My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Kabur yang berakhir panas


__ADS_3

Ando yang juga merasa bersalah ikut mengejar Nathan.


Nathan melihat kesekiling, tidak ada lagi gadis yang di kejar, padahal baru saja keluar tidak mungkin gadis itu sudah masuk lift.


"Sial..!!" Nathan mengusap rambutnya kebelakang, wajahnya nampak kesal dan juga marah, kenapa harus lari dan tidak bertanya.


"Nat.." Ando datang dengan napas yang sedikit cepat.


"Brengsek lu.." Nathan mendorong dada Ando dengan kuat.


"Gue gak tau, kalau dia denger, Sorry." Ando merasa bersalah, dirinya akan jelaskan jika gadis itu hanya salah paham.


Nathan menatap Ando tajam, dan kembali keruanganya dengan kesal bercampur marah.


"Ck, bocil kenceng juga larinya." Ando memilih untuk masuk ke dalam lift, siapa tahu masih bisa melihat gadis itu di bawah.


Ami menghela napas, dirinya bersembunyi di balik ruangan kosong yang dekat dengan pintu lift.


"Dasar pria-pria ngak punya perasaan." Gerutunya dengan wajah kesal. Apalagi mengingat pembicaraan mereka tadi, meskipun hanya Ando yang bicara tapi Nathan hanya diam saja tanpa mau menjawab.


Ami membuka pintu pelan, mengintip sedikit dan tidak ada siapa-siapa.


"Kabur ah." Ucapnya yang tersenyum.


Baru membuka pintu di dikejutkan dengan pria yang sudah berdiri tegap di depannya dengan wajah datar.


"O-Om." Ami menelan ludah kasar, bagaimana bisa dia ketahuan sedang bersembunyi.


"Mau kabur?" Nathan melipat kedua tangannya di dada, bersandar pada pinggiran pintu dengan santai.


Nathan yang tadinya ingin mencari Ami kebawah tiba-tiba dia ingat jika ponselnya tertinggal di dalam dan dia kembali untuk melihat dimana keberadaan gadis itu, dan terbukti Nathan menemukannya.

__ADS_1


"Kabur? pengennya, tapi udah ketahuan." Ami menatap Nathan dengan wajah masam.


"Ck," Nathan pun langsung menarik tangan gadis itu untuk kembali masuk ke ruanganya.


"Jangan ada yang boleh masuk keruangan ku." Ucap Nathan ketika melintasi sekertarisnya.


"Baik pak." Sinta mengaguk.


"Om, mau apa lagi." Ami berontak, ketika di paksa kembali masuk ke dalam ruangan Nathan.


Klik


Pintu besar ruangan Nathan terkunci, dan pelakunya adalah Nathan sendiri.


"Apa yang kau dengar." Nathan mendekati Ami yang berdiri dengan melipat tangannya di dada.


"Apa? aku tidak mendengar apapun." Ketusnya dengan melirik Nathan sinis. Pria itu menatap wajahnya intens membuat Ami sedikit salah tingkah karena jarak yang terlalu dekat.


"J-jangan tatap aku seperti itu." Ami memalingkan wajahnya, dan menutup dengan menggunakan tangannya.


Ami pun menoleh dan melihat Nathan yang sudah duduk.


"Kemarilah." Nathan merentangkan satu tangannya, agar Ami mendekat.


"Tidak mau." Tolaknya dengan wajah sedikit takut.


"Kemari, atau aku paksa." Nathan bicara tegas, membuat nyalinya menciut, apalagi melihat tatapan tajam matanya.


Mau tidak mau Ami mendekati Nathan yang duduk.


Bruk

__ADS_1


"Om, ihh..aku mau duduk sendiri." Ami menggoyangkan tubuhnya yang berada di pangkuan Nathan, pria itu sengaja menarik tangan Ami.


"Katakan jika kamu tidak percaya apa yang sudah kamu dengar, karena itu memang tidak benar." Ucap Nathan lagi dengan membelai wajah Ami yang menatapnya.


Ami tidak menjawab, dirinya menatap kedua bole mata Nathan untuk mencari kebohongan, tapi tidak di temukan.


Ami menunduk dengan menghela napas dalam. Ucapan Ando tadi masih begitu basah untuk dia ingat.


"Percayalah, tidak ada taruhan dan tidak ada apapun yang aku sembunyikan." Tangan Nathan meraih dagu Ami untuk saling menatap.


"Apa aku pantas untuk di jadikan taruhan, kalau iya berapa besar nilai taruhan gadis sepertiku."


Pletak


"Auwss..sakit Om, lama-lama aku bisa geger otak." Ami mengusap keningnya yang kembali mendapat sentilan jari besar Nathan.


"Tidak ada nilainya, meskipun dia sudah mendapatkan mobil mahal." Kesal Nathan yang mendegar ucapan konyol gadisnya. "Kamu tidak ada harganya di mata orang lain, tapi sangat berharga untukku."


Setelah mengatakan itu Nathan menyatukan bibir keduanya kembali, pria itu melumatt dalam benda kenyal bergantian.


Ami yang masih mengingat ucapan Nathan merasa hatinya seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan dia begitu senang hanya karena mendengarkan ucapan Nathan barusan.


Tangan Ami melingkar di leher Nathan, gadis itu sudah pandai membalas pangutan bibir Nathan.


"Sudah pintar." Gumam Nathan, terseyum sekilas. Dan kembali melumatt benda kenyal yang sudah membuatnya candu, Ami cukup sebentar menghirup udara dan dia kembali diserang dengan cumbuan lebih dalam dan menuntut.


"Om, emph." Tumbuhnya mulai gelisah, ketika merasakan bok*ngnya mengganjal sesuatu yang keras, dan Ami tahu apa yang sedang keras dibawah sana.


Nathan semakin memperdalam tautan bibirnya, tangannya perlahan masuk ke dalam kaus yang Ami pakai dai bawah.


"Ssh Om." Ami bergumam dengan bibir Nathan yang tidak lepas. Rasa panas tiba-tiba menjalar di tubuhnya, ketika tangan Nathan menyentuh kelembutannya.

__ADS_1


"Aku menyukai ini." Nathan menyingkap kaus yang Ami pakai hingga sampai dada, dan terlihat dua kelembutan, yang masih terdapat bercak merah baru yang Nathan buat.


"Semakin bulat." Gumamnya dengan tersenyum menyeringai menatap wajah Ami yang sudah sayu.


__ADS_2