
Mendapat kejutan meskipun sederhana tentu saja membuat Hawa senang, apalagi keluarganya berkumpul di tambah ada pria yang akan menjadi anggota keluarga baru.
Hawa sejak tadi tidak lepas dari bibirnya yang tersenyum, apalagi melihat keluarganya juga ikut bahagia.
"Niel, apa kamu yakin ingin menggeluti dunia olah raga?" Tanya Nathan pada putra bungsunya.
Daniel baru saja pulang dari kegiatan dijam luar sekolah. Pria yang masih duduk di bangku akhir sekolah dasar itu sudah menggeluti olah raga sepak bola, dan Daniel sudah pernah mengikuti lomba antar kota, kini Daniel ingin ikut kompetisi yang akan menggaet namanya masuk di tingkat nasional.
"Memangnya kenapa Pah?" Tanya Daniel balik sambil fokus menatap layar datar didepan sana dengan sebuah stic PS ditanganya.
Daniel sedang bermain PS dengan Mario, sedangkan Hawa duduk tepat dibelakang punggung Mario. Hawa duduk disofa, sendang kan Mario duduk dibawah beralaskan karpet bulu.
Nathan mendengus, jika sudah sibuk main PS putranya itu tidak mau bicara menatapnya.
"Kamu tidak kasihan dengan kakak mu Adam, dia akan mengelola perusahaan papa sendiri." Ucap Nathan sambil melirik Adam yang sibuk dengan gadget.
Daniel melirik Adam sekilas, dan kembali fokus kedepan layar.
"Kenapa harus kasihan, kak Adam masih muda tapi tidak kasihan dengan papa yang sudah tua masih bekerja."
Skak
Nathan mendelik mendengar ucapan Daniel yang asal mangap, Ami dan Hawa menahan tawa.
"Ya,yaa.. ayoo tendang..Gooll!!!" Daniel berteriak kegirangan karena dirinya berhasil mencetak gol.
__ADS_1
Mario hanya geleng kepala, dan tangan Hawa dengan sadar mengusap pipi Mario.
Tidak ada yang memerhatikan perhatian kecil ataupun keuwuan keduanya saat ini.
Mario menyentuh tangan Hawa dan mengecupnya sekilas, Hawa tentu saja terseyum mendapat perlakuan hangat dari Mario.
"Yes..yes..!!" Daniel begitu girang karena menang." Jangan lupa transfer ke rekening atas nama Nathan Adhitama kak." Ucap Daniel dengan wajah berbinar senang.
"Loh, memangnya kalian taruhan?" Tanya Ami yang mendengar ucapan Daniel.
Mario tersenyum. "Beres, tidak akan kurang sedikitpun." Balas Mario.
"Om, kenapa pake taruhan? jelas-jelas pasti sikuda Nil yang menang." Tutur Hawa.
"Tidak apa, anggap saja hadiah karena katanya kemarin Daniel menang mewakili antar kota."
"Anak kamu by, Udah pinter main taruhan." Ucap Ami pada Nathan.
Nathan hanya tersenyum. "Pintar, minta aja yang banyak sama gorio-rio."
Ami yang mendengar ucapan Nathan malah kesal. "Masih aja cemburu." Ucap Ami meledek.
"Ngak ada yang cemburu, tapi mereka aja yang alay." Elak Nathan.
"Heleh pakai ngeles kaya bajaj."
__ADS_1
.
.
.
Kediaman Julio cukup ramai karena kedatangan kerabat dan keluarga, hari ini Mike akan menikahinya Livia.
Mike berusaha menerima takdir hidupnya yang memang harus bersama Livia, karena wanita itu sedang hamil anaknya darah dagingnya.
Keluarga Nathan juga hadir, hanya saja Adam yang tidak ada karena pria remaja itu sibuk dengan pekerjaan yang di geluti.
Ruangan tengah disulap demikian rupa untuk mengucap janji suci. Mario juga hadir dengan menggandeng pinggang Hawa posesif.
"Kamu cantik sayang." Puji Mario yang berbisik, karena acara sudah dimulai.
Hawa hanya tersenyum. "Bukanya tiap hari aku juga cantik." Jawab Hawa dengan percaya diri.
Mario terseyum. "Kamu memang cantik setiap hari, dan sekarang kamu semakin bertambah cantik."
"Gombal." Hawa tersipu malu.
Mario memang bisa membuat Hawa malu dan salting secara bersamaan.
.
__ADS_1
.
Slow update sayang 💋