My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
SEASON 2~ Hawa_Awa


__ADS_3

Mario berjalan ke kasir setelah mendapatkan apa yang ingin dia beli, pria itu sesekali memeperhatikan sekitar seperti mencari sesuatu.


Sampainya di kasir, Mario melihat gadis tiga belas tahun tadi seperti sedang mencari sesuatu.


"Duh, dimana sih dompetnya?" Hawa mencari dompet kecil yang biasa dia bawa didalam tas ransel miliknya, dan sepertinya apa yang dia cari tidak ada.


"Buruan dek, mau bayar tidak!" Ucap penjaga kasir yang sepertinya sudah kesal karena Hawa lama untuk membayar padahal antrian dibelakang ada tiga orang.


Hawa menatap kasir itu dengan wajah memelas, dan menyengir memamerkan giginya yang rapi.


"Maaf kak, dompet saya_"


"Pakai ini saja." Mario menyodorkan sebuah kartu pada kasir itu.


Hawa menoleh kebelakang dengan kening berkerut. "Om lagi."


Mario hanya terseyum. "Ini Mas." kasir itu mengembalikan kartu Mario setelah melakukan transaksi, "Dan ini belanjaannya." Dua kantung kresek kasir itu berikan, bukan Hawa yang menerima, melainkan Mario. "Terima kasih." Ucap kasir itu tersenyum manis dengan pria tampan dan seperti malaikat penolong itu.


"Eh, Om itukan punyaku." Hawa mengejar langkah kaki Mario yang lebar menuju pintu keluar.


Mario berhenti dan menoleh kebelakang, tapi Hawa yang ceroboh tidak sempat mengerem kakinya yang berlari.


Bugh


"Auwss Mama.."


Mario membuatkan kedua matanya mendengar gadis kecil itu berteriak kesakitan tapi memanggil Mamanya.


"Eh, kok nangis." Mario berjongkok dan melepaskan dua kantong plastik yang dia pengang diatas lantai.


"Huwaaa Awa mau eskrim."


"What?" Mario sampai terkejut mendengar ucapan gadis didepanya.


"Katakan lagi?" Ucap Mario menyentuh kedua bahu Hawa.


"Mau eskrim." Jawab Hawa masih dengan nada menangis.


"Bukan itu, Tapi_"

__ADS_1


"Pokoknya Lika mau eskrim." Ucap Hawa dengan tegas membuat Mario mengidap wajahnya kasar.


"Oke, gue beliin eskrim." Putus Mario.


Ucapan Hawa diawal cukup membuat jantung Mario berdebar kencang.


'Awa.. apa aku tadi tidak salah dengar'


Mario berjalan sambil terus berpikir, bagaimana bisa jantungan berdebar saat dirinya seperti mendengar nama gadis kecil tujuh tahun lalu.


"Lika mau Spongebob." Tunjuk Hawa pada cup berwarna kuning yang tempatnya diujung, dan lagi-lagi tangannya tidak sampai untuk menggapainya.


Kening Mario kembali mengernyit, "Kamu suka ini?" Tanya Mario dengan penasaran.


"Hm, ini enak aku suka." Jawab Hawa dengan wajah berbinar.


"Baiklah, mau berapa?" Tanya Mario menatap wajah cantik gadis kecil didepanya.


Mario seperti seorang kakak yang sedang mengasuh adiknya. Pria itu terlihat telaten.


"Segini boleh?" Hawa menunjukkan lima jarinya pada Mario, dengan senyum lebar dan memamerkan giginya yang rapi.


"Setelah ini aku dapat apa?" Ucap Mario sambil mengambilkan lima cup eskrim Spongebob permintaan Hawa.


Mario yang melihatnya geleng kepala, "Sudahlah, kamu masih kecil." Ucap Mario dengan mengacak-acak rambut Hawa lembut.


Wajah Hawa memberengut ketika mendapat perlakuan seperti yang Mario lakukan, Hawa tidak suka.


"Kenapa masih diam, ayo ini sudah malam pasti mamamu menunggu anak gadisnya pulang." Ucap Mario menoleh kebelakang, saat menyadari Hawa masih berdiri diam.


Hawa mengehela napas dengan bibir cemberut. Mario yang melihatnya menjadi gemas.


"Pak ayo pulang." Ucap Hawa saat sudah sampai diluar supermarket.


Pak Husein pun menggaguk dan membukakan pintu mobil untuk anak majikanya.


"Pak ada uang xxx?" Tanya Hawa yang baru saja melihat Mario keluar dari supermarket.


"Ini non." Pak Husein memberikan beberapa lebar uang kertas merah pada Hawa, didalam mobil Ami memang disediakan uang jika suatu-waktu dibutuhkan seperti Hawa sekarang.

__ADS_1


Hawa kembali keluar dari mobil, dan menghampiri Mario yang berdiri disamping mobilnya.


"Om."


Mario yang akan membuka pintu diurungkan dan menoleh kesamping.


"Kenapa belum pulang?" Tanya Mario dengan heran, padahal gadis itu sudah lebih dulu keluar.


"Ini." Hawa menyerahkan uang yang dia minta pada pak Husein tadi.


Mario tersenyum, "Tidak usah, untuk kamu saja." Tolak Mario mendorong tangan Hawa yang mengulurkan uang.


Hawa menatap wajah Mario lekat, sedangkan Mario melakukan hal yang sama.


"Sini Hawa bisikin." Ucap Hawa sambil melambaikan tangannya agar Mario menuduk.


Otak Mario kembali berpikir.


'Sini Awa bisikin.'


Sayup-sayup suara kecil itu kembali menggema di telinganya.


Cup


"Terima kasih Om sudah baik hati pada Hawa."


Deg


Jantung Mario berdebar kencang, kehidupan sekitar seperti berhenti saat gadis itu mencium pipinya.


Hawa tersenyum manis, dan sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum pergi dan kembali masuk kedalam mobilnya.


Mario yang masih syok dengan kepadanya, tidak menyadari jika gadis yang sudah berani menciumnya untuk kedua kali sudah pergi dari hadapannya.


Ya, Mario yakin jika gadis kecil itu, adalah anak kecil yang menciumnya tujuh tahun lalu."


"Sial!"


Mario baru sadar, setelah mobil yang ditumpangi Hawa tidak ada.

__ADS_1


Bergegas masuk kedalam mobil, Mario mengejar mobil yang ditumpangi Hawa, mobil yang membawa gadis kecil yang sudah mencuri hatinya.


"Hawa, Awa.. Ya aku yakin itu kamu." Matanya berbinar dengan bibir yang tersenyum, Mario tidak menyangka akan bertemu kembali pada anak kecil perempuan yang pertama kali mencium pipinya selain Mamanya.


__ADS_2