
Pukul tujuh malam, mobil mewah Nathan memasuki halaman rumah yang sejak kecil dia tempati.
Malam ini mereka mendatangi kediaman orang tua Nathan.
"Biar aku saja sayang." Nathan mengeser tubuh Ami ketika ingin mengambil beberapa paperbag yang sudah mereka siapkan. Oleh-oleh yang mereka beli sewaktu bepergian.
Ami hanya tersenyum. "Kayaknya suami aku makin pengertian deh, jadi makin cinta."Ucap Ami dengan bersandar di badan mobil samping Nathan yang masih menunduk mengambil paperbag di dalamnya.
Nathan yang mendengar tersenyum, senyum yang mampu menghipnotis lawannya. "Hm, baru tau kalau aku pengertian."
Cup Nathan mencuri kecupan dibibir Istrinya dan berlalu pergi.
Ami terseyum, senyum sendiri. "Mau disitu sampai kapan..!" Teriak Nathan yang sudah didepan pintu masuk rumah kedua orang tuanya.
Ami berlari kecil masih dengan senyumnya.
Merangkul dan memeluk lengan suaminya Ami berjalan di samping Nathan.
"Love you pak suami." Ami menunjukan jarinya telunjuk dan jempolnya membentuk ungkapan cinta, dan Nathan ikut menyatukan jarinya. "Love you more my wife." Sebuah simbol sederhana dengan bentuk hati, mampu membuat keduanya merasa bahagia.
Pintu rumah besar dibuka setelah Nathan menekan bel.
"Den, non." Sapa art dirumah itu.
"Makam bik." Nathan terseyum tipis dan mengajak istrinya masuk.
"Tuan dan Nyonya sudah menunggu Aden."
"Terima kasih bik." Langkah kaki mereka menuju meja makan dimana ada kedua orang tuanya disana.
"Sayang, kalian sudah datang." Mama Indira langsung berdiri menghampiri kedua anaknya dengan senang.
"Sudah Mah." Nathan mencium kening mamanya setelah memeluk.
"Menantu Mama." Indira mencium kening Ami dan memeluknya.
__ADS_1
"Mama apa kabar?" Tanya Ami setelah pelukan mereka terlepas.
"Baik sayang." Mama Indira tersenyum mengusap lengan Ami.
"Pah, apa kabar." Nathan menyalami papa Allan begitupun Indira.
"Baik, seperti yang kamu lihat." Papa Allan terseyum.
Indira sejak tadi memperhatikan Ami." Sayang kamu gemukkan." Ucap Indira yang melihat penampilan Ami sedikit lebih berisi.
Ami hanya menyengir. "Sekarang dia hobi makan dan tidur mah." jawab Nathan dengan merangkul bahu Istrinya.
Keduanya langsung duduk, diikuti Indira. "Tapi kamu tambah cantik sayang." Puji Indira dengan senyum.
Nathan menatap wajah istrinya. Nathan akui, jika Ami sekarang memang semakin cantik dan menarik, apalagi tubuhnya yang semakin berisi membuat Nathan semakin protektif dengan penampilan sang Istri jika diluar rumah.
"Ada ada oleh-oleh untuk Mama dan papa." Ami berdiri dan memberikan paperbag yang sudah mereka siapkan.
"Ami harap Mama dan papa menyukainya."
Mama Indira menerimanya dengan senang hati. "Terima kasih sayang," Indira menyentuh wajah Ami.
"Bik, tolong bawa sini sup kesukaan Nathan." Ucap Mama Indira pada art.
Tak lama art itu datang dan membawa semangkuk sup kesukaan Nathan.
"Sup kesukaan kamu Nat." Ucap Mama Indira yang menaruh sup itu didepan Nathan. Karena masih panas dan uap mengepul apalagi di tambah bawang goreng begitu banyak membuat perut Nathan mual seketika mencium bau bawangnya.
"Mah, Uek_"
Nathan langsung berlari ke dapur.
"Eh, dia kenapa?" Mama Indira panik, dan Ami langsung menyusul suaminya yang sudah muntah-muntah didalam wastafel.
"By.." Ami nampak perihatin, tangannya memijat pangkal leher Nathan.
__ADS_1
Huek..huek..
"Sayang Nathan kenapa?" Mama Indira panik.
Tidak biasanya Nathan muntah hanya kerena mencium bau masakan, apalagi masakan kesukaanya.
"Mas Nathan tidak suka bau bawang goreng Mah." Ucap Mama Indira, yang masih membantu Nathan memijat pangkal lehernya.
Mama Indira mengerutkan keningnya. "Bukannya dia suka kalau banyak bawang goreng." Ucap Mama Indira heran dan bingung. Karena sejak kecil Nathan menyukai masakan yang dengan bawang goreng tapi sekarang.
"Hah." Tubuh Nathan lemas, dirinya mengeluarkan semua isi dalam perut meskipun tidak ada isinya.
"By, kamu tidak apa-apa." Ami nampak kahawatir apalagi melihat wajah suaminya yang sedikit pucat.
"Em, sudah lebih baik." Nathan merangkul bahu istrinya.
"Kamu sakit Nat?" Tanya papa Allan, disamping Mama Indira.
"Tidak Pah, tapi gak tau kenapa setiap kali mencium bau bawang goreng perutku langsung mual." Tutur Nathan dengan suara lelah. Lelah mengeluarkan isi perutnya.
Mereka kembali kemeja makan, dan Mama Indra menyuruh art untuk membawa kembali sup yang tadi.
Mereka makan bersama, dan Nathan seperti biasa tidak bisa jauh dari istrinya jika sudah seperti ini, karena berdekatan dengan Ami membuatnya jauh lebih baik.
"Apa kamu hamil nak?" tanya Mama Indira ketika mereka selesai menyantap makanan. Sejak tadi Mama Indra memeperhatikan keduanya.
"Hamil?" Ucap Nathan dan Ami bersamaan.
"Hm, tidak biasanya Nathan seperti itu hanya mencium bau bawang saja, dan kamu sayang makan kamu begitu lahap dan banyak."
Ami hanya diam, sedangkan Nathan mencerna ucapan sang Mama.
"Tidak usah dipikirkan, besok kalian cek aja kedokter ya," Mama Indira melihat wajah Ami yang bingung dan hanya diam saja merasa bersalah.
"Iya mah." Balas Nathan dengan senyum yang mengembang, pikirnya sudah membayangkan jika Istrinya benar-benar hamil dirinya pasti akan sangat bahagia.
__ADS_1
"Semoga disini ada Nathan junior sayang." Ucap Nathan dengan mengelus perut istrinya, berharap apa yang mamanya bilang menjadi kenyataan.
"Aku hamil?" Entah mengapa ada rasa bergejolak dalam hatinya yang membuatnya merasa sesak.