
Ami sampai di cafe Nongki-Nongki milik Zian, jam menunjukan pukul sebelas siang dan Ami sudah sampai sana dengan pakaian seragamnya.
"Loh, Ay. kok udah sampe sini? kamu bolos?" Tanya Dila yang memang kerja dari pagi sampai malam, gadis berusia sembilan belas tahun itu pekerja inti di cafe Zian.
Ami hanya menyengir, dengan wajah di buat seimut mungkin. "Ngak bolos mbak, cuma libur aja." Jawab Ami dengan tersenyum.
"Terus ngapain ke sini, jam kerja kamu kan masih nanti jam tiga." Tanya Dila lagi menatap wajah Ami memincing.
"Heee..mau ikut kerjalah, lumayan buat tambahan dihari libur." Kilahnya dengan tertawa.
"Ck, dasar. Yaudah gih ganti baju pengunjung juga lumayan rame, beruntung kamu dateng dijam segini." Dila pun ikut tertawa.
__ADS_1
Ami bergegas untuk mengganti serangannya dengan pakaian pelayan di cafe itu, gadis itu kembali ceria dengan pekerjaan yang akan mengalihkan kekesalannya pada Nathan.
Bekerja dengan sepenuh hati dan perasaan senang tidak akan membuat Ami merasa lelah justru gadis itu semakin bersemangat untuk lebih giat bekerja lagi. Tempat kerja yang nyaman juga Ami rasakan di cafe milik Zian, rekan kerjanya yang ramah dan solid, membuat Ami betah, dan dirinya tidak perlu lagi mencari pekerjaan sampingan karena gaji yang dia terima cukup besar dan membuat Ami merasa puas lelahnya terbayar.
Tidak diberi fasilitas dan tidak diberi uang sama sekali, padahal kewajiban suami adalah memberi nafkah lahir dan batin kepada sang Istri. Tapi Ami berbeda karena pernikahan mereka hanya sebatas diatas kertas dengan syarat.
Setelah bekerja lumayan lelah karena cafe ternayata hari ini cukup ramai, mungkin saja karena tanggal muda jadi banyak pengunjung yang datang ke cafe.
Ting
"Ay, kamu dimana?" Pesan dari Zian membuat Ami geleng kepala, dirinya ingat jika tadi Zian memebantunya untuk melerai perkelahiannya dengan Nesya dan Ami meninggalkan Zian tanpa kata.
__ADS_1
"Di cafe, lumayan nanti minta tambahan bayaran dan si bos." Balas Ami di ikuti emot tertawa sambil menangis.
Ting
Zian langsung membalas pesan yang Ami kirimkan.
"Tidak masalah, bos akan mengAcc."
Ami hanya tertawa dan geleng kepala, dirinya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku tidak berniat membalas pesan Zian lagi, karena pengunjung mulai datang kembali.
Tidak di pungkiri jika Ami mulai menerima Zian yang berada di sekelilingnya, Zian pria yang baik lagi pula Ami juga bekerja di cafe milik Zian kakak kelasnya yang sekarang menjadi teman. Zian memang masih pelajar tapi cowok itu memiliki bisnis cafe yang lumayan maju, ada tiga cabang di pusat kota dan semua juga mengalami perkembangan lebih baik.
__ADS_1
Jika saja Ami seperti Zian pasti dirinya akan sangat senang, tapi dirinya cukup sadar diri, jika tuhan menciptakan manusia dengan porsi rezeki masing-masing dan kehidupan yang tentu saja berbeda.
Dan Ami salah satu orang yang beruntung bisa menikmati hidup normal meskipun tidak berkelimang harta tapi dirinya memiliki limpahan kasih sayang dari sang bunda yang membuatnya semangat dan giat untuk mencapai keinginannya. Membahagiakan orang tua adalah keinginan semua anak, dan sebaliknya orang tua juga menginginkan kebahagiaan untuk anak-anaknya, karena kasih sayang seorang ibu tidak akan putus sepanjang masa.