
Nathan membantu sang Istri membersihkan diri. Ami diperlakukan bak putri, dari mulai digendong masuk kamar mandi hingga Nathan membatunya untuk membersihkan diri dan sekarang pria itu membantunya memakaikan pakaian malam pilihan Nathan sendiri, setelah itu barulah Nathan memakai baju untuk dirinya sendiri.
"Kalau kayak gini mending aku ngak pake baju By." Bibir Ami mengerucut tajam dengan duduk diatas ranjang, menatap punggung suaminya yang perlahan tertutup kaus yang dia kenakan.
Nathan menoleh kebelakang, pria itu tersenyum menyeringai.
"Dengan senang hati aku mengijinkan sayang."
Bugh
Ami melempar bantal pada tubuh Nathan, hingga bantal itu mental jatuh kelantai.
Nathan tertawa. "Jujur sayang, aku suka kamu tidak memakai apapun."
Ucapan Nathan semakin membuat wajah Ami ditekuk, dengan bibir mengerucut.
"Kalau aku hamil bagaimana, kamu membuangnya didalam By." Kesal Ami.
Nathan menghampiri Ami setelah selesai menyisir rambutnya.
"Hamil ada suami, aku yang membuatnya menangnya kenapa?" Jawab Nathan yang pura-pura tidak tahu maksud ucapan Istrinya.
"Ish, bukan itu By. Jika aku hamil pasti aku akan di bully lag_"
"Ssttt, tidak akan." Nathan mengecup bibir Istrinya yang cemberut. "Maaf tanpa ijin kamu sayang, dokter sudah memasang alat kontrasepsi waktu itu. Dan itu aku yang meminta." Tangan Nathan mengelus pipi mulus istrinya. "Seharusnya dari w
awal aku tidak egois memikirkan ini, dan kamu tidak mengalami kejadian itu." Ucapnya menatap dalam manik mata coklat sang Istri. "Mulai sekarang kamu fokus sekolah, setelah lulus kita bicarakan dan pikirkan semua nanti." Nathan terseyum tipis.
"Em, maaf By." Balas Ami dengan terseyum. "Maaf, mungkin karena aku belum siap jadi Tuhan mengambil dia lagi." Tutur Ami dengan dada sedikit sesak.
"Tidak apa, kita belajar dari pengalaman untuk menjadi yang terbaik kedepannya." Nathan membawa Ami masuk kedalam pelukannya.
Keduanya sudah ikhlas menerima keadaan yang menimpa mereka sebelumnya.
.
.
.
Setelah pulang sekolah Ami meminta Olive untuk menemaninya belanja, karena bunda Raya bilang jika nanti malam kelaurga calon papa baru Ami akan datang untuk melamar. Dan Ami berbelanja kebutuhan yang diperlukan dia sudah bilang pada bunda Raya akan membeli kebutuhan dan bunda Raya hanya menunggu di rumah saja.
__ADS_1
"Kayak nya udah deh Ol." Ucap Ami, mengecek bahan belanjaan yang tadi bunda Raya sebutkan.
"Yakin sudah." Tanya Olive memastikan.
"Hm, daging, sayuran, bumbu buah. Udah kok, tinggal beli kue aja nanti di toko langganan bunda." Ucap Ami terseyum senang.
"Oke, kita pergi ke kasir." Olive membantu mendorong satu troli, dan Ami mendorong satu juga, total Ami belanja dua troli, dan dirinya sudah meminta ijin Nathan jika hari ini akan menguras isi kartu miliknya.
Nathan pun tidak keberatan berapapun yang Ami pakai masih belum mencapai target yang Nathan kasih setiap bulan, bahkan terkadang Istrinya itu tidak memakanya.
Ami dan Olive mengantri di kasir, kedua gadis itu asik mengobrol hingga seseorang dari belakang mengenali mereka.
"Ay, Olive." Sapanya, membuat keduanya menoleh.
"Kak Zian." Jawab Ami dan Olive bersamaan.
Zian tersenyum dan mendekati mereka berdua.
"Kalian borong pendapuran?" Tanya Zian yang melihat isi troli keduanya.
"Hee, iya buat makan kak." Jawab Ami dengan kekehan.
Tidak menyangka sudah lama mereka tidak pernah bertemu, sejak kejadian terakhir kali keduanya terlibat insiden. Dimana Maudy yang menjebak adiknya sendiri dengan Ami untuk membuat Nathan marah.
"Ay, gue mau minta maaf soal waktu itu. Atas nama kakak gue, gue minta maaf." Ucap Zian dengan tulus, bahkan pria itu menampilkan wajah bersalahnya.
Ami dan Olive saling pandang, "Aku sudah melupakan kejadian itu kak, dan sekarang kita menjalani kehidupan yang lebih baik." Balas Ami dengan menyunggingkan senyum.
"Ya, kamu benar, jadi kita bisa menjadi teman." Zian mengulurkan tangannya untuk berjabat.
Ami pun menatap tangan Zian, dan menerimanya. "Oke, kita teman."
Olive pun ikut menaruh tangannya di atas tangan keduanya.
"Eh, kayaknya gue baru sadar kalau Olive sudah agak..emmm."
"Kurusan." Celetuk Olive dengan bibir cemberut.
Zian mengangguk pelan, "Tapi jujur, loe lebih kelihatan manis."
Blus
__ADS_1
Pipi Olive langsung merona mendapat pujian dari Zian, yang notabennya cowok good looking disekolahnya dulu, dan kini cowok itu semakin terlihat semakin tampan.
"Kak si Olive bushing." Ledek Ami semakin membuat Olive malu, dan Zian malah tertawa.
Kesalahan memang bukan dari Zian, retaknya kedekatan mereka karena Maudy kakak Zian sebagai dalangnya, dan baru sekarang Zian memberanikan diri untuk meminta maaf kepada Ami, karena Zian pikir perbuatan kakaknya sangat fatal.
Mobil yang di tumpangi Ami sampai didepan rumah bunda Raya, kali ini pak Husein sudah kembali bekerja dan membantu Ami untuk menurunkan barang belanjaan yang tadi Ami borong.
"Ya ampun sayang banyak sekali yang kamu beli." Ucap bunda Raya yang melihat Ami, dibantu Olive dan juga pak Husein menurunkan beberapa kantung keresek.
"Harus bunda, kitakan mau kedatangan tamu spesial, bukan hanya bunda tapi aku juga." Balas Ami dengan wajah senang.
"Kamu? siapa?" Tanya bunda Raya yang tidak tahu tamu spesial putrinya.
"Ck, bunda aku kan juga mau memasak kesukaan suami, papa mertua, Mama mertua, dan calon ayah, jadi biarkan aku bereksperimen untuk membuatkan mereka hidangan yang lezat."
Bunda Raya hanya geleng kepala, melihat antusias putrinya.
"Halah, palingan juga butuh aku sama bunda juga, mana mungkin kamu bisa selesai sendiri masak banyak gini." Ucap Olive dengan wajah meremehkan.
Ami mendelik. "Oke kita taruhan, kalau gue berhasil memasak ini semua tepat waktu lu, harus jadian sama cowok yang gue sebutin pilih salah satunya Dan hanya satu Minggu tidak lebih. Dan Kalau gue kalah Lo boleh minta apa saja sama gue, gak mungkin kan gue juga harus jadian sama cowok lain, ya kali bisa digorok leher gue sama Ayang." Ami bergeridik negeri. "Bagaimana deal." Mai terseyum meneyringai dengan mengulurkan tangannya pada Olive.
"Ck, aku ngak yakin kamu bisa." Olive dengan percaya diri jika Ami tidak akan meneyelsaikan semua tepat waktu dan dia pasti tidak akan mungkin menebak cowok lebih dulu.
"Oke, bunda sanksinya ya, kalau lu ingkar, kekkk." Ami memperagakan tangan menebas lehernya.
"Deal." Keduanya saling terseyum meneyringai.
"Belum tahu dia bun, aku ini turunan siapa." Ami berkata pongah, sedangkan bunda Raya hanya geleng kepala.
"Oke, sekarang kasih tau siapa cowok yang kamu ajukan." Tanya Olive yang penasaran.
"Eiittt,, tidak sekarang Medusa, itu kejutan."
Plak
"Kamu pikir mata aku bisa mengutuk, Medusa..medusa." Kesal Olive memukul lengan Ami, keduanya sambil membantu bunda Raya menyiapkan bahan.
"Hahaha," Ami tertawa. "Ya kali lu keturunannya."
Olive mencebik. Bunda Raya yang melihatnya pun senang karena putrinya bisa kembali ceria dan tertawa.
__ADS_1