk kedua kali, dan hanya ada papa dan Ando yang menyaksikannya, dengan beberapa dari pihak Sekar, termasuk kedua orang tuanya.


.


.


Author lagi mood jahat.

__ADS_1


__ADS_2