
"Akhirnya kau datang Son."
Marvin Maurer tersenyum senang melihat putranya datang ke mansion miliknya.
Mario mendekati pria paru baya yang masih gagah diusianya yang hampir kepala lima.
"Apa kabar Son." Marvin menyambut Mario dengan pelukan hangat.
"Baik." Jawab Mario singkat.
Keduanya mengurai pelukannya, Marvin kembali duduk di kursi santai yang menyuguhkan pemandangan kolam yang luas.
Mario juga ikut duduk pria itu duduk disebelah Marvin di kursi yang berbeda.
"Ada angin apa kau datang kemari?" Tanya Marvin basa-basi.
"Daddy sudah lebih tahu apa tujuanku datang kemari." Ucap Mario.
Pria 23 tahun bermata abu-abu itu menatap pria yang masih menatap lurus kedepan.
Marvin terkekeh, "Apa yang harus Daddy lalukan, untuk penerus MM Hem." Marvin menatap Mario dengan senyum tipis.
Melihat senyum papanya, Mario mendengus. "Apa kamu tidak yakin bisa mengembalikan perusahaan yang hampir koleb itu dengan otakmu itu?" Tanya Marvin dengan alis terangkat sebelah. "Apa kau hanya ingin cara cepat demi sebuah_"
"Terserah apa yang Daddy katakan, Jika Daddy ingin segera punya menantu lakukan saja apa yang aku inginkan." Ucapan Mario malah membuat Marvin tertawa.
"Rupanya kau sudah tidak sabar menikahi gadis kecil itu." Marvin menggoda putranya.
"Ck, dia bukan akan kecil dad, bahkan dia bisa membuat anak kecil." Kesal Mario yang diledek Daddy-nya.
Marvin hanya tertawa, meskipun Mario kecil sampai tumbuh dewasa tidak bersamanya, tapi Marvin bersyukur putranya ditemukan oleh keluarga yang baik dan menyayanginya.
"Kapan Daddy bisa bertemu Calon mantu dan besan?" Tanya Marvin lagi dengan santai, namun perkataannya terdengar serius.
"Jika Daddy cepat bertindak maka semakin cepat pula Daddy akan bertemu mereka." Sindir Mario mempertegas.
Marvin hanya mengaguk saja. "Kau urus saja bersama Ferdy, dia yang akan membantumu."
Fredy adalah kaki tangan Marvin atau orang kepercayaan Marvin selama bertahun-tahun ini.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Mario berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Marvin menatap Mario dengan alis terangkat sebelah. "Apa kau tidak ingin menginap disini, ini juga rumahmu." Kesal Marvin yang melihat Mario akan pergi.
"Aku harus menemui grandma, lagi pula aku masih ada waktu untuk menginap disini." Jawab Mario melenggang pergi.
"Mishel lihatlah putramu, dia seperti diriku dulu saat muda." Ucap Marvin pada dirinya sendiri, tapi tujuannya untuk sang istri yang pasti bisa melihat dari atas sana.
Mishel adalah istri Marvin tak lain kedua orang tua Mario. Mishel meninggal saat Marvin mendapat penyerangan dari musuh, dan karena itu mereka meninggalkan Mario kecil di sebuah rumah yang menurutnya aman. Keduanya mencoba melarikan diri, namun naas saat itu mishel yang sudah tidak sanggup memilih menyerah, dan Marvin mampu bertahan dan kabur saat sang istri sudah tak bernyawa ketika penembakan terjadi.
Dulu saat merintis karir, banyak pembisnis yang iri pada Marvin yang notabennya cerdas dalam berbisnis, dalam sekejap Marvin mampu menyaingi beberapa perusahaan nomor satu sehingga mereka gelap mata dan tidak terima merasa kalah, dan terjadilah penyerangan pada keluarga Marvin.
Beruntung kekuasaan Marvin masih berdiri, saat dirinya fakum beberapa tahun lamanya, hingga saat kembali memiliki nama, Marvin memilih mencari putra tunggalnya yang dia tinggalkan, yang ternyata dirawat oleh keluarga Bord.
Mario keluar dari mansion dengan mengendarai salah satu mobil yang terparkir, dirinya menuju kediaman ibu dari Julio, tak lain adalah nenek Mario yang berada di Swiss.
Jenny menetap di negara yang memberinya banyak kenangan bersama sang suami, dan selama di Swiss Jenny tinggal bersama Mario.
Tidak butuh lama untuk sampai dikediaman Jenny, Mario segera turun dari mobil setelah memarkirkannya.
"Herr Mario?" Sapa maid disana ketika melihat Mario datang.
"Wo ist Oma?" Mario bertanya menggunakan bahasa asing.
"Beliau ada dikamar tuan."
Mario melangkahkan kakinya menuju kamar jenny dilantai satu. Karena sudah tua Mario menempatkan Jenny dilantai satu, itupun dengan persetujuan Jenny.
"Grandma.." Mario membuka pintu dan masuk.
Jenny yang sedang bersandar di bahu ranjang tersenyum senang melihat Mario datang.
"Mario.." Senyum keriputnya hadir di bibir jenny.
Wanita tua itu memang lebih dekat dengan Mario, dari pada Mike cucunya kandungnya sendiri.
"Ohh cucuku.." Jenny memeluk Mario hangat, merindukan Mario yang sudah hampir satu bulan pergi.
"Grandma baik-baik saja." Mario tersenyum, dan menggenggam tangan keriput jenny.
"Tidak baik, karena kamu lama pergi." Ucap jenny dengan wajah keriputnya yang pura-pura merajuk.
Mario terseyum, "Tidak boleh sakit, dan harus minum obat, jangan lupa makan yang banyak." Ucap Mario perhatian.
__ADS_1
Jenny tersenyum senang mendapat perhatian dari Mario.
"Apa kau berhasil menemui gadis itu?" Tanya jenny dengan senyum, dan wajah menelisik.
Mario kembali tersenyum, dirinya memang menceritakan gadis kecil enam tahun hingga terakhir berusia 13 tahun yang dia temui. Dan sekarang gadis kecil itu menjelma menjadi gadis cantik di usianya yang sudah 16 tahun.
"Sudah, bahkan Mario sedang berusaha untuk meminangnya." Jujur Mario.
Jenny melebarkan kedua matanya mendengar ucapan Mario. "Kau tidak salah mau menikahi gadis belia." Ucap Jenny tak percaya.
Pasalnya dia juga tahu berapa usia gadis yang Mario incar sampai sekarang.
"Tentu saja." Jawab Mario pasti.
"Dasar pedofil." Umpat Jenny sambil memukul lengan Mario.
Keduanya tertawa.
.
.
Hawa sejak tadi gelisah saat melihat ponselnya yang sama sekali tidak ada pesan ataupun panggilan masuk, hatinya mulai galau dengan pikiran yang entah kemana.
"Apa Om lupa kalau ada aku yang menunggu kabar darinya disini." Kesalnya sambil menatap layar ponselnya yang menunjukan chat terakhir mereka, bahkan Mario belum mengaktifkan nomornya dari saat dia berangkat ke Swiss.
Hawa baru saja pulang dari sekolah, dirinya tidak keluar kamar berharap Mario menghubunginya, jika sekarang jam 3 siang, itu berarti ditempat Mario tinggal menunjukan pukul 9 pagi. Perbedaan waktu 6 jam membuat Hawa merasa gemas.
"Mungkin dia sibuk dengan urusannya." Gumamnya dengan mencoba berlapang dada untuk mengerti.
Hawa menaruh ponselnya diatas nakas, dirinya berniat untuk keluar, tapi saat ingin membuka pintu, Hawa mendengar ponselnya berbunyi.
Buru-buru dirinya berlari dan meraih ponselnya yang berbunyi.
Bibirnya langsung mengembang melihat nama yang tertera sedang memanggilnya lewat video call.
"Hay.." Hawa tersenyum manis, ketika sambungan terhubung, tapi senyum itu menghilang saat bukan wajah Mario yang nampak.
.
Gaess tadi typo, Mario sama Hawa selisih 7tj🤭 usia Mario 23 tahun 🤣🤣
__ADS_1
.
Kembang kopi, seikhlasnya 🤣🤣