
"Sial!" Mario kembali mengumpat, saat tidak menemukan mobil yang dia kejar, mobil sedan hitam membawa gadis yang dia cari.
Mario menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sedikit sepi, pria itu keluar dari mobil sambil mengeluarkan bungkus ro*ok yang dia beli tadi.
Fyuhh
Kepulan asap membubung diudara, Mario menunduk dan tersenyum, mengingat kenangan tujuh tahun lalu yang belum dia lupakan, bahkan tidak akan dia lupakan.
"Pedofil." Gumamnya dengan teekekeh.
Ya, dirinya pantas disebut pria pedofil yang menyukai anak di bawah umur.
"Cinta tidak memandang umur." Mario kembali menghembuskan asap dari mulut dan hidungnya, pria itu seperti pria gila dipinggir jalan yang senyum-senyum sendiri.
Mario Maurer adalah pria berusia dua puluh tahun, Mario yang tinggal di Swiss sedang menekuni studinya baru dua tahun, masih ada sekitar tiga sampe lima tahun lagi untuk mendapatkan gelar cumlaude yang dia inginkan.
"Ck, bocil tiga belas tahun." Ucapnya lagi sambil menatap langit malam yang dihiasi bintang. "Tapi kamu semakin menggemaskan dari tujuh tahun yang lalu." Ucapnya lagi dengan kepala yang diisi oleh wajah kecil Hawa dan wajah gadis kecil tadi yang dia lihat.
"Bersabarlah Mario, ini hanya soal waktu."
Mario menyakinkan dirinya untuk tetap pada pendiriannya dan cita-cita yang akan dia gapai, Mario ingin mendirikan perusahaan sendiri dengan tekhnologi yang dia kuasai. Dan jika waktunya sudah tiba, dirinya akan menjemput gadis yang dia inginkan.
Meskipun memiliki orang tua yang kaya, tapi Mario tidak menginginkan kekuasaan ayahnya, dirinya masih memiliki adik, dan biarkan Mike yang akan meneruskan usaha keluarganya.
"Tunggu aku Awa."
__ADS_1
Pluk
Mario melempar sisa ro*ok dan menginjaknya menggunakan sepatu, pria itu kembali masuk kedalam mobil dengan perasaan entah harus dinamakan apa.
Senang?
Tentu saja, karena kembali bertemu dengan gadis kecilnya.
Sedih?
Sedih karena tidak tahu tempat tinggal gadis itu, dan lusa dirinya harus sudah Kembali ke Swiss.
.
.
"Ihhh Kak Adam itu punya Awa!" Hawa kesal dan mengejar Adam yang berlari membawa makanan yang dia beli kearah dapur.
Byarr
Adam membalikkan plastik berisi makanan yang Hawa beli.
"Ya ampun!" Adam tepuk jidat melihat isi belanjaan adiknya itu.
"Rese ih, awas Awa aduin sama papa." ancam Hawa untuk Adam.
__ADS_1
Adam mencebik, "Selain papa, apa tidak ada kandidat yang kamu sebutkan." Ledek Adam degan wajah menyebalkan bagi Hawa.
Hawa mendelik, "Bodo amat, wleee." Hawa menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan Adam yang menyebalkan, kedua selalu tidak bisa akur jika bersama.
"Dih, anak Mama ngambek." Gerutu Adam sambil menyambar minuman kesukaan Hawa.
Huhh
Hawa menghempaskan tubuhnya di ranjang miliknya yang empuk.
Tubuhnya berguling kesana kemari kayak buntelan kentut.
Berhenti dengan posisi telentang, "Om, sapa ya?" Hawa mengetuk dagu dengan jari telunjuknya, bola matanya kesan kemari mengingat pria yang baik hati dan tampan yang menolongnya tadi.
"Om ganteng aja deh, hihihi." Hawa cekikikan sendiri.
Mario memang tampan, Hawa yang masih bau kencur saja sudah tahu jika pria dua puluh tahun itu tampan.
"Om ganteng, dedek Emes." Hawa malah seperti anak yang cacingan, kelugat kluget diatas kasur 🤣
.
Dedek Emesnya Om ganteng ðŸ¤
.
__ADS_1