
Mendapat pesan dari sang Mama, setelah pulang kantor Nathan langsung mengunjungi butik Mamanya.
Pekerjaan hari ini lancar karena selalu menyanding pengharum beraroma lemon, jika tidak Nathan bisa muntah-muntah seperti orang mabuk, dan berakhir dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sore pak." Pelayan butik menyapa anak pertama dari bos mereka. Nathan hanya mengaguk, tapi setelah melewati tiga karyawan wanita itu Nathan berbalik.
Sroott
Ketiganya menutup mata dengan menahan napas.
"Bau kalian bikin saya pusing." Ketusnya tanpa rasa bersalah langsung meninggalkan ketiganya, yang terkejut dengan ulah Nathan yang tiba-tiba menyemprotkan pengharum didepan mereka, meskipun tidak menganai wajah mereka tapi baunya begitu menyengat.
"Hah, kenapa pak Nathan semakin nyebelin sih." Ucap salah satu dari mereka yang baru saja menghirup napas banyak-banyak.
"Ihh, tapi makin ganteng dan macho tau." Lagi-lagi salah satu dari mereka menyahut dengan wajah yang mengagumi seorang Nathan.
"Ganteng sih ganteng, tapi sayangnya ngak mau sama kamu." Ketus satunya lagi, yang melihat rekanya selalu mengidolakan Nathan.
Tidak ada karyawan Indira yang tidak terpesona dengan wajah tegas dan rupawan Nathan, mereka semua mengagumi pria yang sekarang sudah beristri dan akan menjadi seorang ayah itu.
"Mah.." Nathan membuka pintu ruangannya Mamanya, dan dia melihat Mamanya yang sedang duduk di kursi kerja berkutat dengan desain.
Indira mendongak ketika mendengar suara Nathan dan tersenyum. "Kamu sudah pulang."
"Hm," Nathan mendekati Mamanya dan mencium kening lalu mencium punggung tangan Indira.
"Ck, apa dia seharian ini tidur terus." Ucap Nathan yang melihat Ami masih terlelap sofa.
"Bawaan bayi memang ada yang seperti itu, Aileen dulu juga." Jawab Indira yang menyandarkan punggungnya di kursi.
Nathan berjongkok didepan wajah Istrinya, mengelusnya dan mencium kening serta bagian wajah yang lain tanpa terlewat.
"Tapi dia tidurnya kebangetan mah." Keluh Nathan pada sang Mama. "Siang sudah tidur lama malam pun begitu juga." Nathan berucap dengan wajah masam. Dia duduk di karpet bawah, punggungnya bersadar dipinggiran sofa yang ditiduri Ami.
Indira tersenyum, melihat wajah Nathan yang ditekuk, dia mengingat suaminya yang dulu juga mengalami hal yang sama.
Allan juga merasa kesal dengan ngidam yang dia alami sewaktu mengandung Aileen.
"Hanya sebentar, setelah trimester pertama dia akan kembali seperti biasa." Indira mencoba untuk memberi Nathan pengertian. Dirinya tahu bagaimana seorang pria yang biasa suka menyentuh istrinya kapan saja, kini harus bisa mengendalikan napesunya hanya karena perkara ngidam, "Dan untuk kandungan Ami yang sekarang, Mama harap kamu bisa lebih menjaganya, dan satu hal dilarang berhubungan intim terlalu lama dan sering, karena bisa membahayakan janin kalian." Pesan indira lagi, semakin membuat Nathan lemas.
Pasalnya memang dirinya menahan gairah jika teringat ucapan dokter, yang tidak boleh terlalu sering atau lama dalam bercinta karena kandungan Ami masih rawan, dan Nathan yang tidak ingin terjadi sesuatu dengan bayinya, lebih baik menahan gairahnya.
"Besok Aileen akan tiba, katanya dia akan mengenalkan teman prianya." Ucap Indira pada Nathan yang memang belum tahu.
Aileen dibawah pantauan orang-orang Allan, bukan Nathan dan Nathan tidak tahu bagaimana pergaulan adiknya itu.
Nathan yang asik ngemil mendongak, "Besok malam kita makan malam keluarga, jangan lupa." Lanjut Indira yang hanya mendapat anggukan dari Nathan.
"Mama, sudah siapkan gaun untuk Ayana seperti yang kamu minta."
Nathan terseyum lebar, dia memang meminta Mamanya untuk menyiapkan gaun untuk Ami, lusa dia akan menghadiri undangan Hans, dan Nathan untuk pertama kali membawa Ami kepesta.
__ADS_1
.
.
.
"By, apa bunda juga datang?" Tanya Ami yang sudah-sudah duduk manis di dalam mobil.
Nathan memasang sealbeadnya setelah sang istri, keduanya akan berkunjung kerumah Mama Indira untuk makan malam keluarga.
"Sepetinya tidak, kenapa?" Tanya Nathan sebentar menoleh pada Istrinya, dan menghidupkan mesin mobil.
"Em, tidak." Jawab Ami dengan terseyum tipis.
Sebenarnya dia menginginkan sesuatu tapi dirinya mencoba untuk mengenyahkan keinginannya yang pasti akan membuat suaminya tidak percaya, dan mungkin bundanya juga.
Nathan yang bisa melihat jika Istrinya sedang menyembunyikannya sesuatu, bertanya. "Kenapa? kamu ingin mengunjungi bunda?" Tanya Nathan lagi yang melihat ekspresi Ami.
Ami yang sedang fokus melihat kedepan, kini menoleh pada suaminya. "Boleh aku menginap di sana?" Tanya Ami lagi dengan nada pelan.
Nathan terseyum, dirinya tahu jika sudah hampir dua minggu Ami tidak mengunjungi bundanya, setelah memberikan oleh-oleh.
"Setelah dari rumah Mama, kita kerumah bunda." Jawaban Nathan langsung membuat wajah Ami berbinar.
Cup
Terima kasih Byy." Ami mencium pipi Nathan, dan memeluk lengan kiri Nathan yang tidak memegang setir kemudi.
"Nanti, kita masih dijalan." Ucap Ami dengan senyum manis.
Nathan mengernyit dirinya tidak ingin kejadian bercinta sambil tidur terulang lagi.
"Jangan memberi harapan palsu sayang, dibawah sana tidak bisa di php-in." Ucap
Ami tertawa, dirinya selalu tertawa jika Nathan selalu membahas kejadian yang sangat menggelikan itu.
"Janji tidak akan." Ami menatap Nathan dengan senyum tipis. "Lagian aku juga merindukan ini." Tanyanya dengan sopan menyentuh singkong premium yang sedang tertidur.
"Sayang jangan menggodanya." Ucap Nathan dengan suara berat.
"Upss, sorry byy. Dia menggeliat." Ami memasang wajah tidak berdosa, dengan pura-pura menutup bibirnya terkejut.
"Kau memang harus diberi pelajaran." Bagaimana bisa singkong yang adem ayem terlalap kini menggeliat hanya dengan sentuhan tangan Ami dari balik kain celananya, sepertinya Nathan sudah terlalu lama berpuasa, dan singkong premium itu sudah merindukan rumahnya.
"Ai, apa kamu yakin teman kamu akan datang?" Tanya Allan yang duduk diruang keluarga, dia menunggu kedatangan putranya.
Sedangkan Indira menyiapkan hidangan yang tinggal sedikit.
Aileen yang baru turun dari tangga tersenyum, wanita memiliki wajah cantik dengan postur tubuh yang sangat ideal itu begitu cantik dengan dress yang dia pakai. Aileen mendekati sang Papa dan duduk di sampingnya.
Allan yang melihat tingkah putrinya merasa heran. "Katakan apa yang kamu inginkan?" Tanya Nathan yang sudah bisa menebak apa yang Aileen inginkan.
__ADS_1
"Hehe...papa bisa aja baca pikiran Ai." Aileen tersenyum manis. "Hanya satu Pah." Ucap Aileen dengan menatap Allan serius, begitupun juga Nathan.
"Papa dan Mama hanya perlu restui hubungan kami." Pinta Aileen dengan bersungguh-sungguh.
"Yakin kamu tidak akan bergonta-ganti pasangan lagi?" Tanya Allan meledek. "Lagi pula sepertinya stok incaranmu masih banyak." Ledek Allan seketika membuat Aileen melebarkan matanya.
"Pah, itu dulu." Aileen memasang wajah cemberut.
Allan hanya mengaguk. "Apa kamu sudah mengenal keluarganya?" Tanya Allan lagi.
"Belum." Aileen menggeleng dengan menunduk, dia takut jika keluarganya tidak menerima pria yang dekat dengannya, hanya kerena materi. Dan pria yang dekat dengannya, berkata jika bukan dari kalangan berada di Jakarta saja dia tinggal dengan sendiri meskipun ada tantenya.
Nathan dan Ami baru saja sampai saat papa dan anak itu bicara dan Allan tidak melanjutkan pertanyaannya, dia memilih mengobrol dengan Nathan.
Sedangkan para wanita memebantu perlengkapan dimeja makan.
"Cie..cie..yang mau ehem." Ledek Ami pada adik iparnya, tapi Ami lebih nyaman memanggilnya kakak.
"Apa sih dek." Ucap Aileen ketus, Aileen juga lebih nyaman memanggil Ami seperti itu. Meskipun seharusnya kakak tapi mereka memang memiliki terpaut usia yang jauh.
"Ngak papa, gitu aja udah bete." Ledek Ami lagi semakin membuat Aileen kesal dan juga malu.
Ting...tong..Ting..tong..
Bel rumah berbunyi, Aileen yang sudah bisa menebak siapa yang datang, langsung berlari kecil meninggalkan ruanga makan dengan senyum mengembang.
"Duhh yang lagi kasmaran." Ledek Ami dengan suara keras, Indira hanya geleng kepala terseyum melihat tingkah menantu dan anak gadisnya.
Allan dan Nathan masih duduk di ruang keluarga, mengobrol seputar bisnis yang Nathan garap.
"Hay.." Pria tampan dengan lesung pipi terseyum manis pada gadis yang menyambutnya didepan pintu. Aileen ikut terseyum manis melihat pria yang sudah berhasil mengambil hatinya menepati janji.
"Kau kira kamu ngak berani." Aileen meledek teman prianya yang malah terkekeh.
"Pantang untuk aku tidak bisa menepati janji, karena seorang abdi yang dipengang adalah ucapan dan janjinya."
Aileen mengangguk setuju. "Ayo, Papa sudah menunggu, kak Nathan juga ada disini." Ucap Aileen merangkul lengan pria itu dan membawanya ikut masuk.
"Pah kenalin.." Aileen berdiri dibelakang Nathan, sedangkan Allan berada didepan Nathan.
Nathan menoleh dan Allan ikut mendongak.
"Kamu..!!"
Nathan begitu terkejut melihat pria yang dikenalkan adiknya, sedangkan Allan biasa saja karena dirinya sudah tahu, hanya saja tetap diam.
"Malam Om, Kak."
.
.
__ADS_1
Mampir di "AMEER UNTUK GWEN" yaa sayang 😘😘😘