
Pernikahan tanpa dasar cinta dan komitmen tidak akan menjadi pernikahan yang bisa di katakan bahagia. Apalagi pernikahan yang tidak diinginkan hanya akan menambah luka.
Cinta, kepercayaan saja tidak cukup untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis. Rumah tangga yang di dasari cinta dan kesetiaan saja tidak menjamin akan menjadi pernikahan yang bahagia.
Rumah tangga yang harmonis dan hangat juga membutuhkan proses yang bisa di bilang tidak mudah, ada kalanya kita difase yang tidak mudah untuk dilewati, pertengkaran kecil menjadi besar, kurang komunikasi, masalah ekonomi keluarga. Dan masih banyak faktor yang bisa menyebabkan fase lelah dan menyerah itu datang.
Rumah tangga akan harmonis jika kita memiliki Komitmen dan kepercayaan antara satu sama lain. Rasa cinta yang besar saja tidak akan cukup untuk bisa membangun rumah tangga yang bahagia, dan semua itu tidak mudah untuk dilewati.
Percayalah Tuhan tidak akan menguji hamba-nya melebihi kemampuan umat-nya.
Nathan masuk ke kamar miliknya yang berada di lantai dua. Setelah mencari Ami di semua ruangan lantai bawah tidak ada, Nathan pikir Ami berada di dalam kamar milikinya.
Sungguh Nathan merasa hatinya tidak baik-baik saja, setelah mereka bertengkar. Ingin rasanya Nathan memeluk gadis itu erat dan mengucapkan sesuatu yang mungkin sudah dia rasakan sejak pertama bertemu gadis itu.
Ceklek
Nathan memasuki kamar miliknya, langkah kakinya menyusuri kamar yang cukup luas, ke balkon kamar Ami tidak ada, Nathan membuka kamar mandi namun kosong bahkan seperti tidak ada orang yang masuk.
"Ay, kamu di mana." Nathan memanggil Ami, mungkin saja gadis itu bersembunyi agar tidak bisa dia temukan. Namun setelah mencari Nathan tidak menemukan Istrinya.
Keluar kamar, untuk bertanya pada orang-orang yang masih berada di bawah.
"Kak, sepertinya ini milik istrimu." Aileen mengulurkan ponsel Ami pada Nathan. "Tadi Mama yang kasih, sepertinya tertinggal di kamar Mama." Jelas Aileen berlalu pergi.
Nathan menatap benda pipih di tangannya, jika seperti ini maka dia tidak bisa melacak keberadaan gadis itu. Ketika membalikkan ponsel Mata Nathan memincing melihat benda di belakang casing ponsel Ami yang sedikit transparan.
Kartu debit yang Nathan kasih, berada di belakang ponsel Ami. Ami memang sengaja menyimpan beda itu di belakang ponselnya yang memakai sofecase. Entahlah kenapa bisa kebetulan seperti ini, ketika dia pergi dan meninggalkan barang yang Nathan kasih.
__ADS_1
"Ai, tunggu dulu." Nathan memanggil adik nya, yang sudah sedikit menjauh darinya.
"Apa kamu melihat Ayana." Tanya Nathan dengan penuh harap.
Aileen hanya mengangkat kedua bahunya, "Tadi sepetinya dia pergi keluar rumah, katanya ada yang mau dia beli." Jawab Aileen yang sempat mendengar Ami meminta ijin pada Mamanya. Setelah itu Aileen pun pergi.
"Sial..!!" Nathan mengumpat dan segera lari keluar, tidak mungkin gadis itu pergi, Karena Nathan yakin jika Ami tidak tahu jalan sekitar sini, tidak ada taksi yang melintas ataupun kendaraan umum, dan Nathan yakin gadis itu berbohong.
Mengendarai mobilnya, Nathan menatap kesekeliling jalan, hari sudah malam dan gadis itu pergi dengan keadaan marah.
"Sial..!!"
Bugh
Nathan melampiaskan kebodohannya dengan memukul setir kemudi, pria itu seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya.
.
.
Mengehela napas, Ami memasuki minimarket hanya untuk membeli minum, untung saja dirinya membawa uang di kantong celananya, dan mungkin setelah ini dia akan pergi kerumah Olive.
Ami duduk di didepan minimarket, Sepenggal alunan lagu yang di putar di minimarket itu membuatnya meneteskan air mata, seperti sedang menggambarkan perasaanya yang terluka saat ini.
Bibirnya tersenyum, senyum miris untuk hatinya yang merasakan sakit.
"Lepaskan jika memang menyakiti." Gumamnya dengan wajah sendu, mengusap air matanya.
__ADS_1
Ami kembali berjalan untuk mencari ojek, dirinya tidak ingin pulang ke apartemen ataupun rumah bundanya, Ami hanya ingin menjauh sebentar dari mereka. Dan Ami akan datang kerumah Olive.
"Ojek pak," Ami melambaikan tangannya ketika melihat pengendara motor dengan memakai jaket ojol.
"Neng ada apa?"
"Tolong antarkan saya pak, saya tidak ada ponsel untuk pesan lewat aplikasi." Ucap Ami dengan wajah memelas, hari yang semakin malam membuatnya sedikit takut apalagi awan hitam sudah mulai nampak, dan pasti sebentar lagi akan turun hujan.
Bapak itu nampak menimang, namun beliau bersedia karena sudah malam dan merasa kasihan.
Setelah Ami menaiki ojek dan pergi, tak lama mobil mewah Nathan memasuki area parkir minimarket, seperti yang di katakan Aileen Nathan mencari Ami di supermarket terdekat, meskipun tidak yakin tapi Nathan masih mencobanya.
Keluar Nathan mengusap rambutnya kasar, setelah mencari di dalam Ami tidak nampak terlihat, entah kemana gadis itu pergi, dan hanya ini minimarket yang paling dekat dari perumahan elit milik keluarganya.
Kembali masuk ke dalam mobil Nathan merasakan dadanya yang sesak, otaknya selalu terbayang wajah Ami yang kecewa dan menangis, bahkan ucapan kata cerai selalu terngiang-ngiang dikepala Nathan.
Tangannya terulur utuk menghidupkan musik, hatinya sedang tidak baik-baik saja, perasaanya kacau.
Bukanya perasaannya membaik dan malah sebaliknya, musik yang dia putar seakan menertawainya.
Tangannya kembali terulur untuk memastikan saluran musik itu. Nathan kembali melajukan mobilnya menuju apartemen dan berharap Ami sudah kembali ke sana.
Dia seperti kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupnya.
.
.
__ADS_1
Udah up dari pagi, tapi gak kelar-kelar ini ðŸ˜