My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Honeymoon


__ADS_3

Tidak bisa dipungkiri jika, kehidupannya selalu berwarna dengan sang Istri. Nathan yang datar dan dingin menjadi hangat, meskipun hanya pada orang terdekat saja, tapi itu sudah membuat perubahan bagi kedua orang tuanya yang melihat.


Sore hari Nathan baru sampai diaparteman, di hari ini pulang lebih cepat, entah mengapa kepalanya mendadak pusing dan Nathan hanya ingin istirahat ditemani sang Istri.


Besok rencana kepergiannya untuk honeymoon, dia sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari, sampai membuat Istrinya ngambek karena hampir tidak ada waktu. Dan hari ini Nathan begitu leleh.


"By, kamu sudah pulang." Ami yang melihat Nathan datang langsung menyambut, gadis itu mengambil jas dan tas dari tangan Nathan. "Kamu kenapa? sakit?" Tanya Ami yang melihat wajah Nathan lesu dan pucat.


"Kepalaku pusing sayang." Ucap Nathan yang langsung menjatuhkan tubuhnya dikursi.


Ami menaruh jas dan Nathan diatas meja kecil dekat dapur, gadis itu mengambil sesuatu dari dapur.


"Minum dulu." Ami membawakan air hangat madu untuk suaminya.


Nathan menegakkan tubuhnya lalu meminumnya dari tangan Ami.


"Masih sakit." Jemari lentik Ami memijat pelan leher belakang Nathan, dan kepalanya untuk mengurangi rasa sakit yang Nathan rasakan.


"Em, lebih baik sayang."


Nathan merebahkan kepalanya di atas pangkuan Ami, pria itu memejamkan mata.


"Apa banyak pekerjaan, sampai membuatmu seperti ini." Ucap Ami yang menatap wajah Nathan dengan mata terpejam, pria yang biasa kuat itu kini sedang tidak baik-baik saja.


"Lumayan," Perlahan Nathan membuka kedua matanya. "Besok kita bernagkat jam sepuluh, jangan lupa." Bibir pucatnya menyunggingkan senyum tipis.


"Jika kamu sakit, lebih baik kita tunda saja honeymoon kita." Jawab Ami yang merasa kasihan dan tidak tega, Nathan sudah bekerja keras sampai seperti ini.


"Tidak, aku sudah merencanakan ini jauh hari." tangan Nathan menyentuh pipi Ami, pria itu menatap wanitanya dengan penuh cinta.


"Tapi by keadaan kamu_"


"Sstttt, aku baik-baik saja. Hanya butuh sesuatu." Ucap Nathan menatap wajah Ami penuh arti.


Ami mengernyitkan keningnya, "Apa? Apa yang kamu inginkan?"


Nathan terseyum, senyum yang membuat Ami melotot.


"Dasar mesum.!" Ami memukul pelan bahu suaminya.


"Percayalah sayang, itu obat yang paling manjur."


Ami memutar kedua bola matanya malas, "Kalau semua orang sakit seperti kamu, aku yakin dokter di dunia ini tidak akan laku." Ami mengerucutkan bibirnya tajam.


Nathan tertawa, "Bagus dong, jadi tidak ada yang ketergantungan minum obat." Nathan menoel hidung Ami, dari bawah. "Ayolah sayang, mumpung masih sore." Rayu Nathan dengan menduselkan wajahnya keperut rata Ami.


"Byy, ish geli." Ami mendorong kepala Nathan sambil tertawa.


Nathan yang jail pun memasukkan kepalanya kedalam kaus yang Ami pakai, dan kini Nathan bisa bersentuhan langsung dengan kulit Ami.

__ADS_1


"Byy, udah geli." Ami masih tertawa karena Nathan belum berhenti membuatnya kegelian.


"Tidak, sebelum kamu Ami memberikan obat merek bercinta dulu." Ucap Nathan membuat Ami melotot.


"Kamu mesum By."


Ami yang tidak tahan dengan sensasi geli yang dibuat Nathan akhirnya menyerah, pria itu langsung terseyum lebar sehat kembali.


"Satu ronde, tidak lebih." Ucap Ami bernegosiasi.


Jika Nathan sudah menyentuh tubuhnya, maka tidak hanya cukup sekali, dan sekarang Ami memberi penawaran.


"Ya, satu ronde untuk sore, dan dilanjutkan malam nanti."


"Emph.."


Nathan langsung menyerang bibir Ami, keduanya saling bertukar saliva, kegiatan panas dengan dalih obat merek bercinta, Nathan sungguh membuat Ami gila.


.


.


Seperti yang dikatakan Nathan, kedua sepasang suami-istri yang sudah satu tahun lebih menikah itu akhirnya merasakan honeymoon untuk pertama kali keluar negeri, setelah pernah menghabiskan waktu dua hari di hotel hadiah pemberian papa Allan.


"Kamu suka pemandangannya?" Tanya Nathan yang memeluk istrinya dari belakang, Ami menatap pemandangan kota dari balkon kamar hotel tempat mereka menginap.


Nathan membawa sang istri ke Sebuah negara besar yang terdapat di wilayah Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Negara ini dikenal sebagai negara transkontinental atau negara lintas benua.


Ami terseyum lebar. "Suka By, coba saat kita kesini aku masih sekolah, pasti mereka tidak percaya jika aku pergi ke negara yang romantis dengan balon terbang." Ucap Ami antusias.


Nathan terkekeh. "Cappadocia sayang, bukan balon terbang." Nathan juga ikut menatap lurus kedepan dimana mereka bisa melihat indahnya kota Turki dimalam hari.


Terlihat pemandangan yang sangat indah dipandang. Bangunan masjid biru sultan Ahmed Istanbul.


.



Keduanya menikamati malam pertama mereka dengan saling bercerita, Ami yang tidak menyangka akan pergi ketempat indah seperti ini, dan Nathan yang memang sudah beberapa kali kenegara ini, hanya saja kali ini berbeda karena sebelumnya hanya untuk perjalanan bisnis dan sekarang dia bersama sang istri yang tidak Nathan duga.


"By, boleh aku mengatakan sesuatu." Ami berbalik dan menatap wajah suaminya dengan senyum manis terbaik yang dia miliki.


"Senyummu aku suka sayang, tapi tidak dengan dibalik senyuman yang kamu tunjukkan, karena aku merasa ada sesuatu yang akan membuatku keberatan." Ucap Nathan membuat Ami mendelik tidak percaya.


"Kamu cenayang yang bisa baca pikiran?" Tanya Ami dengan tatapan mengamati ekspresi Nathan.


Jujur Nathan ingin melesakkan tawanya melihat sang istri yang memasang wajah seperti itu, membuatnya gemas ingin mengigit.


"Katakan? apa kamu cenayang?" Tanya Ami lagi dengan ekspresi wajah yang masih sama.

__ADS_1


Nathan membuang napas kasar. "Katakan apa yang ingin kamu katakan?" Nathan kembali membalikkan tubuh Ami, agar membelakanginya dan dengan senang hati Nathan memeluk tubuh yang menghangatkannya itu dari belakang erat.


"Em, aku ingin ketemu Serkan dan Eda." Ucap Ami dengan pelan, tapi bibirnya melengkungkan senyum.


"Siapa mereka, apa pembisnis sukses di negara ini, atau seorang yang_"


Ssstt


Ami menempelkan jari telunjuknya di bibir Nathan, dengan kepala miring menatap wajah suaminya kesal. "Sejak kapan, aku mengidolakan pembisnis." Ketus Ami. "Pembisnis yang aku tahun hanya Nathan Adhitama, selebihnya bairlah Tuhan yang tahu."


Kini Nathan yang tertegun mendengar ucapan Istrinya.


"Lalu siapa yang kamu maksud." Tanya Nathan lagi mencoba untuk bersabar.


"Lihatlah ini."


Ami menunjukan foto diposelnya.


.



.


Nathan membulatkan matanya, bagaimana bisa istirnya menyimpan foto pria lain, selain dirinya.


"Namanya Kerem Bursin." Ucap Ami terseyum, matanya berbinar.


"Tidak." Nathan langsung menyambar ponsel yang Ami pegang, lalu menghapus foto pria yang dia sebut tadi.


"Byy, kenapa dihapus." Ami menatap Nathan kesal.


Tanpa memperdulikan ucapan Istrinya Nathan mengotak atik ponsel Ami, dan menghapus foto-foto yang menurutnya tidak baik untuk disimpan.


"Byyy..." Ami merengek.


"Jangan pernah menyimpan foto pria lain selain diriku, ingat kamu hanya milikku dan sebaliknya."


Seketika wajah Ami ditekuk, "Kamu nyebelin Byy."


Ami hendak meninggalkan Nathan, tapi tangan pria itu lebih gesit dan langsung membopong tubuh Ami, dibawanya masuk kedalam dan berdiri didepan cermin.


.



Ami yang memegang ponsel mengabdikan dengan foto.


"Good girl, lakukan tugasmu dengan baik dan memuaskan, maka aku akan kabulkan permintaanmu."

__ADS_1


Emph..


__ADS_2