My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Insiden


__ADS_3

Ami melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia melirik kaca spion untuk memastikan mobil Nathan tidak mengikutinya.


"Istri? jadi dia pergi untuk mencari istri." Ucap Ami dengan tertawa pilu. Bodoh dirinya merasa bodoh karena selama dua Minggu selalu menunggu kabar dari pria itu, tapi ternyata yang di tunggu seperti kucing yang sedang kawin, tapi memang kawin.


Tin...tin...tin..!!


Bunyi klakson mobil bertubi-tubi hanya membuat Ami menambah kecepatan laju motornya, gadis itu tidak takut dengan kecepatan tinggi motornya, hanya saja Ami takut jika polisi tiba-tiba menghadangnya karena dirinya tidak memiliki SIM dan KTP asli saja belum jadi.


Prittt


Ami membelalakkan matanya, belum batinya berganti topik membatin yang lain, kini didepan matanya benar-benar seorang polisi yang melambaikan tangannya untuk memintanya berhenti.


"Kyaaa, awass pak..!!"


Ami berteriak, dengan masih menarik tuas gasnya, gadis itu tidak mau berhenti, membuat tangan pak polisi yang melambai menyerempet helm yang dia pakai.


Plak


Wusss


"OOO, dasar bocah tidak punya etika." Polisi itu segera menaiki kendaraan miliknya berniat untuk mengejar Ami.


Baru akan jalan, motornya kembali oleng, ketika sebuah mobil melaju cepat membuatnya oleng dan tidak seimbang.


"Weee, mobil edan malah ikut kebut-kebutan."


"Wes ayo kita adu ketampanan, eh salah. Kecepatan."


Brumm


Wiuu..


Bunyi sirine khas polisi mendengung sepanjang jalan, mengejar pengendara motor dan mobil yang kebut-kebutan.


"Sayang, pelankan laju motornya itu berbahaya." Nathan berteriak dengan semakin menambah kecepatan, dirinya takut jika Ami tidak bisa mengontrol laju motornya, dan mengalami kecelakaan.


"Nathan sialan, awas aja aku buat perkedel sudah berani main kawin dengan wanita lain." Ami mendumel, kepalanya menoleh kebelakang tanpa sadar dirinya tidak bisa fokus dan_


"Aaaaaaa, minggir woy...!!" Laju motor Ami tidak bisa dihentikan, gadis itu melaju dengan melepas gas di tangannya.


Brak


Brak


Prang


"Auwss, pantat gue."

__ADS_1


"Ya Alloh gusti daganganku." Penjual Kakek itu menagisi denganya yang tergelempang hingga berantakan tak tersisa.


"Ay..!!" Nathan terkejut dan langsung menghentikan mobilnya sembarang arah.


"Sayang.." Nathan berlari dan menghampiri Ami yang terduduk di atas motor yang ambruk, gadis itu meringis menyentuh bok*Ongnya yang terasa ngilu.


"Kamu tidak apa-apa, mana yang sakit." Nathan langsung menggendong tubuh Ami untuk menyingkir dari atas motor.


Ami tidak menjawab, gadis itu hanya meringis tanpa mau melihat wajah Nathan.


Wiuuu...


Ami menatap sendu pria berseragam itu yang baru saja turun dari atas motor besarnya.


"Duh, gue panjang nih urusanya dengan pak perut buncit." Gerutu Ami yang masih didengar oleh Nathan.


"Sayang, mana yang sakit." Nathan bertanya lagi, merasa Ami mengabaikan kehadirannya.


"Siang tuan dan mbak Rosita." Ucap pak polisi itu dengan menatap Ami tajam.


"Bukan Rosita pak, sejak kapan nama saya ganti." Ami mencoba berdiri, dia menepis tangan Nathan yang ingin membantunya.


"Ay.." Nathan menatap sendu wanita yang sangat dia rindukan, wanita yang sekarang berada didepannya tapi tidak melihat keberadaanya.


"Lah, saya kira Rossi versi Rosita, yang bisa main gas tanpa hambatan." Ucap pak polisi dengan wajah anehnya, apalagi jarinya aktif memelintir kumis tebalnya.


Ami meringis, menampilkan giginya. "Bapak keturunan pak Raden ya?"


"Sayang duduklah, biar aku yang urus." Ucap Nathan pada Ami, tapi Ami tidak menggubris.


Ami menoleh kebelakang, dirinya melihat bapak penjual asongan tadi yang dia serempet.


Lah tak kira jualan bakso, ternayata?


Ami berjalan dengan memegangi pinggulnya, kakinya terasa sakit.


"Sayang kamu mau kemana?" Nathan ingin mengejar Ami tapi polisi itu menahanya.


"Ehh anda, mau kemana sini."


Nathan berbalik menuju mobilnya, mengambil surat-surat yang dibutuhkan, lebih baik dia mengurus polisi itu lebih dulu.


"Pak, ini kartu nama, SIM, STNK dan ini surat-surat motor itu, lebih baik anda pergi, nanti biar kami yang akan mendatangi anda."


Polisi itu malah melongo, bagaimana bisa surat motor ada dipria yang naik mobil tadi.


"Bapaknya kali ya.."

__ADS_1


"Bapak tidak apa-apa." Ami membantu membereskan denganya bapak tua itu yang berhamburan. Dia merasa begitu bersalah, hanya karena ingin kabur dia sampai membahayakan orang lain.


"Maaf pak, saya tidak sengaja dan saya salah." Tiba-tiba air matanya kembali menetes, entah karena merasa bersalah atau karena kenyataan yang dia baru saja dapatkan, Ami kembali menagis.


"Loh, neng kok malah nangis. Bapak tidak apa-apa." bapak tua itu merasa terkejut dan juga takut tiba-tiba gadis didepanya menangis terisak.


"Huaaaa, aku mau tukar tambah suami pak, Ami mau cari suami yang setia." Ami menangis kencang. "Kenapa dia yang malah tambah istri, seharusnya aku saja yang tambah suami."


Ami masih menagis, membuat bapak tua itu semakin bingung.


"Neng, jangan_"


"Maaf pak, dia istri saya." Nathan melirik bapak tua itu tajam, merasa jika beliau sinyal bahaya.


Ami mengusap air matanya, dia mengeluarkan uang kes yang ada di dompetnya.


"Ini uang ganti rugi untuk bapak, anggap saja sedang membuang kesialan hidup saya." Ami menyerahkan pecahan uang berwarna merah pada bapak tua itu.


"Ay, jaga kata-katamu." Nathan memperingatkan, tapi hasilnya sama, Ami tidak menggubrisnya.


Setelah berucap terima kasih, bapak tua itu pergi dan Ami mencoba berdiri.


"Auwss."


"Hati-hati sayang."


Plak


Kepala Nathan menoleh kesamping, matanya terpejam merasakan tangan yang terbiasa mengelus pipinya, kini memberikan tamparan.


Ami berlalu, tapi tubuhnya terhuyung kebelakang ketika dua tangan kokoh memeluk tubuhnya dari belakang sangat erat.


"Maaf kan aku sayang, maaf." Nathan berkata lirih ditelinga Ami, punggung pria itu bergetar.


Ami diam tanpa kata, matanya menatap lurus kedepan lagi-lagi air matanya tidak bisa berhenti.


"Percayalah, aku tidak akan mengkhianati cinta kita, aku mencintaimu sungguh." Bibir Nathan bergetar di belakang kepala Ami, pria itu menunduk dibelakang kepala Ami. "Ini bukan kemauanku sayang, bukan." kepala Nathan menggeleng. Air matanya turun hingga membuat bagian punggung atas Ami basah, karena rambutnya yang diikat keatas Ami bisa merasakan belakang lehernya basah.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa sayang, dia menyelamatkan aku_"


"Pergilah."


Ami menyentak tangan Nathan yang memeluknya, hingga terlepas karena Nathan lengah.


"Sayang_" Nathan ingin meraih tubuh itu lagi tapi Ami lebih dulu menaikan tanganya agar Nathan diam.


"Kamu tahu," Ami menatap Nathan penuh dengan kecewa dan luka hati. "Aku bisa menerima jika kamu pria brengsekk, tapi aku tidak menerima pria yang berani menduakan bahkan menikah dengan wanita lain dibelkanagaku, aku tidak bisa." Ami menggeleng.

__ADS_1


"Karena aku_"


Prittt..!!!


__ADS_2