
Nathan yang mendengar suara deheman menjadi sadar dan malu, dirinya lupa jika ada orang tua didepan mereka.
"Bun, lihat tu si Om mes_" Ami tidak melanjutkan ucapanya takut jika Nathan kembali memeyrangnya.
Nathan mendelik, agar Ami tidak kembali melanjutkan ucapanya. Cukup baru saja diirinya mempermalukan dirinya sendiri, tidak di tambah dengan ucapan gadis itu yang bisa saja semakin membuatnya kehilangan muka didepan mertuanya.
Bunda Raya hanya geleng kepala, sepetinya pernikahan mereka ada kemajuan.
'Semoga kamu selalu bahagia nak.' Doa bunda Raya dalam hati.
Setelah berkunjung kerumah bundanya, Ami kembali pulang ke apartemen bersama Nathan, gadis itu sebenarnya masih ingin tinggal di rumahnya, dan menginap di sana, dia rindu kamarnya.
"Kenapa sedih begitu." Nathan memeluk Istrinya dari belakang, ketika dirinya selesai mandi dan melihat Ami yang sedang berdiri di balkon kamar.
Nathan melihat wajah gadis itu yang muram, dengan sengaja Nathan semakin mengeratkan pelukannya dan mencium pipi lalu turun ke pundak Ami yang terbalut baju tidur.
"O_ Mass pakai baju dulu gih." Karena tidak ingin mendapatkan hukuman, Ami meralat panggilannya.
Nathan hanya tersenyum, dirinya memang senagaja menggoda Ami agar gadis itu kesal. Dan terbukti Ami membalikkan tubuhnya dengan wajah kesal.
"Ini kenapa? mau pamer Ama mau masuk angin? apa baju dilemari sudah habis." Cerocos Ami membuat Nathan diam menatap wajahnya. "Kalau masuk angin aku tidak mau disuruh pijitin lagi." Kesalnya karena tidak mendapat respon dari pria didepanya yang sengaja bertelanjang dada.
Ami mendorong dada Nathan karena kesal, tapi Nathan malah menarik pinggangnya membuatnya mencium dada bidang Nathan yang harum dan segar setelah mandi.
"Apa salahnya, hanya ingin peluk, lagian ini halal untuk kamu nikmati." Nathan menyeringai setiap kali melihat wajah Ami yang merona, dia suka warna alami wajah gadis itu.
__ADS_1
"Nyebelin, kenapa aku punya suami mesum kaya kamu sih, perasaan aku mintanya suami seperti Rafael Miller." Kesal Ami memukul dada Nathan pelan.
Nathan menaikkan alisnya, mendegar nama pria disebut. "Siapa dia, apa bagusnya." Nathan menatap tajam kedua bola mata coklat yang berkedip pelan.
"Ck, bukan siapa-siapa, hanya saja sepertinya aku banyak menghalu."
Nathan yang tidak mudah percaya, menatap kedua mata Ami mencari kejujuran disana.
"Jangan melihat aku seperti itu, aku bukan buronan."
Nathan tersenyum. "Jangan menyebut pria lain menggunakan ini." Jarinya menyentuh bibir Ami lalu mendekatkan pada bibirnya.
Seperti sudah kecanduan Nathan semakin suka membuat bibir Ami bengkak, rasa manis yang selalu dia rasa semakin membuatnya tak puas.
"Tidak usah melihatku seperti itu." Nathan tersenyum, dia tahu jika gadisnya akan protes. "Lebih baik masuk, udara malam tidak baik untuk anak kecil sepertimu." Nathan meninggalkan Ami yang membukakan bibirnya, kesal dan dongkol tentu saja.
"Awas ya om mesum kuadrat." Ami mengepalkan kedua tangannya geram.
Keluar dari kamar Nathan Ami sengaja masuk ke kamar miliknya sebelumnya, gadis itu mengunci pintunya dari dalam.
"Syukurin emang enak gak dikelonin." Gumam Ami dengan tersenyum senang, malam ini sepertinya dia akan tidur cepat, dan akan mengunjungi rumah kumuh bersama Olive besok pagi.
Satu jam gadis itu masih bermain dengan ponselnya membuka sosial media, mengetik nama Aldrick Nathan Adhitama di laman Internet. Dan munculnya wajah tampan suaminya dengan berbagai prestasi dalam bisnis. Ami nampak kagum melihat wajah tampan dan wibawa suaminya memenuhi laman Internet tentang bisnis.
"Ck, ternyata gue Istri seorang pembisnis nomor satu di Asia." Gumam Ami dengan wajah yang takjub. Mencari berita-berita lain tentang hubungan asmara suaminya tapi hasilnya nihil.
__ADS_1
"Dih, beritanya ngaco, masa Ia Om mesum belum pernah memiliki kekasih." Gumam Ami yang membaca sederet akun lambe lumrah di Internet. Tidak ada foto satupun tentang Nathan yang menggandeng wanita.
Setelah lelah tanpa sadar Ami tertidur dengan ponsel yang masih menyala, menampilkan laman Internet tentang suaminya.
Di ruang kerja, Nathan sengaja membiarkan gadis itu pergi dari kamarnya, Nathan yang masih menyelesaikan pekerjaannya berniat akan menyusul nanti setelah gadisnya terlelap.
Pukul sebelas malam Nathan menutup layar laptopnya, dan merenggangkan otot yang lumayan kaku setelah dua jam duduk dengan pekerjaan.
Berjalan keluar, Nathan membuka laci yang ada disamping pintu kamarnya, disana terdapat kunci cadangan yang pasti akan di perlukan.
Mendorong handel pintu, ternyata benar dikunci dari dalam.
"Ck, mau kabur rupanya." Gumam Nathan dengan tersenyum kecil, gadisnya memang unik dan banyak akal membuat Nathan bisa selalu tertawa.
Setalah bisa membuka pintu, Nathan melihat Ami yang sudah terlelap dengan kebiasaan bibirnya terbuka, Nathan yang awalnya tidak suka hal yang menjijikan menurutnya, kini pemandangan Ami menjadi hal tersendiri untuknya. Entah mengapa dia suka melihat cara gadis itu tidur.
"Ck, jangan bilang dia suka liatin foto pria yang dia sebut tadi." Nathan pun meraih ponsel Ami yang tergeletak di tangannya.
Penasaran dengan apa yang Ami lihat, Nathan menghidupkan ponsel Ami, dan bibirnya langsung membentuk senyum lebar ketika melihat wajahnya menghiasai layar ponsel Istrinya.
"Dasar gadis nakal." Nathan pun menyusul untuk berbaring di samping gadis itu. "Harus diberi pelajaran, beraninya mengunci pintu." Gumam Nathan terseyum smirik, tangannya meraih kancing baju Ami dan melepasnya satu persatu.
"Em, semakin indah." Ucapnya, dengan bibir yang langsung bekerja untuk memberi pelajaran.
Jangan di bayangin, udah malem, takutnya gak bisa bobok 😩
__ADS_1