
"Lebih baik kalian keluar biar dia bisa istirahat." Ucap petugas yang ada di ruang UKS.
Zian dan Olive saling tatap. "Liv, gue mau bicara sama Lo." Ucap Zian yang keluar lebih dulu.
Olive hanya menghela napas, lalu menatap sahabatnya yang memejamkan mata. "Mi, aku keluar dulu ya." Olive mengelus lengan Ami, dan Ami hanya mengangguk setuju. Dirinya terlalu malas melihat Zian karena ucapan Zian yang terakhir kali begitu membuatnya kecewa.
Olive menutup pintu UKS didepan sudah ada Zian yang menunggunya.
"Ada apa kak?" Tanya Olive dengan tenang, meskipun dia tahu apa yang akan di tanyakan Zian.
"Apa maksud dari foto-foto itu, apa itu benar?" Tanya Zian menatap Olive penuh ingin tahu.
Dirinya tidak ingin berprasangka buruk tentang Ami seperti kemarin, karena setelah kejadian itu Zian merasa bersalah dan terlalu menghakimi Ami.
"Maksudnya?" Olive balik bertanya, gadis bertubuh isi itu terlalu santai menanggapi perkataan Zian yang begitu ingin tahu.
Zian berdecak. "Katakan ada hubungan apa Ayana dengan ketua yayasan disekolah ini." Tegas Zian membuat Olive tercekat, dirinya bingung akan menjawab apa.
"Lu gak mungkin gak tau, kalau Ayana ada hubungan dengan ketua yayasan dan foto-foto itu sudah cukup bukti jika mereka dekat." Suara Zian menggebu-gebu, antara kesal dan rasa kecewa dengan kenyataan yang mungkin saja tidak ingin dia dengar.
"Itu urusan mereka kak, aku tidak ingin ikut campur, lagian mereka sah-sah saja jika ada hubungan karena mereka sama-sama singgel." jawaban Olive membuat kedua tangan Zian terkepal erat.
"Lagian tanpa sadar kakak sudah membuat Ami kecewa dengan tuduhan kakak waktu itu, dan aku pikir kak Zian juga tidak pantas menilai Ami hanya karena melihat sesuatu yang kak Zian tidak tahu kebenarannya." Setelah itu Olive kembali masuk kedalam ruangan UKS menemui Ami.
Zian mematung mendengar ucapan Olive, dirinya yang baru sadar kini semakin merasa bersalah. Dan Ami pasti sudah sakit hati karena ucapannya.
"Bagaimana keadaan kamu." Tanya Olive yang duduk dikursi samping ranjang yang Ami tiduri, Ami bangun untuk duduk bersandar.
"Gara-gara Mak lampir, harus pake perban kek gini." Keluhnya dengan mwneyntuh perban yang berada di keningnya. "Auwsss." Ami meringis ternyata rasanya ngilu jika disentuh.
__ADS_1
Olive hanya geleng kepala. "Lagian kamu nekat banget lawan si Nesya, udah tau dia bar-barnya kebangetan."
Ami menghela napas. "Liat aja mereka akan aku balas, gue gak bakalan diem dengan apa yang sudah Nesya lakuin." Kesal Ami dengan menatap Olive.
"Yakin, gak takut kena skors lagi?" Tanya Olive dengan tersenyum.
"Ada lakik gue, yang bakalan urus masalah itu." Jawab Ami santai.
"Dih, sekarang udah pinter ya, berlindung di ketiak lakik, bukan Om mesum lagi." Ledek Olive membuat Ami mendelik.
"Ck, ketiak dia wangi tau, gue aja gak bisa tidur kalau gak di kekep sama dia." Ucap Ami polos membuat Olive tertawa.
.
.
Nathan akhir-akhir ini disibukan dengan meninjau lokasi bangunan, dia ingin bangunan itu jadi sesuai dengan harapannya. Dia memegang sendiri proyek yang sedang berlangsung oleh karena itu dia lebih sering pulang telat hanya demi pekerjaan yang sedang dia kerjakan.
Nathan berjalan mendekati Hilda yang duduk dibawah tenda yang sengaja di siapkan untuk mereka.
"Thanks.." Nathan menerima kotak nasi yang Hilda berikan.
"Kamu suka makan seperti itu?" Tanya Hilda yang melihat isi dari kotak makan Nathan, nasi dengan tumis sayur hijau dan sambel ditambah ikan pepes yang menurut Hilda cukup aneh.
"Ya, karena ini lebih enak, dari pada stik." Balas Nathan dengan langsung memakan menu siangnya. Menurutnya masakan bunda Raya lebih enak dari pada masakan yang dia makan sekarang.
Dan mengingat itu Nathan teringat Istrinya, sejak tadi dia belum memberi kabar.
Buru-buru dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
__ADS_1
"Nat, ada apa?" Tanya Hilda yang melihat Nathan begitu buru-buru mencari ponselnya.
"Tidak apa." Nathan terseyum, lalu menekan ikon panggil dengan nama Istri Nakal.
Lama menunggu panggilanya tidak diangkat, Nathan berdecak sebal. "Angkat.." Kesalnya karena tak kunjung tersambung, dan Nathan mencoba menghubungi kembali.
"Halo.." Terdengar suara yang dia rindukan diseberang sana, membuat Nathan tersenyum.
"Sudah makan belum?" Tanya Nathan yang beranjak dari posisi duduknya, dirinya sedikit menjauh dari Hilda.
"Em, Su-sudah." Suara Ami terdengar gugup diseberang sana.
"Kamu kenapa sayang, apa terjadi sesuatu?" Tanya Nathan yang sedikit khawatir mendengar suara Ami yang terdengar berbeda.
"Tidak apa-apa, sudah dulu Mas, nanti_"
"Ami awas... aaaakkk"
Brakk
Tut...Tut..Tut..
Sambungan telepon tiba-tiba terputus. "Halo, sayang..! halo..!" Nathan melihat layar ponselnya yang sudah mati.
"Sial..!!" Nathan kembali ke tenda dan mengambil barang miliknya termasuk kunci mobil.
"Nat, kamu mau kemana?" Hilda langsung berdiri ketika melihat Nathan mengambil barang miliknya dengan buru-buru.
"Saya harus pergi."
__ADS_1
"Tapi Nat, makan kamu belum habis." Hilda berteriak karena Nathan semakin lari menjauh.
"Ck, siapa sih yang bisa buat dia panik gitu." Kesal Hilda karena lagi-lagi ditinggal sendiri oleh Nathan.