My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Keracunan


__ADS_3

Ami dan kedua temannya sudah sampai di pinggiran kota sejak satu jam lalu, mereka sudah membantu anak-anak yang ingin belajar mengenal huruf dan angka.


Disana mereka sangat antusias menyambut kedatangan gadis yang mau berbaik hati membantu anak-anak mereka untuk belajar.


Tak lama sebuah mobil boks datang mengantar makanan yang Ami pesan.


"Anak-anak, bapak, ibu semuanya kebetulan hari ini kami ingin berbagi sedikit untuk semua kita yang ada disini." Ucap Ami dengan senang, karena melihat banyaknya warga yang juga antusias. "Dan kami akan membagikan makanan untuk kita semua, tidak ada terkecuali semua akan mendapatkannya."


"Yeeyyy.." Anak-anak disana begitu senang, mendengar makanan yang akan mereka dapatkan.


Semua berjalan tertib dengan berbaris, Ami membagikan satu persatu dibantu Olive dan juga Loli.


Semua begitu senang Ami mendapatkan ucapan terima kasih dan doa.


"Alhamdulillah sudah mendapat semua." Ami berucap syukur melihat semua makan dengan lahap, meskipun hanya nasi kotak tapi mereka begitu bahagia.


"Mi, udah semua kan tapi ini tinggal satu." Ucap Olive yang membawa satu kotak saja.


Ami menatap kotak yang di bawa Olive, tak lama keryawan pengantar pun datang.


"Maaf, mbak ini ada tambahan dari restoran kami khusus untuk mbak yang sudah memesan banyak." Karyawan pria mengulurkan satu kotak untuk Ami.


"Makasih mas." Ami menerimanya, dan pria itu pun pergi dengan mobil yang meninggalkan pinggiran kota tempat pemukiman warga.


"Oya Mi katanya tidak jauh dari sini ada pembangunan katanya sih." Ucap Loli yang pernah lewat daerah situ karena rute rumah dan sekolahnya melewati jalan pinggiran kota.


"Oya, mungkin orang kaya yang ingin membangun hotel dan swalayan." Jawab Ami santai, mereka duduk di bawah pohon yang ada kursi panjang.


"Buat kamu aja Lol, gue males makan nasi." Ami mengulurkan kotak yang tadi dia pegang.


"Tapikan itu khusus buat kamu Mi." Jawab Loli yang tidak enak.


"Ck, terima aja lagian terserah gue dong mau kasih ke siapa." Jawab Ami cuek.


"Udah gih makan, aku laper." Olive sudah membuka kotak nasi miliknya.


"Beneran buat gue Mi?" tanya Loli sekali lagi.


"Iya, gue malah pengen makan yang seger-seger tapi apa ya." Ucap Ami nampak berpikir.


Olive mengerutkan keningnya. "Mi, lu kayak orang ngidam tau nggak." Ucapan Olive membuat Loli mendelik.


"Kamu ngaco Liv, mana ada Miami ngidam emangnya dia udah nikah." Loli menatap Olive tidak percaya.

__ADS_1


Ami menatap tajam Olive. "Berisik.." Ucapnya dengan penuh peringatan, Olive hanya menyengir karena lepas bicara.


"Sorry.." ucapnya tanpa suara.


Ami sedikit menjauh dari kedua temanya, karena Ia ingin menelpon suaminya.


Sedangkan Olive dan Loli asik memakan jatah mereka.


"Halo sayang, ada apa?" Tanya suara di seberang sana membuat Ami terseyum.


"Tidak ada hanya saja aku ingin_"


"Loli..!!" Olive berteriak membuat Ami menoleh.


"Loli.." Ami berlari mendekati Loli yang kejang-kejang.


"Halo..Halo.. sayang." Nathan melihat ponselnya yang sudah mati.


"Nat mau kemana?" Tanya Ando yang sejak tadi berada diruangan Nathan.


"Nyusul istri gue, sepertinya ada masalah." Nathan langsung menyambar jasnya dan keluar dari ruangannya di ikuti Ando.


"Gue ikut." Ando pun mengikuti Nathan yang akan menemui Istrinya.


.


.


Tak lama mobil yang dikendarai pak Husein sampai dirumah sakit terdekat.


"Tolong pasien darurat." Olive berteriak, dan petugas rumah sakit langsung membantu Loli dibaringkan di ranjang pasien.


Loli dorong menuju UGD agar langsung mendapat penanganan.


"Mi." Olive memeluk Ami, keduanya masih menagis.


"Apa Loli keracunan? tapi kenapa hanya Loli." Ucap gumam Ami yang didengar Olive.


Keduanya duduk di kursi tunggu, sedang-kan pak Husein menerima telepon sedikit agak jauh dari kedua gadis itu.


"Mi, apa mungkin ada seseorang yang sengaja." Tanya Olive dengan mengusap wajahnya yang basah. "Coba kamu pikir, kita semua memakan makanan yang sama dan aku juga tidak apa-apa, tapi Loli, dia memakan makanan dari kamu." Mata Olive membulat sempurna. "Jadi sasarannya seharusnya kamu."


Deg

__ADS_1


Ami mematung, jadi seharusnya dirinya yang mengalami keracunan.


"Mi, siapa yang tega melakukan itu."


Ami mengusap air matanya, "Gue gak tau Ol, gue merasa bersalah sama Loli.


"Sayang.." Nathan sedikit berlari untuk menghampiri sang Istri.


"By." Ami berdiri dan langsung memeluk Nathan. "Loli By, Loli keracunan." Ucap Ami terisak di dekapan Nathan. "Semua gara-gara aku."


Nathan mencium pucuk kepala Ami dan mengelus kepalanya. "Sttt, tenang ya kamu tidak boleh stres." Nathan mencoba menenangkan istrinya agar tidak stres karena kata dokter Istrinya tidak boleh stres.


"Seharusnya aku yang berada di sana By, seharusnya aku yang memakan makanan itu."


Deg


Jantung Nathan seakan diremas. "Maksud kamu apa sayang?" Nathan menangkup kedua sisi wajah istrinya.


Ami tersedu, "Kami sedang berada di pinggiran kota dan_" Ami menceritakan apa yang terjadi dengan detail, dirinya merasa bersalah karena memberikan makanan khusus untuknya kepada Loli.


Nathan mengepalkan tangannya kuat, rahangnya mengeras mendengar Ami bercerita. Dan Nathan sudah menyimpulkan jika korban seharusnya Istrinya, dan kini orang lainlah yang menyelamatkan istirnya.


"Ndo, lu urus masalah ini, dan cari siapa dalang dibalik semua ini." Ucap Nathan dengan Ando yang duduk disamping Olive. Ando juga meminta Olive untuk menceritakan kejadian awalnya.


Ceklek


Tak lama pintu UGD terbuka, dokter keluar di dampingi suster.


"Dokter bagaimana keadaan teman kami." Tanya Ami yang langsung mendekati dokter itu.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya, beruntung anda cepat membawa kemarin jadi kami bisa mengeluarkan racun yang belum menyebar di tubuh pasien, jika tidak pasien pasti sudah tidak tertolong." Tutur dokter itu, membuat Ami menutup mulutnya.


"Sabar sayang, teman kamu sudah melewati masa kritisnya." Nathan memeluk istrinya, dia khawatir jika Ami berpikir terlalu berat yang bisa berdampak pada kandungannya, Nathan tidak mau itu terjadi.


"Berikan perawatan yang bagus untuk pasien dok," Ucap Nathan yang sedikit lega, selain istrinya yang lolos dari marabahaya dan keadaan Loli sudah melewati masa kritis.


"Kami akan usahakan pak." Dokter itupun pamit, dan suster memindahkan Loli keruang rawat inap.


"By, aku tidak tahu jika aku yang ada di sana." Ami menatap sendu wajah suaminya. Tuhan masih menyayanginya hingga lolos dari maut, tapi sekarang Loli temanya yang menjadi imbasnya.


"Sst, kamu akan baik-baik saja, kalian tidak akan kenapa-kenapa." Nathan memeluk istrinya erat.


"Maudy, kali ini aku tidak akan memaafkanmu." Ucap Nathan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2