
Ami dan Olive keluar dari sekolah pukul dua lewat dan hari ini jadwal Ami pergi kepingiran kota tempat anak didiknya disana. Rencananya keduanya akan kemana menaiki taksi karena pak Husein supir pribadi Ami sedang sakit dan Ami meminta Nathan untuk tidak usah menjemputnya ataupun dikirim supir.
Sampai didepan gerbang banyak siswi yang masih berdiri dan berkumpul di sana, Ami dan Olive melihat mobil mewah yang berhenti didepan gerbang, namun tidak ada penghuninya.
Para siswi pun menjadi penasaran selain suami dari Ami siapa lagi pemilik mobil mewah berwarna merah itu yang kambali menarik perhatian para murid, khususnya kaum hawa.
"Mi, suami kamu ganti mobil?" Tanya Olive dengan penasaran, karena mobil berwarna merah itu begitu menggoda matanya.
"Bukan." Ami menggeleng, kedua tangannya mendorong Olive utuk berjalan kembali, karena sepertinya Olive terhipnotis oleh mobil mewah berwarna merah itu.
"Ayana.." Seketika Ami menoleh ketika seseorang memanggil namanya dari belakang.
Ami mengerutkan keningnya karena tidak mengenal pria yang memanggil namanya. Sedangkan Olive mengangga melihat pria yang berdiri menggunakan kaca mata hitam dan dengan penampilannya yang kasual, celana jeans hitam sepatu puti, dan kaus putih dilapisi jaket bomber berwarna hitam.
"Huaaa, kenapa pria kaya dan tampan selalu mendekat pada Ayana."
"Gue iri pengan jadi Ayana."
"Ayana kayak pake pelet bisa gaet cogan kaya lagi."
Semua siswi berteriak heboh melihat pria yang keluar dari mobil mewah apalagi pria itu mengenal Ami.
"OMG Mii, dia panggil nama kamu." Ucap Olive dengan wajah tak percaya.
Cowok cool dan tampan idaman semua wanita.
Pria itu maju lalu melepas kaca mata hitamnya yang bertengger dihidung mancungnya.
"Huaaaa... Mama ganteng banget."
"Hohoho jantung gue."
"Biarkan dia jadi jodoh gue tuhan."
Para siswi semakin berteriak histeris melihat rupa pria yang baru saja melepas kaca matanya.
Olive sampai tak berkedip melihatnya.
"Jantung gue kembali tidak anak." Gumam Olive dengan jantung yang berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Maaf anda siapa?" Tanya Ami dengan santai, bahkan ekspresi wajah Ami biasa saja melihat pria muda nan tampan itu.
"Gue Niko, anak papa Mustafa." Pria itu tersenyum dengan mengulurkan tangannya. "Calon kakak tiri Lo."
Ami membulatkan kedua matanya, sedangkan Olive menutup mulut dengan senyum lebar.
"M-maksudnya Lo anak om Mustafa yang_"
"Ya, gue anaknya, dan gue kemari pengen kenal sama Lo." Pria itu kambali tersenyum.
Niko Abrahan adalah putra pertama dan satu-satunya anak dari Mustafa Abrahan. Dirinya sengaja mendatangi sekolah Ami atau lebih tepatnya calon adik tirinya untuk berkenalan dan sedikit mendekatkan diri agar terbiasa.
"Tapi kok Lo tau gue anak bunda Raya." Tanya Ami dengan cengonya.
Niko malah terkekeh, "Lu Istri dari pembisnis kaya Raya dikota gimana gue ngak tau."
Ami menepuk keningnya sendiri. "Gue lupa kalau sekarang wajah gue udah terkenal kayak artis." Ucap Ami dengan cingiran.
"So, kita bisa pulang bareng?" Tanya Niko menatap Ami dengan serius.
"Em, Gimana ya." Ami melirik Olive disampingnya dengan menampilkan wajah memelas.
"Kami mau pergi ke daerah pinggir kota, karena hari ini ada jadwal kita belajar disana." Ucap Ami yang mengutarakan niat awal. "Kalau lu mau ikut ya boleh si, tapi gue sama temen." Ami menunjuk Olive yang tersenyum manis pada Niko disampingnya.
"It's oke, gue antar kalian." Niko pun tersenyum dan menyuruh keduanya masuk kedalam mobilnya, Olive duduk di kursi penumpang belakang sedang-kan Ami di kursi penumpang depan.
"Ay, plis deh cogan jangan lu embat semua, gue juga mau."
"Miami, lu beneran beruntung dikelilingi cogan."
Mereka pun masih berdiri memperhatikan Ami dengan pria tampan yang baru saja masuk kedalam mobil mewah itu, bahkan mereka juga ingin menjadi Olive meskipun hanya seperti obat nyamuk.
"Gue berterima kasih karena lu ijinin bokap gue hadir dikeluarga kalian." Ucap Niko melirik Ami sekilas, dan kembali fokus menyetir.
Ami pun ikut melirik Niko. "Bukan gue, tapi karena memang bunda gue butuh sosok orang yang bisa jaga dia dan dampingi dia dengan tulus." Jawab Ami membuat Niko mengangguk.
"Jujur gue suka bunda Lo ketika pertama kali bertemu, dan gue bisa lihat bokap gue seperti hidup kembali saat bertemu bunda Raya." Ucap Niko tersenyum, dan mengingat pertemuannya dengan bunda Raya pertama kali, disaat berkunjung dirumah pak Teguh dan Niko tidak tahu jika ternyata hubungan papanya berlanjut sampai sekarang bahkan sudah kejenjang yang lebih serius.
"Em, maksih." Ami terseyum mendengar ucapan Niko, ternayata dirinya tidak salah mengijinkan bundanya untuk merajut kebahagiaannya kembali dengan om Mustafa, dan Ami merasa senang karena bundanya diterima dengan tangan terbuka.
__ADS_1
"Ck, gue ngak tau kalau bunda punya putri cantik kayak Lo, tapi sayangnya Lo udah jadi bini orang." Niko melirik Ami dengan senyum meledek.
Bugh
Ami meninju lengan Niko. "Dan sayangnya gue lebih milih Lo jadi saudara gue, ketimbang suami gue." Balas Ami dengan tertawa.
Niko ikut tertawa, hanya saja matanya sesekali melirik arah belakang lewat kaca spion, dan Olive yang sibuk dengan ponselnya tidak tahu jika ada seseorang yang memperhatikannya.
Olive nampak menahan kesal ketika ponselnya terus berbunyi, dan banyak pesan masuk dari seseorang, pria yang sudah menyakiti hatinya kini kembali menganggu kehidupannya.
Olive yang kesal memblokir nomor Ando yang terus menghubunginya, pria itu seperti tidak punya rasa bersalah karena sama sekali tidak meminta maaf padanya.
Tak lama mobil Niko sampai ditempat yang ditunjukan calon adik tirinya itu, Niko pun memakirkan mobilnya di tempat yang sedikit lapang, agar tidak menggangu pengguna jalan orang di sana.
Ami ketika sampai langsung keluar dan menghampiri anak-anak yang sudah menunggunya di sana, dirinya tidak menunggu Olive yang masih sibuk dengan ponselnya.
Ehem
"Apa anda masih betah didalam nona." Tanya Niko dengan membuka pintu mob disamping Olive, sedangkan pria itu bersadar dipintu dengan kepala sedikit menunduk.
Olive yang tersadar terkejut, dirinya hendak keluar dengan buru-buru.
Dug
"Auwss.." Olive memegangi kepalanya yang kepentok atap mobil bagian pintu, terasa begitu sakit.
"Ck, makanya pelan-pelan, kepala lu udah kayak baja aja." Tangan Niko mengusap kepala Olive yang terasa sakit.
Olive diam mematung, apalagi jarak mereka terlalu dekat, sehingga Olive bisa mencium wangi harus parfum milik Niko yang membuatnya terlena.
"M-maaf." Olive yang tersadar langsung menjauh dari Niko.
Jantungnya kembali tidak merasa aman setelah pertama dengan pria yang sudah menyakiti hatinya.
Dan sekarang Olive merasakan lagi debaran yang lebih hebat dari sebelumnya.
"Ngak mungkin kan, setiap ketemu cowok gue langsung suka." Gumam Olive pada dirinya sendiri.
Sedangkan Niko hanya tersenyum tipis, lalu mengikuti langkah Olive dari belakang.
__ADS_1