My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Seperti janji lamaran


__ADS_3

"Bagaimana dok?" Tanya Mario yang berada disamping ranjang Hawa yang menutup mata.


"Dia mengalami gejala DBD, untung saja cepat mendapat pertolongan." Ucap dokter pria berkacamata.


Mario menghela napas, tanganya mengusap kepala Hawa lembut.


"Pasien harus dirawat, untuk pengecekan lebih lanjut."


"Baik dok, terima kasih."


Dokter pun pergi setelah menyuruh suster untuk melakukan pengecekan ulang, dan mereka meninggalkan Mario dan Hawa didalam ruang inap Hawa.


"Kenapa bisa seperti ini." Mario duduk dikursi samping Hawa yang berbaring di ranjang, sejak Hawa diperiksa Mario tidak pergi dari samping gadis itu, meskipun perawat sudah menyuruhnya keluar tapi Mario kekeh tidak ingin pergi.


Wajah Hawa sudah sedikit lebih segar dibandingkan dengan tadi yang terlihat pucat. Mario mengusap lembut kepala Hawa.


Teringat ucapan Hawa saat dimobil, Mario menyunggingkan senyum, "Kenapa kamu memberiku nama yang menggelikan Om ganteng." Ucap Mario dengan kekehan kecil.


Melihat gadis kecil lemah tak berdaya membuat hati Mario ikut ikut merasakan neyeri dan sesak.


"Apakah ini dinamakan cinta? tapi kenapa kamu gadis kecil tujuh tahun lalu yang selalu memenuhi pikiran dan hatiku hm." Mario mengelus pipi chubby Hawa.


Dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi pada hatinya, kenapa anak kecil berusia enam tahun mampu memikat hatinya.


"Cepat sembuh, jangan sakit lagi."


Cup


Mario mengecup kening Hawa lama, seolah Mario sedang menyalurkan perasaan dan kasih sayangnya yang begitu dalam pada gadis kecil yang masih terlelap ini.

__ADS_1


"Tunggu aku Hawa." Ucapnya tepat disamping telinga Hawa.


.


.


"Mama, papa." Hawa terseyum ketika membuka mata dia melihat kedua orangtuanya yang berdiri disampingnya.


"Sayang." Ami langsung memeluk putrinya, menumpahkan rasa khawatirnya lewat Isak tangis.


Nathan mengelus punggung putrinya, dirinya merasa bersalah meninggalkan Hawa dirumah dalam keadaan demam.


"Maafin Mama yang udah bikin Awa masuk rumah sakit." Ucap Ami sambil menangis menatap wajah putrinya yang masih terlihat sayu.


"Bukan salah Mama, Awa saja yang tidak bisa jaga kesehatan." Tangan Hawa mengusap pipi Ami yang basah. "Awa sudah lebih baik Mah, jangan sedih lagi." Gadis kecil itu terseyum.


Nathan menatap putrinya dengan senyum, "Maaf kami nak, karena pergi meninggalkan kamu yang sedang sakit." Rasa bersalah Nathan semakin menyeruak ketika mengatakan hal itu. Sebenarnya Nathan juga begitu sedih melihat princess kesayangannya terbaring dirumah sakit.


"Sudah Pah, Awa tidak apa-apa."


Hawa menyakinkan kedua orang tuanya yang begitu menghawatirkan kepadanya.


Nathan yang masih berada dirumah Julio begitu terkejut mendapat kabar dari Husein jika Hawa dilarikan kerumah sakit.


Dan saat itu juga dirinya langsung menuju rumah sakit bersama Ami, sedangkan Adam dan Daniel diantarkan pulang oleh supir Julio, karena tidak mungkin membawa keduanya kerumah sakit dimalam hari.


Hati dan pikiran Nathan sudah tidak tenang mendengar putrinya masuk kerumah sakit, apalagi dirinya sedang bersenang-senang membuat Nathan merutuki kebodohannya.


"Makan dulu ya." Ucap Ami sambil mengambil jatah makan Hawa pagi hari, semalam Hawa sempat sadar sebelum kedua orangtuanya datang, dan saat mereka datang Hawa kembali tidur hingga baru bangun pagi ini.

__ADS_1


Hawa mengingat percakapan dirinya bersama Om ganteng yang ternyata bernama Mario, mengingat itu Hawa menunduk melihat tanganya yang melingkar sebuah gelang.


"Jangan pernah melepaskannya, karena jika kamu lepas, maka aku akan sulit untuk menemukan mu lagi."


Ucap Mario saat memasangkan gelang perak berbandul hati yang menghiasi bagian rantai gelang itu.


"Ingatlah ini, suatu saat aku Mario akan mencarimu, dan saat kita bertemu nanti kamu akan menjadi milikku."


Lagi-lagi ucapan Mario terekam jelas dikepala Hawa. Meskipun Hawa belum begitu mengerti apa yang dikatakan Mario, tapi Hawa merasakan jika Mario pria baik yang menyayanginya.


"Apa ini bisa dikatakan janji lamaran seperti di film-film?"


Hawa bertanya dengan wajah polosnya, karena sering mendengar kata 'perjodohan' Hawa suka berselancar di dunia maya.


"Anggap saja seperti itu, dan itu berarti kamu milikku, dan suatu saat aku akan menjemputmu."


"Hawa, kamu melamun?" Suara Ami menyadarkan Hawa dari lamunannya.


"Em, tidak mah." Hawa membuka mulut saat suapan nasi didepan bibirnya.


Bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat mengingat obrolan dirinya dengan Om ganteng tadi malam, Hawa seperti menemukan sesuatu yang nyaman saat berdekatan dengan Mario, sama saat berdekatan dengan sang papa.


" Om ganteng Mario."


.


Lunas gAessss๐Ÿคฃ


Sekarang My Husband Om-Om udah ada versi Audiobook_nya loh ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2