
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam lewat, suara mobil terdengar dari dalam rumah membuat Indira yakin jika itu adalah putranya.
"Pasti itu Nathan," Ucap Indira pada Raya yang duduk di ruang tv, sengaja untuk menunggu kedatangan Nathan, karena hanya Nathan yang belum terlihat, sedangkan Allan sudah duduk bersama istri dan juga bundanya Ami.
"Mah, Pah." Nathan masuk dan yang dia lihat lebih dulu adalah kedua orang tuannya, dan semakin masuk bunda Raya baru terlihat.
"Apakah pekerjaan mu lebih penting dari pada keluargamu.?" Tanya Indira dengan wajah jutek, membuat Nathan menggaruk kepalanya.
"Maaf mah, Nathan banyak pekerjaan." Ucapnya dengan jujur, karena setengah hari lebih waktunya Ia habiskan hanya untuk mencari Ami, istri diatas kertasnya.
"Bunda." Nathan menyalami bunda Raya, matanya melirik kesekitar tapi tidak ada gadis yang sudah membuatnya kesal hari ini.
Apa mungkin Ami belum pulang? atau sengaja gadis itu ingin membuatnya terkena Omelan Mamanya.
"Malam nak." Bunda Raya tersenyum.
"Mah aku lapar." Ucap Nathan tanpa rasa malu, meskipun ada ibu mertuanya.
"Kamu, baru sampai tapi sudah minta makan." Indira menatap Nathan tidak percaya.
Nathan hanya tersenyum lebar. "Hanya masakan mama yang aku rindukan." Nathan mengecup pipi Indira sekilas.
Plak
__ADS_1
"Dasar anak kurang ajar, dia milik papa, cium sendiri punyamu." Allan menatap tajam Nathan yang hanya cengengesan, Raya yang melihat kejadian barusan hanya tersenyum canggung.
"Ayo mbak, kita makan biarkan mereka nanti menyusul." Indira mengajak Raya untuk beranjak dari duduknya, sedangkan kedua pria labil itu masih saling menatap tajam.
"Nat, mana istrimu?" Tanya Allan, yang memang belum melihat menantu dan putrinya.
Nathan pun menjadi bingung untuk menjawab apa, sedangkan disana ada bunda Raya yang dia pikir tidak ada dalam makam malam ini.
"Em, Dia sedang ada_"
"Wajah rupanya kalian sengaja meninggalkan kita." Aileen menuruni tangga, dengan menggandeng seorang gadis yang lebih cantik dari sebelum dia datang.
"Aku kira kakak tidak akan datang, dan lebih memilih untuk bermalam bersama berkas dan kertas.di kantor." Ucap Aileen yang berdiri di samping Nathan, merangkul pundaknya.
"Ck, awas aja. Jangan harap lu dapetin hati kakak ipar rasa adik bagi gue." Aileen menatap Nathan sinis, dan Nathan menatap Aileen penuh tanda Tanya.
"Cih, lupa lu kalau punya bini." Aileen melirik Ami yang berdiri dibelakang tubuh Nathan, gadis itu diam saja tanpa suara.
Nathan menoleh ke belakang dimana dirinya melihat Ami berdiri dengan baju rajut berwarna putih dan rambut yang diikat namun menyisakan helaian rambut membuat wajah Ami begitu manis. Mata Nathan tidak berkedip melihat penampilan Ami yang baru untuknya.
"Bagaimana mah, bunda cantikkan kakak ipar rasa adik." Aileen memainkan alisnya naik turun menatap kedua wanita paruh baya yang sejak tadi menahan senyum. "Em, sangat cantik sayang, sampai membuat kakak kamu tak berkedip." Ucap Indira dengan terkekeh. Sadar jika putranya tidak berkedip melihat Istrinya.
Tadi ketika Ami memasak tak sengaja bajunya terkena noda sambal, dan Aileen menyuruh kakak iparnya untuk mengganti baju miliknya. Karena Aileen seorang model jadi tidak susah baginya untuk membuat wajah cantik Ami menjadi lebih cantik.
__ADS_1
Ehem
Ami yang berdehem, membuat Nathan sadar dirinya tidak merasa malu ditatap lama oleh Nathan, tapi dirinya malu mendengar ledekan ketiga wanita, apalagi papa mertuanya yang juga ikut tersenyum.
Nathan mengusap yang sadar langsung kembali memalingkan wajahnya, sungguh dirinya merasa bodoh harus terpesona dengan gadis kecil seperti istrinya.
"Ayo nak, duduk kita makan malam." Indira tersenyum, Ami berjalan mendekati bundanya tapi suara Aileen membuatnya berhenti.
"Apa sekarang kakak ku yang tampan itu membuatmu risih karena tatapannya." Aileen bicara sambil menahan tawa, tapi wajahnya dibuat seserius mungkin, melihat kakaknya yang jutek dan ketus mulai menunjukkan ketertarikannya pada gadis kecil sayangnya sudah menjadi isterinya.
Ami menghela napas, dirinya berbalik dan menarik kursi di samping Nathan duduk, dan sama sekali tidak melirik pria yang sejak tadi meliriknya terus.
"Duh, kalian ini kaya baru ketemu aja sih, masa kaku dan dingin seperti itu, kalau begitu kapan mama akan mendapatkan cucu."
Uhuk..uhuk..
Nathan yang sedang memakan buah pun tersedak, reflek Ami langsung memberikan air putih yang berada didekatnya dan meminumkan pada Nathan dengan tangannya sendiri, tak sengaja tangan Nathan juga menyentuh tangan Ami. "Hati-hati Om." Ucap Ami pelan namun cukup di dengar oleh orang-orang yang duduk disana, mereka semua menahan tawa karena membuat Nathan seperti pria bodoh.
Ehem
Ami yang sadar langsung melepaskan tangannya, dari gelas itu, beruntung Nathan masih memeganginya dan tidak terjatuh.
"Sudah kalian itu baru di katai, malah sudah menunjukan keromantisan kalian." Bukan Indira yang bicara, tapi Allan yang sejak tadi hanya melihat bagaimana istri dan anaknya kompak mengerjai Nathan.
__ADS_1
'Kenapa jantung gue, jadi begini.' Gumam Nathan sambil melirik Ami yang tersenyum pada kedua mamanya, sungguh Nathan akui jika gadis kecil disampingnya begitu cantik.