
"Den..Aden..!!" Penjual makanan itu memanggil Nathan dengan keras, bersamaan dengan tangannya yang menggoyangkan bahu Nathan.
"Ya tuhan," Nathan mengusap wajahnya kasar, kantungnya kian cepat berpacu.
"Aden melamun, mau magrib jangan melamun gak baik." Ucap bapak penjual itu lagi.
Nathan kembali menoleh ke arah mobilnya yang masih berada diseberang jalan, lalu menatap bapak penjual itu. "Maaf pak, saya_"
"Tidak baik melamun, saat menjelang magrib. Ini pesanannya sudah jadi." Bapak itu memberikan kantung keresek pesanan Nathan.
Nathan menerimanya dan membayarnya. "Kembalinya untuk bapak." Nathan tersenyum, lalu beranjak pergi.
Perasaan gelisah yang hadir kini menjadi lega, entah mengapa dirinya seperti mimpi buruk.
Blam
"Hubby beli apa?" Ami menatap kresek yang Nathan bawa.
"Kamu sudah bangun." Nathan menciumi seluruh wajah Ami, bahkan sampai berulang kali.
"Byy, kamu kenapa?" Rengek Ami sedikit kesal karena Nathan menciumi seluruh wajahnya.
"Tidak." Nathan menatap wajah Ami dengan mata berkaca-kaca, ingatannya kembali ke lamunan buruknya tadi.
"Kenapa?" Ami yang melihat ekspresi Nathan menjadi bingung.
"Tidak." Nathan langsung memeluk tubuh istri kecilnya erat, menciumi pucuk kepalanya dengan sayang. "Jangan tinggalin aku." Ucapnya lirih.
Ami yang mendegar ucapan Nathan tertegun, tangannya mengusap punggung Nathan.
Nathan melonggarkan pelukannya menatap kembali wajah sang istri. Bibirnya menyunggingkan senyum, dan kembali mencium Ami tapi kali ini dibibir.
.
.
.
Nathan sejak tadi duduk di pinggiran ranjang untuk menunggu Istrinya yang berada di dalam kamar mandi.
Ami sudah hampir satu jam didalam tapi tidak kunjung selesai.
__ADS_1
"Sayang, kenapa lama sekali?" Nathan berulang kali mengetuk pintu, dia cemas jika terjadi sesuatu karena Ami mengunci pintunya.
Ceklek
Membuka pintu Ami menpilkan wajah cemberut didepan Nathan.
"Ini gara-gara kamu By, milikku begitu perih." Kesal Ami, dirinya susah berjalan karena di bawah sana terasa sakit dan perih. "Berendam air hangat bisa mengurangi rasa sakitnya, tapi sekarang sakit lagi." Keluh Ami dengan wajah sedikit meringis, ketika melangkahkan kakinya.
Nathan pun langsung menggendong tubuh kecil Istrinya. "Maaf, sudah membuatmu seperti ini. Kamu bisa meminta bantuanku jika kesulitan." Ucap Nathan dengan senyum.
Meskipun merasa bersalah, Nathan juga merasa bangga karena bisa mendapatkan Ami seutuhnya, meskipun tidak harus menunggu satu semester.
Ami yang cemberut, menarik bibirnya untuk tersenyum.
Suaminya sekarang sudah berbeda, tidak seperti pertama mereka bertemu.
"Kenapa hubby, melakukan ini?" Ami duduk di atas ranjang, dan Nathan didepanya sisi ranjang.
"Melakukan apa?" Nathan tidak mengerti.
"Sikap hubby, sekarang lebih manis tidak seperti_"
Ami mengembangkan senyum, membuat Nathan ikut tersenyum.
"Apa ini masih sakit." Tangan Nathan bergerak menyentuh milik Ami.
"By, ish jangan mulai." Kesal Ami menepis tangan suaminya.
"Ck, hanya bertanya, apa salahnya?" Nathan berdecak dengan senyum.
"Salahnya nanti kamu om*es." Ami mendelik.
Nathan tertawa. "Aku ambilkan makan, tunggulah disini." Nathan mencium kening Ami dan pergi keluar kamar untuk mengambil makanan yang sudah dia beli tadi.
"Kenapa dia begitu manis." Ami tersipu, gemas menggigit guling untuk meluapkan apa yang dia rasakan.
Semua orang memang berhak berubah, tak terkecuali. Karena berubah menjadi lebih baik itu harus.
.
.
__ADS_1
"Apa masih sakit?" Tanya Nathan, dengan khawatir.
"Em, sedikit." Ami duduk dikursi meja makan.
Pagi ini tidak ada sarapan, hanya ada coklat hangat dan roti panggang yang Nathan siapakan.
"Aku hanya buat ini, maaf." Nathan memberikan roti yang sudah dia buat.
Ami tersenyum, akhir-akhir ini suaminya juga sering mengatakan kata 'maaf'.
"By, bagaimana kalau aku hamil?" Tanya Ami dengan wajah cemas. Dirinya ingat jika Nathan membuang kecebong singkongnya di dalam rahimnya dan pasti kemungkinan hamil itu ada.
"Apa kamu belum siap memiliki anak." Nathan menatap wajah Ami.
Ami langsung menunduk mendapat pertanyaan seperti itu.
Nathan menyentuh tangan Ami dan menggenggamnya. "Aku tidak akan memaksa jika kamu belum siap, tapi jika kamu hamil kamu masih bisa melanjutkan sekolah dengan home schooling. dan setelah melahirkan kamu bisa kembali meraih mimpimu." Ucap Nathan dengan lembut, dirinya tahu jika istri kecilnya merasa takut dan juga menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan.
Tapi sebagai suami Istri itu adalah hal wajar.
"Apa kita tidak bisa menundanya, misalnya pakai KB." Ucap Ami setelah lama terdiam.
Nathan membuang napas kasar. Tidak ingin memaksa tapi dirinya juga tidak ingin menundanya dengan bantuan KB. Hal itu bukan solusi terbaik untuk Ami yang masih remaja apalagi mereka baru menikah.
Nathan tidak menjawab, melainkan melanjutkan makanya, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan perasaannya.
Ami yang melihat reaksi suaminya dan hanya diam saja, hanya bisa menunduk dengan sedih.
Bukanya tidak ingin memiliki anak, tapi dirinya belum cukup yakin jika harus memiliki bayi di usia muda dan masih sekolah, Ami takut tidak bisa menjaga anaknya.
.
.
Maaf Yee, kemaren Otor hilap..🤧
Kalian kalau otor bikin sad, pada nonggol semua deh heran😩
DI SENYUMIN AJA MAZEHH🤣
__ADS_1