My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Satu +satu


__ADS_3

Engh...


Kedua tangan Ami berada di dada Nathan, meremat kaus yang Nathan pakai.


Ciuman yang awalnya lembut kini berubah menuntut Nathan semakin memperdalam lumattan bibirnya, mengeksplor rongga mulut Ami menggunakan lidahnya dan membelit satu sama lain.


Ami yang sudah mahir, mampu mengimbangi ciuman Nathan yang ganas. Meskipun napasnya tersengal.


"By, jangan ah." Ami mendesahh, ketika tangan besar Nathan menyentuh intinya yang sudah basah.


"Em, kamu basah sayang." Nathan terseyum dengan menatap lekat wajah sang Istri yang sudah sayu.


"Engh, ck kamu jahat By."


Dengan lembut Nathan mulai melakukan kegiatan yang sangat menggugah selera. Selera yang tidak bisa dikatakan puas dan kenyang.


Sesuatu yang nikmat tapi bukan makanan, asupan bergizi dan bernutrisi dan vitamin penambah semangat, itulah kata Nathan menggambarkannya.


.


.


"Sayang bagaimana dengan yang ini." Aileen menunjukkan beberapa foto Wedding organizer, kepada calon suaminya Ditya.


"Terserah sama kamu sayang." Ditya menyesap minumnya di atas meja.


Hari ini mereka berdua ketemuan untuk memilih konsep pernikahan yang Aileen inginkan, sedangkan Ditya sebenarnya sudah pasrah dengan konsep yang Aileen inginkan, karena Ditya tipe pria yang tidak mau ribet, apalagi harus membuang waktu untuk memilih konsep pernikahan, toh ujung-ujungnya, Aileen sendiri yang akan menentukan.


"Kamu percaya padaku." Tanya Aileen menatap Ditya serius.


Ditya yang ditanya, menoleh menatap wajah cantik calon istrinya.


"Tentu saja, aku yakin kamu lebih bisa memilih dari yang bagus dan yang paling bagus." Ucap Ditya terseyum.


Aileen tersenyum senang, " Baiklah, kalau begitu aku tidak akan minta pendapatmu." Ucap Aileen dengan senyum lebar.


Aileen bukan tipe wanita yang yang harus minta pendapat dari pasangan, jika ibarat wanita lain akan merajuk kalau sang pria tidak ikut andil, tapi tidak dengan Aileen, wanita itu justru senang diberi wewenang dan kepercayaan, soal memilih sesuatu, yang bagus dari yang lebih bagus. Dan untuk Ditya jelas dia mempercayakan semuanya pada Aileen, karena pilihan Aileen memang yang terbaik.


"Hm, lalukan."


Aileen begitu senang, wanita itu langsung mengutrakan keinginannya pada pemilik Wedding organizer itu, Aileen begitu antusias membahas semua persiapan, yang dia inginkan saat acara pernikahannya nanti.

__ADS_1


"Baiklah Nona, kami akan memberikan yang tebaik untuk nona dan tuan, kalau begitu kami pergi dan terima kasih." Ucap wanita yang sejak tadi mencatat apa saja konsep yang diinginkan kliennya.


Dan mereka akan melakukannya dengan baik dan sempurna mungkin, karena ini bukanlah pernikahan dari kalangan biasa, putri kedua dari kelaurga Adhitama akan melangsungkan pernikahan dengan salah satu cucu dari keluarga Kusuma.


"Setelah ini apa masih ada yang perlu kamu selesaikan?" Tanya Ditya yang duduk disamping Aileen, keduanya duduk bersampingan, sedangkan Aileen masih mengabiskan makan siangnya.


"Tidak, hanya saja nanti malam ada undangan teman yang sedang berulang tahun." Jawab Aileen yang sudah menelan habis makanannya.


Aileen mengusap mulutnya menggunakan tisu, "Kenapa? kakak masih ada kegiatan?" Tanya Aileen balik pada Ditya.


Ditya menggeleng. "Tadi pagi sudah, sekarang tidak ada jadwal di kompi."


Aileen mengangguk, Ditya menatap wajah cantik calon istrinya dengan seksama.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Tanya Aileen dengan memincingkan mata.


Ditya terseyum dan memalingkan wajahnya.


"Tidak ada, Ayo kalau sudah selesai."


Ditya mengeluarkan beberapa uang kes untuk membayar makanan mereka, setelah itu, keduanya keluar dari restoran menuju mobil Jeep milik Ditya.


Brak


Menutup pintu mobil Ditya memutari depan untuk masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Sayang, besok kosongkan jadwal, kita harus mengurus nikah dinas." Ucap Ditya sambil memakai sabuk pengamannya.


"Em, lama tidak kak?" Tanya Aileen, yang penasaran.


"Tidak, karena aku sudah mengurus surat-suratnya jadi kita hanya meminta tanda tangan dan bertemu dengan kepala rayon beserta jajaran yang mengurus pernikahan dinas." Jawab Ditya yang di angguki Aileen.


"Nanti malam kakak temani aku ya." Aileen tersenyum manis, menatap pria yang irit bicara jika sedang kumat.


"Hm," Ditya hanya berdehem, sebagai jawaban. Tapi karena Aileen sangat mengenal calon suaminya itu, tentu saja gadis itu senang. Kerena itu berarti Ditya mau menemaninya kepesta.


Ditya membawa Aileen keaparteman miliknya, apartemen yang sudah Ditya tinggali, beberapa tahun semenjak manjadi abdi negara ditanah kelahiran kedua orangtuanya.


Karena Ditya lahir di Paris dengan sang adik.


Bugh

__ADS_1


Aileen menghempaskan tubuhnya di sofa depan TV, wanita itu memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar pada bahu sofa.


Aileen masih aktif di dunia permodelan, tapi wanita itu hanya mengambil beberapa brand seperti tas, pakaian dan kosmetik. Aileen tidak seleluasa dulu, karena kini dirinya akan menjadi seorang Istri anggota abdi negara. Dan Aileen sudah berjanji jika dirinya akan mengurangi jadwal pemotretan dah job pekerjaan yang memang sedikit dewasa, dan Aileen sudah memutuskan untuk menagmbil tiga job pemotretan bran yang aman dan tidak mengganggu dirinya sebagai anggota Bhayangkari nantinya.


Sebuah sapuan lembut dan basah menari-nari di atas bibirnya yang tertutup rapat.


Aileen yang merasakan ciuman dibibirnya hanya membiarkan dan membalasnya.


Tanpa ditanya dia tahu siapa yang mencumbu bibirnya, dari aroma parfumnya saja Aileen sudah hapal.


"Emph, kak." Aileen bergumam dalam cumbuan bibir yang saling menyatu, apalagi Ditya semakin dalam menyesap dan melumatt bibirnya kasar.


"Ahh." Aileen meleguh, ketika bibir basah Ditya menyusuri leher jenjang dan memberi tanda kepemilikan di sana, Aileen enggan membuka kedua matanya.


"Ugh.."Leguhan Aileen semakin terdengar, ketika tangan besar dan hangat Ditya meratap di atas buah dadanya yang masih tertutup rapat, hanya saja Aileen, menggunakan pakaian dengan potongan leher rendah, sehingga mempermudah Ditya menyentuh permukaan daging kenyal itu tanpa penghalang.


"Umm kak, aku_"


Ditya langsung menyibak pakaian Aileen yang menampilkan buah dadanya yang masih terbungkus dengan dia kacamata yang tidak tembus pandang berenda berwarna putih.


Glek


Ditya menelan ludahnya kasar, untuk pertama kali dirinya melihat benda yang mirip squisi, kenyal dan empuk itu dengan kedua matanya. Jika sebelumnya Ditya hanya berani dengan kissing tanpa mau menyentuh ataupun melihat langsung. Tapi putra dari Riko si Pebinor Nakal itu kini sudah berani menyentuh dan melihat langsung benda yang biasa tertutup rapat.


"Kak." Aileen menatap sayu wajah Ditya yang masih menatap dadanya dengan jakun naik turun.


"Apa aku boleh menyentuhnya." Tanya Ditya menatap Aileen dengan tatapan yang susah diartikan.


Aileen bersemu malu, untuk pertama Ditya mau menyentuh meskipun hanya bagian atas tubuhnya. Dengan pelan kepala Aileen mengangguk, dirinya juga ingin merasakan bagaimana sensasi memiliki bayi besar untuk pertama, kali. Karena jika dirinya melihat di film dewasa, Aileen sampai ikut mengigit bibirnya karena merasa gemas.


"Enghh.." Aileen memejamkan matanya saat telapak tangan besar itu mulai menyentuh kulit gundukkan dadanya dengan lembut, bahkan Ditya memijitnya dengan pelan.


Perlahan tangan Ditya menggeser benda berenda yang menutupi gundukkan yang sudah membuat kepalanya berfantasi kemana-mana. Ditya menyibaknya hingga benda itu terlihat mengintip ingin segera dibebaskan.


Cup


"Ugh.." Hawa panas langsung menyergap tubuh Aileen, saat pucuk dadanya, dikecup lembut oleh bibir basah Ditya.


Ditya yang merasakan kepalanya semakin pusing, segera melahap dan mengemut, benda kecil yang masih tumpul belum mencuat, sangat kecil membuat Ditya gemas ingin menyesap dan menggigit.


"Ahhh Kak.."

__ADS_1


__ADS_2