
Nathan tidak bisa jauh jauh dari sang Istri, meskipun Ami sudah menolak pria itu agar tidak selalu menempel padanya, karena Ami akan merasa mual jika Nathan selalu mendekat padanya.
Ya, Ami di nyatakan hamil setelah mencoba testpack yang kedua, dimana dirinya yang waktu itu tidak tahu harus berekspresi apa, dan pada akhirnya Ami di nyatakan hamil tiga Minggu dengan garis merah dua yang berarti positif.
"By, aku jangan mendekat lagi." Ami menutup mulutnya menggunakan tangan.
"Sebentar saja sayang," Nathan menempelkan wajahnya di ceruk leher Ami yang sedang berdiri didepan kompor, sedangkan tubuhnya di peluk dari belakang.
Setelah tahu hamil, Nathan tidak bisa jauh dari Ami, dia akan merasakan mual jika berjauhan, dan sebaliknya Ami yang mual jika Nathan mendekatinya.
Entahlah ngidam disebut apa mereka.
Ami hanya bisa diam menahan napas, sedikit lagi makanan yang dia masak matang, dan Nathan yang sebentar lagi akan berangkat kekantor.
Drama setiap pagi akan seperti ini, keduanya tidak bisa saling berjauhan dan sebenarnya ini sungguh menyiksa mereka.
"By, mandi dulu." Ami menantikan kompor listrik itu, dan tumbuhnya berbalik untuk menatap wajah suaminya.
"Mandiin." Ucap Nathan manja.
Rasanya Ami ingin sekali mengacak-acak wajah Nathan yang lucu dan menggemaskan ketika menjadi manja seperti ini,.sungguh Ami merasa mengasuh bayi besar.
"Nanti aku Carikan baby sitter untuk mandiin kamu." Ucap Ami dengan santai.
Nathan membulatkan kedua matanya. "Kamu rela jika dimandikan orang lain." Pria itu menatap Ami tidak percaya.
Ami terseyum, "Tentu saja tidak, makanya mandi sendiri udah besar kok minta dimandiin." Ami melengos berjalan masuk ke kamar.
Nathan mengusap rambutnya kasar dengan wajah cemberut.
Kedua orang dewasa itu sama-sama seperti bayi, bayi besar yang minta dimanja.
.
.
Di kantor Ando sedang sibuk menyeterilkan ruangan Nathan, dan beberapa tempat yang dilewati pria itu, contohnya dari bau dan parfum yang menyengat. Nathan menyuruh semua karyawannya menggunakan pengharum berbau lemon, bayangkan saja apa ada parfum bau lemon.
__ADS_1
Ando sendiri pusing harus melakukan penyeterilan setiap hari, dan ini sudah tiga hari semenjak tahu jika Istrinya hamil.
Disetiap sudut Ando menaruh pengharum ruangan berbau lemon, bahkan setiap ruangan karyawan Adhitama diperlukan hal yang sama.
Entah sampai kapan mereka akan seperti ini, meskipun menghemat parfum, tapi tetap saja mereka tidak pe-de.
Seperti biasa jika bos mereka memasuki lobby, karyawan yang berkeliaran harus dipastikan tidak menggunakan bebauan yang menyengat, kalau tidak mereka akan terkena sangsi, kerena sudah membuat bos mereka terkapar seharian.
Anggap saja indera penciuman Nathan sedang rusak.
"Tumben lu udah masuk Nat." Ando melihat Nathan yang sudah ada di kantor di jam delapan pagi.
Kenapa?
Karena kemarin selama tiga hari Nathan datang kekantor pukul sepuluh pagi berturut-turut dan itu membuat Ando sedikit merasa lega, tapi pagi ini tidak.
"Hm." Nathan hanya berdehem, pria itu seperti kurang jatah.
"Lu kenapa? sariawan?" Ucap Ando dengan maksud meledek, jika wajah Nathan terlihat masam, maka sudah pasti kurang sajen dari sang Istri.
"Ck, berisik." Nathan menatap Ando tajam, sedangkan Ando hanya tertawa.
Nathan hanya mengaguk. "Jangan lupa bawa pewangi lemon."
Ando kembali menghela napas dengan pasrah.
Kemana-mana dirinya harus membawa pengharum, yang benar saja. Cintranya sebagai pria macho dan cool akan hilang seketika di tempat umum.
"Kenapa hanya diam saja, cepet siapkan." Ucap Nathan ketus.
Selain aneh Nathan sekarang menjadi menyebalkan, meskipun sebelumnya juga sudah menyebalkan tapi sekarang lebih parah.
"Ck, lu makin nyebelin Nat." Ando segera keluar sebelum mendapat semprotan lagi dari Nathan.
Sedangkan di tempat lain, Ami yang jauh merasa lebih baik jika tidak berdekatan dengan Nathan, maka wanita itu sedang mendatangi butik Mama mertuanya, setelah Indira menyuruhnya untuk kesana.
"Mah.." Ami tersenyum dan menghampiri Mama mertua yang masih cantik di usianya yang sudah tak lagi muda.
__ADS_1
"Sayang, sudah sampai." Indira menyambut kedatangan menantunya dengan senang.
"Apa dia baik-baik saja." Tangannya mengelus perut rata Ami yang memang kehamilanya baru memasuki tiga Minggu, dan masih rawan-rawannya.
"Baik mah," Ami terseyum.
Indira mengajak Ami untuk masuk ke dalam ruangannya, dan ternyata didalam ruangan itu terdapat beberapa makanan yang biasanya cenderung ibu hamil inginkan, tapi masih dalam porsi sehat ibu hamil.
"Waahh, Mama beli ini semua." Ami yang melihatnya berbinar senang.
"Hm, saat Mama hamil Nathan dulu, Mama suka makanan asin, kalau manis Mama hanya suka eskrim." Ucap Indra dengan senyum, mengingat puluhan tahun lalu saat dirinya tengah mengandung Nathan.
Selain dirinya, dulu Allan juga berperan juga. Pria itu juga ngidam tidak bisa mencium aroma lain selain wangi parfum Istrinya. Indira menceritakan sedikit yang dia ingat.
"Hm, ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya Mah, Mas Nathan juga seperti papa dulu." Ami tertawa.
Ternyata sifat sumainya menurun dari sang papa mertuanya yang mengalami ngidam yang sama, hanya saja Nathan yang lebih parah.
"Mama sampai kangen dengan masa-masa itu sayang." Ucap indira dengan terseyum.
"Kata Mama, kak Aileen akan pulang ke Indonesia Mah, kapan?" Tanya Ami yang diberi tahu suaminya.
"Besok, katanya dia mau ngenalin temannya." Jawab Indira.
Ya, Aileen memang akan pulang dari LA, gadis itu ingin mengambil job model nya di Indonesia saja, karena selain itu Aileen juga ingin mengenakan teman prianya yang sudah lama dekat.
"Oh, jadi kak Aileen sudah punya kekasih." Ucap Ami yang tidak percaya, karena jika di liput majalah atapun diwawancara ditelevisi putri kedua Allanaro itu tidak pernah bilang jika memiliki kekasih, begitupun Aileen yang tidak pernah tertangkap kamera sedang berkencan.
"Mungkin, Mama terkadang khawatir dengan Aileen, karena usianya sudah sangat matang untuk menikah."
Yang indira katakan benar, dia terkadang memiliki kekhawatiran, jika Aileen sibuk dengan karirnya maka masa depan pernikahan putrinya akan terlihat jauh, apalagi Aileen yang tidak pernah terlihat memiliki pasangan membuat Indira merasa was-was.
"Mungkin jodoh kak Aileen belum ketemu mah, dan sekarang mungkin saja Tuhan baru mengirimnya." Ucap Ami untuk menenangkan pikiran Mamanya.
"Ya, kamu benar sayang, karena jodoh kita tidak tahu kapan akan datang."
Ami mengaguk setuju, seperti dirinya yang juga tidak menyangka jika jodohnya datang cepat. Cepat karena usianya yang belum genap tujuh belas tahun dirinya sudah menikah dan semua itu sama sekali tidak terpikirkan olehnya, apalagi dinikahi oleh pria tampan, kaya serta memiliki banyak cinta dan kasih sayang seperti Nathan.
__ADS_1
Ami pun benar-benar tidak menyangka, dan dirinya sangat bersyukur.