My Husband Om-Om

My Husband Om-Om
Nathan yang lega


__ADS_3

Nathan yang frustasi belum menemukan istirnya berada dimana, semua rumah dan tempat sudah dia datangi tapi tidak ada yang tahu di mana Istrinya berada.


Drt... Drt.. Drt...


Ponselnya berdering, Nathan segera meraih dengan harapan sang istri yang menelpon.


"Ck.." Nathan berdecak wajahnya yang semula penuh harap kini kembali lesu.


"Halo, Sin."


"...."


"Ada apa? saya masih dijalan." Nathan menatap lurus kedepan sambil menerima panggilan dari sekertarisnya.


"Ya sudah saya kekantor."


Nathan mengehela napas dalam, niatnya ingin pulang kerumah Mamanya untuk menyatakan keberadaan Ami, tapi mendadak ada metting yang harus dia hadiri, karena Ando sedang keluar untuk bertemu klien.


Dan seharusnya yang menemui klien adalah Nathan sendiri, tapi karena Istrinya menghilang Nathan meminta Ando untuk menggantikannya.


Mobil mewahnya membelah jalan kota, sepanjang jalan menuju kantor Nathan sambil mengamati jalan yang dia lewati siapa tahu dia melihat istrinya.


Pukul tiga sore Nathan kembali kekantor, pria itu langsung menemui klien dan sekertarisnya di ruang metting.


"Beliau yang ingin bertemu bapak dari CV Grub." Ucap Sinta, yang memperkenalkan klien Nathan.


Nathan menerima kedatangan kliennya seperti biasa, pria itu akan membicarakan pokok dalam berbisnis dengan Adhitama Grub, butuh waktu mereka berbincang mengenai pekerjaan. Hingga tanpa sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam.


Ami mengerjapkan kedua matanya, mengamati dimana dia sekarang berada.


"Ck, bodoh gue sampe ketiduran." Ucapnya yang langsung beranjak masuk kamar mandi.


Niatnya tadi hanya ingin mengisi daya ponselnya yang kehabisan baterai, tapi dirinya malah kebablasan tertidur. Bahkan tidurnya cukup lama membuat tubuhnya merasa pegal.


Setelah mencuci wajah dan menuntaskan hajatnya, Ami kembali duduk dipinggir ranjang, dan menghidupkan ponselnya yang tadi memang mati saat dia cas.


"Lah, udah kayak tukang kredit." Gumam Ami yang melihat banyak rentetan pesan yang masuk ke ponselnya, dan banyak panggilan tak terjawab dari suaminya.


Ceklek


Jemarinya ingin mengetik pesan balasan untuk sang suami, tapi keburu mendengar pintu terbuka.

__ADS_1


Nathan membelalakkan matanya melihat istrinya yang duduk di ranjang.


"Sayang kamu disini.." Nathan langsung berjalan cepat menghampiri Ami dan memeluknya.


Hatinya merasa lega, rasa frustasi dan lelah beberapa jam yang lalu sudah menghilang berganti dengan rasa bahagia.


"Aku mencarimu kemana-mana, dan ternayata kamu disini." Nathan terseyum bahagia melihat istrinya tidak pergi, wajah Ami tak luput dari kecupan bibir Nathan karena merasa bahagia.


"Byy, Emph." Kecupan dibibir membuat Ami diam.


"Maaf sayang, aku tidak bermaksud membuatmu kecewa, aku sungguh mencintaimu." Kedua tangan Nathan menangkup wajah Ami, kedua mata mereka bertemu. "Kamu percayakan sama aku." Nathan dengan tatapan sendu menatap dalam kedua bola mata Ami, pria itu berharap istrinya tidak akan marah karena dia masih menyimpan foto Sena, dan berdampak pada rumah tangganya, rasa takut menyeruak kedalam dada ketika Ami hanya diam dengan tatapan datar wanitanya tidak mengatakan sesuatu.


"Sayang, maafkan aku." Nathan Kembali berucap dengan wajah penyesalan pria itu benar-benar takut jika Ami kecewa dan marah.


Pluk


"Kamu waras by..?" Ami menempelkan punggung tangannya di kening Nathan, gadis itu menampakkan wajah bingungnya. "Tapi tidak panas." Ucapnya lagi yang bergantian menyentuh leher Nathan.


"Kamu tidak marah?" Tanya Nathan yang merubah raut wajahnya bingung. Karena dia pikir Ami akan marah melihat foto wanita lain di kantornya.


Ami menggeleng. "Marah untuk apa?" Tanya Ami balik, yang juga merasa bingung.


"Dari tadi ponsel kamu mati, dan kata Sinta kamu datang kesini, aku tidak melihat kamu di kantor, dan_dan aku malah melihat bingkai foto Sena yang bersanding dengan foto mu sayang, aku pikir kamu marah dan pergi." Tutur Nathan panjang lebar.


"Apa? tidur?"


Ami menengguk lagi.


"Ya Tuhan." Nathan mengusap wajahnya kasar. "Jadi aku sudah seperti orang gila mencarimu kesna kemari karena takut kamu marah dan pergi, tapi kamu malah_" Nathan tidak lagi melanjutkan ucapanya. Dirinya langsung menyerang bibir Ami hingga tubuhnya berada di atas tubuh Ami.


"Emph.." Ami memukul dada Nathan, ketika semakin lama pasokan oksigen dirinya habis.


"Hah..hah.. kamu mau membunuhku." Tatapan Ami berubah tajam napas gadis itu memburu.


"Ya, karena kamu sudah membuatku gila."


"Emph.." Ami kembali dibuat tak berkutik, ketika kedua tangannya di kunci tangan Nathan diatas kepala, gadis itu hanya pasrah menerima serangan mendadak dari sang suami.


"Maaf, jangan pernah membuatku takut." Nathan menatap lekat wajah Ami, napas gadis itu tererengah-engah dengan dada naik turun.


Jemari Nathan mengusap pipi wanita yang begitu dia cintai yang berada dibawah lingkungannya.

__ADS_1


"Aku tahu aku salah, masih menyimpan foto itu, tapi percayalah aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya, jadi jangan pernah menghilang dari pandangan mataku."


Nathan kembali mendekatkan bibirnya, ciuman kali ini begitu lembut, namun menuntut.


Ami tidak menjawab, dia tahu jika hati Nathan sudah ada dirinya sepenuhnya, bahkan pria itu begitu besar mencintainya, dirinya tidak menyangka jika ulahnya tadi mampu membuat Nathan merasa kehilangan secara tidak sengaja Ami menguji perasaan Nathan yang sesungguhnya.


Tautan bibir keduanya terlepas, tatapan keduanya begitu sayu.


"Terima kasih sudah mencintaiku." Ami terseyum manis.


Cup


Ami mengecup bibir Nathan sebentar, tapi Nathan tidak menyia-nyiakan kesempatan, pria itu menahan tengkuk Ami untuk memperdalam cumbuannya.


Berawal dari rasa takut dan penyesalan, kini keduanya sedang merengkuh kenikmatan yang tiada tara, memadu cinta dengan saling memberi dan memuaskan hanya dengan itu mereka menyatu dan melebur jadi satu.


.


.


.


"Bang, aku ingin membuatkan pesta untuk Nathan dan Ayana." Ucap Indira yang sedang bersandar didada suaminya.


Tangan Allan mengelus kepala Istrinya lembut, Istri yang sudah setia menemaninya selama tiga puluh tahun. Rasa cintanya tidak berubah justru Allan merasa cintanya semakin besar kepada Indira.


"Terserah kamu sayang, yang terpenting mereka setuju." Allan mengecup pucuk kepala istirnya.


"Em, jika Abang menyetujui. Aku akan bicarakan dengan mereka."


Indira mendongak, menatap wajah suaminya yang sudah berumur namun masih tetap tampan, meskipun tubuhnya tidak sekekar dulu.


"Em, terserah padamu saja." Allanaro menatap wajah istrinya, bibirnya tersenyum dengan tatapan yang begitu lekat.


"Kenapa menatapku seperti itu." Indira yang merasakan tatapan beda suaminya merasa aneh.


"Tidak, aku hanya merasa pria paling beruntung memiliki kamu." Tangan yang berada di bahu indira kini berganti mengelus pipi yang mulus dan masih kencang itu.


"Dan aku juga wanita paling beruntung menikahi om mesum seperti kamu." Bibir Indira tersenyum manis, senyum yang Nathan sukai dan tidak pernah berubah.


"Ya, dan kamu adalah gadis bar-bar yang kuat dan tegar"

__ADS_1


Allan mengajukan wajahnya untuk menggapai bibir yang sudah menjadi candunya selama tiga puluh tahun lebih, rasanya masih sama-sama dan semakin memabukkan.


__ADS_2