
"Mungkin bagimu melahirkan normal akan mudah, tapi kamu tidak tahu bagaimana aku yang melihat kamu kesakitan menunggu setiap waktu bukaan sampai sempurna, kamu tidak tahu bagaimana takutnya aku jika terjadi sesuatu dengan kamu dan mereka saat proses melahirkan." Ucap Nathan yang sudah berubah menatap Ami sendu. Pria itu hanya takut dan tidak tega melihat Ami yang kesakitan, apalagi menurut yang dia baca di situs khusus ibu melahirkan, ibu hamil yang akan melahirkan bisa merasakan mulas hingga sakit perut menjelang melahirkan hingga dua puluh empat jam, dan itu membuat Nathan tidak sanggup untuk membayangkan, apalagi melihatnya langsung. Meskipun rasa sakit itu naluriah dan umum pada menjelang melahirkan, jika memang tidak tega dan tidak bisa mau bagiamana lagi. Kalau kata orang aleman.
Ami hanya diam, dia mencerna ucapan Nathan barusan.
Nathan menggenggam tangan Ami, membuat Ami menatap wajahnya.
"Percayalah, tidak ada wanita sempurna hanya karena bisa melahirkan normal, dan tidak ada kata wanita tidak sempurna hanya karena melahirkan dengan cara operasi. Percayalah, semua wanita di dunia ini sempurna,hanya saja pendapat orang yang berbeda-beda membuat banyak asumsi dengan kata wanita sempurna."
Ami terseyum, "Hem, terima kasih By." Ami masuk dalam pelukan Nathan, wanita itu beruntung memiliki suami yang mengerti seperti Nathan, meskipun diawal dia ingin kekeh melahirkan normal, tapi mendengar semua yang Nathan katakan, kekhawatiran dan kecemasan pria itu terlihat dikedua sorot matanya, jika Nathan mencintainya begitu besar hingga tidak ingin terjadi sesuatu padanya dan buah hati mereka.
"Percayalah sayang, apapun demi kebaikanmu." Ucap Nathan lagi dengan mencium pucuk kepala dan mengelus rambut Ami.
"Aku percaya By." Ami mengeratkan pelukannya.
Nathan mengurai pelukannya, dan menatap Ami dengan senyum. "Bukankah sebentar lagi twins akan lahir?" Tanya Nathan pada sang Istri.
"Masih tiga bulan lagi By, kenapa?" Tanya Ami yang heran, karena suaminya tidak akan lupa tentang hal itu.
"Em, lalu kenapa kamu tidak berbelanja perlengkapan twins." Tanya Nathan lagi dengan ekspresi heran.
Jika biasanya seorang ibu akan sangat antusias untuk berbelanja tapi ini Istrinya masih santai.
"Ck, apa kamu tidak tahu jika Mama sudah memborong satu toko perlengkapan bayi untuk twins." Ucap Ami dengan mengehela napas.
Nathan malah mengernyitkan keningnya. "Mama?"
__ADS_1
"Ya, Mama bilang gini," Ami bersiap untuk menirukan gaya bicara ibu mertuanya itu. "Ay, sayang. Besok kamu tidak usah belanja keperluan twins, Mama sudah menyiapkan satu toko perlengkapan untuk twins dan akan dikirim ke rumah setelah usia kandunganku delapan bulan." Tutur Ami menirukan gaya bicara ibu mertuanya. "Dan bilang juga sama suamimu, jagan lupa untuk mengganti biaya administrasi." Tambah Ami lagi membuat Nathan mendelik.
"Lah, kok pake biaya administrasi?" Ucap Nathan yang tidak mengerti.
"Suamiku sayang, membeli barang itu pakai apa?" Tanya Ami dengan menatap Nathan serius.
"Uang lah, emangnya daun." Jawab Nathan cepat.
"Nah, begitu juga Mama. Membeli pakai uang." Ucap Ami lagi memperjelas.
Nathan membulatkan kedua matanya. "Ish, apa Mama itu tidak sayang sama cucunya, beli barang pakai perhitungan." Gerutu Nathan yang tidak habis pikir.
Nathan berbaring dan menaruh kepalanya dipangkuan sang Istri. Wajahnya menghadap keperut buncit Ami, merasakan pergerakan si kecil.
"Kata Mama, untuk apa kamu cari uang terus, kalau tidak digunakan dengan baik," Jawab Ami menyampaikan ucapan Mama mertunya. "Lagi pula uang kamu kan banyak, jadi Mama hanya memulihkan saja selebihnya Hubby yang bayar." Ami merenges memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih, wanita itu tersenyum lebar.
"Sayang boleh papa menengok kalian?" Ucap Nathan dengan menempelkan bibirnya pada perut Ami, tapi pertanyaannya ditujukan untuk sang Istri.
"Ck Modus." Ami mencebik menatap wajah Nathan yang tersenyum menyeringai.
"Papa sudah lama tidak menengok kalian," Ucap Nathan terseyum.
"Heleh bokis." Cibir Ami ketus.
"Ck, kalau tidak percaya tanya gih sama Reader, kapan terakhir kita kikuk-kikuk." Nathan memainkan alisnya naik turun.
__ADS_1
Ami melirik Nathan sinis, "Mereka selalu penasaran dengan yang namanya kikuk-kikuk, katanya bikin haredang.." Lanjut Nathan dengan senyum mesumnya.
Bugh
Ami memukul lengan suaminya, "Haredang apa, yang ada nambah dosa, karena cuma bisa baca." Cibir Ami dengan ketus.
"Setidaknya mereka bisa berfantasi, siapa tahu mereka juga langsung minta jatah sama pasangannya."
Ami membulatkan kedua matanya, ucapan Nathan benar-benar tidak difilter, "Kamu mesum, By. Bikin Reader memiliki pikiran mesum."
Nathan tertawa, dirinya langsung bangun dan duduk disamping Istrinya.
"Ayolah sayang, twins ingin dijenguk." Wajah Nathan memelas, seperti orang yang tidak sudah lama tidak dikasih jatah.
"By, jangan bikin aku malu." Ami terseyum malu-malu.
"Kenapa harus malu, mereka suka melihat kita kikuk-kikuk."
Lagi-lagi Ami memukul dada Nathan, suaminya itu sekarang bertambah mesum.
"Setelah melahirkan twins kamu puasa By." Ucap Ami dengan meledek.
"Tidak apa, asalkan sekarang aku dapat jatah." Nathan mengelus pipi Ami, ibu jarinya merambat pada bibir tipis yang sedikit terbuka.
Perlahan Nathan mendekatkan kepalanya pada wajah Ami, dan bibir keduanya menyatu dengan lembut, Nathan memangut bibir yang terasa manis itu.
__ADS_1
"Engh.."